Gadis Desa dan Malaikat Tak Bersayap

background_desa_2
Restu Alpiansah

Perjalanan ku ke sebuah desa yang sangat terpencil

Tempat yang berada jauh dari jalan raya

Tempat yang bebas polusi knalpot kendaraan

Tempat yang masih masih polos karena masih belum tersentuh kotoran industri asing

Disana………

Kupijakkan kakiku yang lemah ini

Menelusuri jalan tanah yang tak beraspal

Membuat kaki ku yang lemah ini semakin tak berdaya untuk mengingatnya

Tuhan………..

Itu adalah ciptaan terindahmu bagiku

Tak ada yang sia sia untuk engkau ciptakan di dunia ini

 

Kupaksa kaki ku yang lemah ini untuk menelusuri jalan yang berbatu itu

Aku paksa………. aku paksa….

Agar aku segera bisa mencapai tujuan yang ingin aku capai

Di otakku ini sudah terbayang dengan jelas bahwa akan seperti apa pendopo yang nantinya aku hampiri

Sudah bisa aku bayangkan…

Dan……. ternyata untuk saat ini tebakkan ku tidak salah kaprah

Tepat sekali…. bayangan ku mengenai tempat tujuan ku sama dengan apa yang awalnya menempel di otakku…

Ya……… tempatnya sesuai dengan tebakanku

Tempatnya masih sangat sederhana..

Atapnya telah lusuh dimakan usia

Dindingnya sudah seperti ingin roboh

Serta lantainya sudah banyak di hiasi dengan lubang-lubang yang seharusnya tak ada di dalam sebuah ruamah…

Hem……….. aku terdiam sejenak

Oh tuhan…….. tempat ini ………..

Ternyata masih banyak orang di luar sana yang rumahnya tak semegah rumahku di sana

Aku ingin menangis… tapi harus kutahan air mata ini

Mereka saja sangat kuat menahan cobaan ini

Kenapa aku yang harus menangis?

Tuhan………

Di desa terpencil itu…

Tempat yang sangat terpelosok

Terdapat seorang gadis cantik yang menjadi primadona desa

Cantik bukan lah satu –satunya alasan ia bisa menjadi artis desa

Namun sepertinya hanya ia yang mampu bersekolah setinggi ini

Ia mampu menginjakkan kakinya di bangku kuliah

Yang mana sangat sulit sekali untuk di tempuh oleh masyarakat yang berada di sekitarnya

Oh tuhan hidupnya ternyata sangat sempurna terlepas dari keadaan ekonomi yang kurang mendukung membelenggu kehidupannya

Aku sungguh takjub kepada nya….

Luar bisa ternyata dirinya itu…

Ia adalah anak bungsu di keluarganya

Sudah bisa di tebak… Kalau 2 kakaknya tidak bersekolah

Aku bilang tadi……. Hanya dia yang mampu bersekolah

Di topang oleh Beasiswa yang telah ia dapatkan semenjak bangku SMA dulu

Syukurlah tuhan………. Engkau sungguh maha pemurah

Tak pernah terdiam melihat hambanya yang sedang duduk termenung menghadapi kesusahan

Sungguh……. engkau maha besar ……….

***

Kembali lagi ke cerita ku yang tadi

Sesampai ku dan dia di kampung halamannya……

Oh sungguh sambutan keluarganya sungguh luar biasa…

Bukannya terlalu melebihkan cerita ini, namun sungguh penyambutannya lebih meriah daripada penyambutan seorang presiden…

Ia dipeluk sang bunda

Ia dipeluk sang nenek

Ia dipeluk sang kakak

Tetangganya pun tak ingin kalah memeluk gadis cantik ini

Tuhan…….. Sungguh begitu banyak orang yang mencintainya

Semua orang di tempat itu menyayanginya…

Sedangkan aku di tempatku yang ku anggap mewah

Aku belum yakin kalau semua orang yang ada disana akan menyayangiku seutuhnya seperti apa yang ku temukan kemarin di desa yang ku anggap terpelosok itu…

