PENGELOLAAN KEUANGAN BLU PONDOK PESANTREN NURUL HAKIM KEDIRI LOMBOK BARAT NTB

UNRAMWARNA
UNIVERSITAS MATARAM

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Organisasi nirlaba atau organisasi non profit adalah suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal di dalam menarik perhatian publik untuk suatu tujuan yang tidak komersil, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter). Organisasi nirlaba meliputi gereja, sekolah negeri, derma publik, rumah sakit dan klinik publik, organisasi politis, bantuan masyarakat dalam hal perundang-undangan, organisasi jasa sukarelawan, serikat buruh, asosiasi profesional, institut riset, museum, dan beberapa para petugas pemerintah. (Wikipedia.org)

Karakteristik organisasi nirlaba berbeda dengan organisasi bisnis. Perbedaan utama yang mendasar terletak pada cara organisasi memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas operasinya. Organisasi nirlaba memperoleh sumber daya dari sumbangan para anggota dan para penyumbang lain yang tidak mengharapkan imbalan apapun dari organisasi tersebut.[1]

Dengan melihat perbedaan mendasar antara organisasi nirlaba dengan organisasi lainnya (profit oriented) mulai dari perolehan sumber daya hingga aktivitas operasinya, maka pengelolaan organisasi nirlaba, khususnya pengelolaan keuangan, tentunya akan berbeda. Oleh karena sumber daya yang diperoleh oleh organisasi nirlaba didapatkan dari masyarakat luas, timbullah tuntutan pada organisasi nirlaba untuk menerbitkan laporan keuangan sebagai bentuk output pengelolaan keuangan. Meskipun pemberi sumber daya atau donatur tidak mengharapkan pengembalian dari donasinya, namun laporan keuangan tersebut dapat menjadi bentuk pertanggungjawaban dan transparansi organisasi nirlaba tersebut kepada para donatur, masyarakat, pemerintah atau pihak yang berkepentingan lainnya dalam mengelola sumber daya tersebut.

Untuk mengakomodir tuntutan tersebut, maka diterbitkanlah PSAK 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba. Standar ini mengatur dan memberi pedoman dalam tata cara pengelolaan pelaporan organisasi nirlaba. Manajemen organisasi nirlaba harus mempertanggungjawabkan sumbangan atau dana yang telah diterima dari berbagai pihak berupa laporan keuangan karena Menurut PSAK No.45 bahwa organisasi nirlaba memperoleh sumber daya dari sumbangan para anggota dan para penyumbang lain yang tidak mengharapkan imbalan apapun dari organisasi tersebut. Untuk pihak internal tujuan laporan keuangan adalah untuk mengetahui situasi keuangan yang ada dalam organisasi tersebut, sedangkan untuk pihak eksternal bertujuan untuk mengetahui apakah dana yang ada telah dipergunakan dengan baik dan terlampir dalam laporan keuangan organisasi tersebut. (Cintokowati, 2010). Dengan adanya standar ini, laporan keuangan organisasi nirlaba diharapkan dapat mudah dipahami, relevan dan dapat dibandingkan.

Resha (2014, Universitas Jember) dalam skripsinya yang berjudul “Rekonstruksi Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba Pada Yayasan

Pendidikan Islam Indocakti Malang Berdasarkan Psak Nomor 45” menunjukkan bahwa laporan keuangan yang diterapkan oleh Yayasan Pendidikan Islam belum sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 45 dan klasifikasi mengenai pendapatan, beban dan aktiva bersih tidak disajikan dalam laporan keuangan. Hasil yang sama ditunjukkan pula oleh Pontoh dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan Laporan Keuangan Organisasi Nirlaba BerdasarkanPsak No 45

Pada Gereja Bzl”. Penelitian tersebut menunjukkan Gereja Bukit Zaitun menyusun laporan keuangan sesuai dengan Tata Dasar dan Peraturan Gereja hal ini berarti Gereja Bukit Zaitun belum menerapkan penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan format laporan keuangan nirlaba yang ada dalam Pernyataan Standar Akuntansi No. 45.