Aku anggap rumahku indah… Namun kasih sayang tak sesempurna dia yang aku dapatkan

Sedangkan ia… Aku anggap pendopo kurang layak untuk aku tempati namun kasih sayang tak pernah lepas dari dirinya…

Tuhan memang adil

Ia tak akan pernah membiarkan hambanya terlalu terlena dengan kemewahan dunia

Manusia memang tak ada yang sempurna

Meskipun aku sedikit kurang setuju dengan kata-kata itu

Karena menurutku semua manusia itu sempurna

Karena ia merupakan ciptaan tuhan yang paling indah di jagat raya ini

Lantas… Dengan mengatakan tak ada manusia yang sempurna di dunia ini   seolah-olah merendahkan ciptaan tuhan…….

Ah…….. itu hanya pendapatku saja

Bukan untuk engkau turuti kawan

Setiap orang punya hak untuk bepedapat

Jadi aku pun punya hak untuk berpendapat

Menyampaikan keluh kesah ku yang sudah lama ku pendam selama ini

 

Astaga……… kemana aku bicara?

Astaga maafkan… aku sudah telalu jauh membicarakan topik yang seharusnya

Maafkan………

Mari kembali ke desa

Di tempat itu

Aku duduk bersila

Duduk ditempat yang seadanya

Tuan rumah dilluar sana begitu sibuk menyiapkan segalanya

Ternyata ia mempersilahkanku untuk makan

Tuhan….

Sungguh baik mereka

Namun hatiku pada saat itu entah kemana tergbaangnya

Aku tak ada selera untuk makan

Sungguh aku tak peunya rasa lapar untuk menyantapi hidangan mewah itu

Hatiku hanya ingin menagis menyaksikan itu semua

Sungguh……. aku ingin menangis

Ku bilang aku kenyang

Aku tak ingin makan

Namun apa daya, tuan rumah memaksaku untuk makan

Aku jadi tak enak.. aku takut ia salah paham

Aku takut ia menduhku tidak menyukai hidangannya

Ah…. kuambil saja piring putih polos itu

Ku ambil sendiri nasi yang ada bertengger di depanku

Lalu ku ambil sedikit saja

Sungguh….. Cuma beberapa butir saja

Karena aku tak ingin mengecewakan sang tuan rumah yang telah bersusah payang menyiapkan ini semua untukku

Aku tak ingin mengecewakan mereka semua

Aku tak sanggup

Hidangan itu

Mungkin adalah hidangan termewah yang pernah mereka hidangkan

Kalalu tamu tak datang mungkin mereka tak akan pernah memakan hidangan selezat itu

Oh tuhan…. Namamu tak aka pernah lupa untuk aku lafazkan

 

***

Selesai menikmati hidangan kami

Kami lanjutkan dengan pembicaraan ringan

Yang ringan saja

Hanya untuk menyegarkan badan

Setelah beberapa jam badan ini terpakai untuk berjalan menelusuri tempat ini

Di sela pembicaraan kami

Si gadis cantik menagis

“kalian masih beruntung punya bapak,sedangkan aku?”

Oh tuhan… dada ini kembali merinding

Aku lupa menceritakannya di awal tadi

Si gadis cantik tak punya ayah

Ayahnya sudah meninggal beberapa waktu yang lalu

Oleh karena itu

Semenjak meninggalnya sang bapak

Sang ibu menekuni dua peran ganda

Satu sebagi bapak dan satu lagi sebagai ibu

Satu sisi di sebagai bapak

Maka secara otomatis dialah yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga

Ia pergi berkuli banting tulang

Untuk mencari nafkah bagi dirinya dan anak-anaknya

Termasuk pula untuk sang gadis cantik

Satu kata yang bikin aku menagis yang kuluar dari bibirnya yang sudah mulali menua itu

“anak ku tak usah ikut bekerja dengan ku, ia hanya aku inginkan belajar saja disana, menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya… ia tak usah menuruti jejakku.. ia tak boleh berkuli seperti diriku.. ia cukup belajar saja… bagiku itu lebih berat di banding kuliku ini.. aku ingin anakku sukses.. menjadi pegawai bank yang termashyur di desa ini”

Plek…………….

Dadaku kembali sesak

Ku tahan napasku sedikit kemudian ku hembuskan pelan pelan

Agar aku bisa bernafas dengan baik

Aku hampir tak mampu bernafas mendengar kata kata itu

Itu adalah kata mutiara yang terbaik yang pernah aku dengar selama ini

Bukan kata-kata mutiara dari George Bush..

Bukan Barack Obama

Bukan Hillary Clinton

Bukan Susilo Bambang Yudhoyono

Bukan siapapun yang mungkin engkau anggap hebat

Bagiku ibu sang gadis adalah orang yang pantas aku sebut pahlawan untuk sang gadi cantik

***

Ketika kami hendak berangkat menjalani tugas

Astaga aku kembali lupa menceritakkannya kepada kalian

Aku berangkat ke tempat itu untuk wawancara kepada masyarakat desa

Wawancara untuk menyelesaikan salah satu karyaku

Nah… kembali lagi ke cerita semula

Setelah ingin pergi

Ia menodongkan tangan kehadapan ibunya untuk meminta rupiah

Wajah ibunya sedikit pucat

Namun tampakknya berusaha untuk di sembunyikan agar tak ketahuan anaknya

Dikeluarkannya satu lembar uang berwarna merah

Cuma itu yang ia punya

Itupun upah yang baru saja ia ambil dari sang majikan

Dan sekarang upah itu akan langsung berpindah tangan

Ke tangan sang anak

Dengan sangat ikhlas sang ibu memberikannya kepada sang gadis

Tak ada beban.. tak ada persaan berat..

Meskipun hanya itu yang ia punya

Namun mungkin baginya itu bukanlah apa apa

Yang pentingnya anak nya bahagia dan tetap bisa berkuliah

Oh tuhan

Aku kembali ingin meneteskan air mata ini

Aku sudah tak mampu menahannya

Tapi apakah aku harus menagis ?

Oh tuhan tidak …

Setelah memberikan selembar uang merah itu

Sang ibu kembali bertanya kepada anak bungsunya itu

“apa lagi yang kau inginkan nak? Sebut… biar ibu bisa langsung menyediakannya!”

Plek………..

Oh tuhan… aku ragu ia manusia

Apakah ia malaikat?

Apakah ia malaikat oh tuhan?

Dadaku ini semakin tersayat

Aku kembali ingin menagis …

Oh ya tuhan..

Sang anak pun kembali menjawabnya dengan segelontor permintaan

Minta ini …. minta itu….

Oh tuhan… sang ibu dengan khusyuk mendengarkan peermintaan anaknya

Kalau bisa tak usah sampai ada yang terlewatkan dari kupingnya

Sementara sang gadis begitu bersemangat mengkoarkan kebutuhannya kepada sang ibu

Setelah paham benar dengan permintaan anaknya

Tanpa aba-aba

Sang ibu langsung melesat keluar mencari kebutuhan sang gadis

Entah bagaimana caranya aku tak tahu

Yang jelas setelah kembali ke tempat sang ibu telah membawakan segala permintaan sang gadis

Apakah pikiran kita sama?

Kira kira perntayaan apa yang ingin engkau sampaikan?

Ya… pertanyaan yang ingin aku sampaikan adalah

“alat transaksi apa yang ia gunakan untuk membeli barang itu?”

Sedagkan lembaran satu-satunya yang ia miliki sudah diberikan semua kepada sang gadis

Apakah ia pergi berhutang?

Mudah mudahan tidak

Aku berharap tebakan ku yang satu ini meleset

Jangan sampai benar

Namun kalau sampai benar?

Oh tuhan…. ternyata berbagai macam cara dapat dilakukan seorang ibu untuk membahagiakan anaknya

Ia rela mengemis ketempat orang untuk berhutang

Agar mampu memenuhi kebutuhan anaknya

Oh tuhan….