Sebagai negara dengan mayoritas muslim, persebaran organisasi nirlaba yang berfokus pada pendidikan Islam di seluruh Indonesia dapat dikatakan sangat pesat. Dikutip dari laman Republika.co.id (19/7/2011), Kepala Pusat Pengembangan Penelitian dan Pendidikan Pelatihan Kementerian Agama H. Abdul Jamil mengatakan bahwa jumlah santri pondok pesantren di 33 provinsi di seluruh Indonesia mencapai 3.65 juta yang tersebar di 25.000 pondok pesantren. Sedangkan, menurut Data Forum Kerjasama Pondok Pesantren se-NTB tahun 2011, jumlah pondok pesantren mencapai 559 unit. Dengan melihat jumlah yang signifikan tersebut, tak salah jika bentuk pertanggungjawaban berupa laporan keuangan yang terstandar, dalam hal ini sesuai dengan PSAK 45, menjadi hal yang penting untuk dikeluarkan oleh pondok pesantren yang ada. Hal ini mengingat dengan banyaknya pondok pesantren yang ada di NTB, maka besar jumlah donatur ataupun jumlah donasi dari masyarakat yang terserap untuk pengelolaannya. Adapun laporan keuangan untuk organisasi nirlaba menurut PSAK 45 terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan aktivitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut berbeda dengan laporan keuangan untuk organisasi bisnis pada umumnya.

Salah satu pondok pesantren yang cukup besar di Provinsi NTB, khususnya Pulau Lombok ialah Pondok Pesantren Nurul Hakim. Pondok pesantren ini berlokasi di salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Barat yang dijuluki kota santri, yaitu Kediri. Pondok pesantren ini sudah mulai berdiri selama 67 tahun sejak pertama kali berdiri tahun 1948. Pondok pesantren ini mulai dirintis pada tahun 1924 oleh Alm. TGH. Abdul Karim. Kepemimpinan selanjutnya dilanjutkan oleh keturunan Beliau hingga saat ini.

Cakupan Pondok pesantren ini pun tidak dapat dikatakan kecil. Pondok pesantren Nurul Hakim memiliki lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, ditambah lagi dengan panti asuhan yang dikelola dibawah Pondok Pesantren Nurul Hakim.

Dengan melihat cakupan yang dikelola oleh Pondok Pesantren Nurul Hakim, tentunya donatur ataupun donasi yang terserap untuk pengelolaannya tidaklah sedikit. Hal tersebut semakin menambah tuntutan adanya pengelolaan keuangan yang baik yang ditunjukkan dengan laporan keuangan yang terstandar atau sesuai dengan PSAK

45.

1.2 Perumusan Masalah

  1. Bagaimanakah pengelolaan keuangan yang dilakukan organisasi nirlaba Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim?

1.3 Tujuan

Laporan ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan keuangan pada Organisasi
Nirlaba Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim, Kediri, Lombok Barat, apakah telah
sesuai dengan PSAK 45 yang mengatur tentanga Pelaporan Keuangan Organisasi
Nirlaba.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PSAK No.45 Akuntansi Organisasi Nirlaba

Di Amerika Serikat (AS), Financial Accounting Standard Board (FASB) telah menyusun standar untuk laporan keuangan yang ditujukan bagi para pemilik entitas atau pemegang saham, kreditor, dan pihak lain yang tidak secara aktif terlibat dalam manajemen entitas bersangkutan namun memiliki kepentingan.

FASB juga berwenang untuk menyusun standar akuntansi bagi entitas nirlaba nonpemerintah, sementara US Government Accounting Standard Board (GASB) menyusun standar akuntasi dan pelaporan keuangan untuk pernerintah pusat dan federal AS.

Di Indonesia, Pemerintah membentuk Komite Standar Akuntasi Pemerintah. Organisasi penyusun standar untuk pemerintah itu dibangun terpisah dari FASB di AS atau Dewan Standar Akuntansi Keuangan-Ikatan Akuntan Indonesia di Indonesia karena karakteristik entitasnya berbeda. Entitas nirlaba tidak mempunyai pemegang saham atau semacamnya, memberi pelayanan masyarakat tanpa mengharapkan laba, dan secara khusus untuk entitas pemerintah mampu memaksa pembayar pajak untuk mendukung keuangan pernerintah tanpa peduli bahwa imbalan bagi pembayar pajak tersebut memadai atau tidak memadai.

2.2 Organisasi Nirlaba

Organisasi nirlaba atau organisasi non profit adalah suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal di dalam menarik perhatian publik untuk suatu tujuan yang tidak komersil, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter).Organisasi nirlaba meliputi gereja, sekolah negeri, derma publik, rumah sakit dan klinik publik, organisasi politis, bantuan masyarakat dalam hal perundang-undangan, organisasi jasa sukarelawan, serikat buruh, asosiasi profesional, institute riset, museum, dan beberapa para petugas pemerintah.

2.3 Ciri-ciri Organisasi Nirlaba

Organisasi nirlaba memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Sumber daya entitas. Sumber daya entitas berasal dari para penyumbang yang tidak mengharapkan pembayaran kembali atau manfaat ekonomi yang sebanding dengan jumlahsumber daya yang diberikan.
  2. Menghasilkan barang/jasa tanpa bertujuan menumpuk laba. Menghasilkan barang/jasa tanpa bertujuan menumpuk laba, kalau suatu entitas menghasilkan laba, maka jumlahnya tidak pernah dibagikan kepada para atau pemilik entitas tersebut.
  3. Tidak ada kepemilikan seperti lazimnya pada organisasi bisnis. Tidak ada kepemilikan seperti lazimnya pada organisasi bisnis, dalam arti bahwa kepemilikan dalam organisasi nirlaba tidak dapat dijual, dialihkan atau ditebus kembali atau kepemilikan tersebut tidak mencerminkan proporsi pembagian sumber daya entitas pada suatu likuidasi atau pembubaran entitas. (Hasana,

2011)

2.4 Tujuan Laporan Keuangan

Dalam buku A Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT), seperti yang dikutip dan diterjemahkan oleh Harahap (2007:126) merumuskan empat tujuan laporan keuangan:

  1. Membuat keputusan yang menyangkut penggunaan kekayaan yang terbatas dan untuk mencapai tujuan
  2. Mengarahkan dan mengontrol secara efektif Sumber Daya Manusia dan faktor produksi lainnya
  3. Memelihara dan melaporkan pengamanan terhadap kekayaan
  4. Membantu fungsi dan pengawasan sosial

Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan untuk memenuhi kepentingan para penyumbang, anggota organisasi, kreditor, dan pihak lain yang menyediakan sumber daya bagi organisasi nirlaba.

2.5 Unsur-Unsur Laporan Keuangan Organisasi Nirlaba

Akuntansi organisasi nirlaba meliputi bentuk laporan keuangan dan nama-nama rekening berdasarkanpola PSAK No.45. Unsur-unsur laporan keuangan berdasarkan PSAK No.45.

  1. Laporan posisi keuangan

Laporan posisi keuangan merupakan nama lain dari neraca pada laporan keuangan lembaga komersial. Laporan ini memberikan informasi mengenai besarnya aset atau harta lembaga dan sumber perolehan aset tadi (bisa dari hutang atau dari aktiva bersih) pada satu titik tertentu. b. Laporan aktivitas

Laporan aktivitas berisi dua bagian besar yaitu besaran pendapatan dan biaya lembaga selama satu periode anggaran. Pendapatan digolongkan berdasarkan restriksi atau ikatan yang ada. Sedangkan beban atau biaya disajikan dalam laporan aktivitas berdasarkan kriteria fungsional, dengan demikian beban biaya akan terdiri dari biaya kelompok program jasa utama dan aktivitas pendukung. c. Laporan arus kas

Laporan arus kas menunjukkan arus uang kas masuk dan keluar untuk suatu periode. Periode yang dimaksud adalah periode sama dengan yang digunakan oleh laporan aktivitas. Penyajian arus kas masuk dan keluar harus digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu sebagai berikut.

1) Aktivitas Operasi

Dalam kelompok ini adalah penambahan dan pengurangan arus kas yang terjadi pada perkiraan yang terkait dengan operasional lembaga. Contoh yang mempengaruhi arus kas operasi adalah sebagai berikut.

  • Surplus atau defisit lembaga (datanya diambil dari laporan aktivitas).
  • Depresiasi atau penyusutan (karena depresiasi dianggap sebagai biaya, namun tidak terjadi uang kas keluar) setiap tahun.
  • Perubahan pada account piutang lembaga.
  • Account (perkiraan buku besar) lain seperti: persediaan, biaya dibayar di muka dan lain-lain.

2) Aktivitas Investasi

Termasuk dalam perkiraan ini adalah semua penerimaan dan pengeluaran uang kas yang terkait dengan investasi lembaga. Investasi dapat berupa pembelian/penjualan aktiva tetap, penempatan/pencairan dana deposito atau investasi lain. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah :

  • Pembayaran kas untuk membeli aset tetap, aset tidak berwujud, dan aset jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aset tetap yang dibangun sendiri;
  • Penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan, dan peralatan, serta asset tidak berwujud dan asset jangka panjang lain.
  • Aktivitas Pendanaan

Termasuk dalam kelompok ini adalah perkiraan yang terkait dengan transaksi berupa penciptaan atau pelunasan kewajiban hutang lembaga dan kenaikan/penurunan aktiva bersih dari surplus-defisit lembaga.

Transaksi lain yang mengakibatkan perubahan arus kas masuk dan keluar dalam kelompok ini adalah sebagai berikut.