Aku tak tahan menuliskan ini lagi

Aku ingin berhenti saja

Air mata ini tak bisa ku bendung

Aku tak tahan

***

 

Tak ingin aku bekerja setengah – tengah

Akan aku lanjutkan pekerjaan ku dengan sempurna

Agar cerita tentang pengorbanan seorang ibu ini mampu untuk aku ungkapkan kepada anda semua

Agar anda tahu semua

Apa sebenarnya yang terjadi di balik topeng yang dipakai ibu kita sekarang ini

Ya toopeng aku menganggapnya

Topeng tegar….

Topeng senyum…

Dan toopeng sok bahagia

 

Kegiatan intipun segera kita akan lakukan

Beres – beres semua kebutuhan wawancara

Disela-sela kesibukan kami

Sang ibu berkata ingin ikut

Katanya sambilan ingin pergi ke rumah nenek

Awalnya aku percaya… tapi…..

Sang gadis berkata kepada ibunya

“tapi bu, aku kan goncengan dengan temanku?”

Sang ibu meenjawab” oh kalau begitu ibu jalan saja, dekat kok?”

Hah jalan?? Sedangkan kami saja yang muda akan bermotor

Hati ini tak tega

Langsug ku cegah

“ajak saja ibu… biar Nadya nanti bersamaku”

Iapun sutuju…

Ibu Cuma terdiam ….

Sesampai di tempat

Kami pun langsung beraktifitas

Mewawancarai kepala desa yang menjadi objek kami saat itu

Kami masuk ke tempat pak Kades

Sang ibupun ikut masuk

Padahal kata nya ingin kerumah nenek

Tapi……..?

 

Setelah selesai kami pun kembali berkeliling

Mencari sumber yang dapat memberikan informasi mengenai tema kami

Syukurlah …

Perjalanan kami tak sia-sia

Banyak sumber yang dengan sangat ikhlas memberikan informasi yang kami butuhkan

Terimakasih ku ucapkan kepada seluruh warga desa

Terimakasih atas semua bantuannya….

 

Oh…….. lelah juga ternyata badan ini

Namun kami harus segera kembali ke MATARAM

Ke tempat singgasana kami

Kami pun bersiap siap untuk pulang

Sebelum pulang kami pamitan kepada semua warga desa

Mereka sungguh ramah

Sungguh baik

Oh tuhan…

Meskipun mereka kurang dalam hal ekonomi

Namun ada hal yang ia kaya… namun orang kaya miskini itu…

Keramahan

Kebaikan

Keikhlasa

Itu semua mereka miliki

Namun orang kaya di kota belum tentu memilikinya

 

Setelah siap untuk berangkat

Sang gadis berpamitan kepada sang ibu

Tak ketinggalan…..

Di cium pipi ibunya dengan tulus

Oh sungguh mesra mereka

Aku cemburu

“ibu jadi ke nenek?”

“oh iya…. besok saja”

“terus ibu pulang pakai apa?”

“nanti ibu jalan saja”

“oh jangan bu!!” sahutku dengan spontan

Sang gadis pun kemballi membawa ibu nya ke rumah

Setelah sampai di rumah

Kami lepas ibu di depan pondoknya

Kami pun langsung pulang menyusuri jalan yang pernah aku ceritkan tadi kepadamu

Di upuk barat sana mentari sudah tampak kemerah-merahan

Sebentar lagi ia akan tenggelam

Malam akan segera datang

Ku tengok sang ibu lewat spion motorku

Ia melambaikan tangannya kepada sang anak

Aku tersenyum

Aku bahagia melihatnya

Sayang sekali… sang gadis tak melihat lambaian itu

Kami berangkat

Kami berjalan untuk pulang

Pohon pohon dan sawah di samping kanan dan kiri kami seolah olah menyampaikan salam kepada kami

Ternyata….

Sang ibu bohong…

Ia tak ada niat untuk pergi mengunjungi nenek…..

Ia sungguh mulia

Ia harus memastikan anak gadisnya berjalan di jalan yang benar

Di tempat yang benar

Ia tak berniat mengujungi nenek ternyata

Aku baru sadar……

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s