  1. Penerimaan kas dari penyumbang yang penggunaannya dibatasi untuk jangka panjang.
  2. Penerimaan kas dari sumbangan dan penghasilan investasi yang penggunaannya dibatasi untuk perolehan, pembangunan dan pemeliharaan aktiva tetap atau peningkatan dana abadi.
  3. Bunga, deviden yang dibatasi penggunaannya untuk jangka panjang.
  4. Catatan atas laporan keuangan

Catatan atas laporan keuangan, merupakan bagian yang tidak terpisah dari laporan-laporan di atas. Tujuan pemberian catatan ini agar seluruh informasi keuangan yang dianggap perlu untuk diketahui pembacanya sudah diungkapkan.

2.6 Penelitian Terdahulu

Pontoh (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan Laporan Keuangan Organisasi Nirlaba Berdasarkan Psak No 45 Pada Gereja Bzl” melakukan evaluasi terhadap penerapan PSAM No 45 pada sebuah organisasi nirlaba yaitu Gereja Bukit Zaitun. Hasil dan kesimpulan dari penelitian ini adalah laporan keuangan yang ada di Gereja Bukit Zaitun menyusun laporan keuangan sesuai dengan Tata Dasar dan Peraturan Gereja hal ini berarti Gereja Bukit Zaitun belum menerapkan penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan format laporan keuangan nirlaba yang ada dalam Pernyataan Standar Akuntansi No. 45.Laporan Keuangan yang diterbitkan untuk setiap Jemaat berupa Laporan Realisasi anggaran, yang dalam PSAK No.45 adalah laporan aktivitas.Gereja tidak menyajikan laporan posisi keuangan, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Laporan realisasi anggaran memberikan informasi saldo kas yang ada disetiap jemaat pada setiap akhir periode.

Untuk fix asset atau harta tetap dan juga perlengkapan kantor yang dimiliki Jemaatjemaat di Gereja Bukit Zaitun informasinya disajikan dalam laporan inventaris.

Ayu (2014) juga mengangkat topik pengaplikasian PSAK No.45 pada organisasi nirlaba pada penelitiannya yang berjudul “Rekonstruksi Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba Pada Yayasan Pendidikan Islam Indocakti Malang

Berdasarkan Psak Nomor 45”. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh gambaran tentang sistem pencatatan dan kebijakan akuntansi dalam pelaporan keuangan yang diterapkan oleh Yayasan Pendidikan Islam Incdocakti Malang dan agar dapat menganalisa bagaimana proses akuntansi dalam mempersiapkan laporan keuangan dari entitas yang diteliti serta membandingkan dengan ketentuan yang lazim sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 45. Hasil dari penelitian ini adalah, laporan keuangan yang diterapkan oleh Yayasan Pendidikan Islam belum sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 45 dan klasifikasi mengenai pendapatan, beban dan aktiva bersih tidak disajikan dalam laporan keuangan.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Metode atau jenis penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskriptifkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu biasanya berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena yang lainnya.

3.2. Tehnik dan Alat pengumpulan Data

Tehnik dan alat pengumpulan data dalam makalah ini sangat berpengaruh penting untuk memperoleh data yang akurat tentang organisasi yang terkait. Ada tiga teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

  1. Studi Pustaka

Studi pustaka merupakan suatu teknik untuk mendapatkan data teoritis yang memperoleh pendapat para ahli teorinya melalui sumber bacaan. Penulis memperoleh data dengan membaca buku, membaca internet, artikel, dan referensi lainnya yang didapatkan yang berkaitan dengan judul yang diangkat oleh penulis yaitu yang berhubungan dengan badan layanan umum dan hal-hal yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan materi tersebut.

  1. Observasi

Observasi diartikan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Penelitian lapangan ini dilakukan dengan cara meninjau langsung objek penelitian yaitu pondok pesantren NURUL HAKIM Kediri, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat untuk memperoleh data.

  1. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpuln data yang dilakukan dengan proses tanya jawab yang dilakkukan secara langsung antara pewawancara dengan informan atau responden (Sugiono dalam Rianto, 2007:42).

3.3. Jenis dan Sumber Data

3.3.1. Jenis data

Data yang digunkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Data Kualitatif yaitu data yang berhubungan dengan kategorisasi, karakteristik berwujud pernyataan atau berupa kata-kata. Data ini biasanya didapat dari wawancara dan bersifat subjektif sebab data tersebut ditafsirkan lain oleh orang yang berbeda. (Riduan, 2003:5-7)
  2. Data Kuantitatif yaitu data yang berhubungan dengan angka-angka, dalam hal ini kami menggunakan data keuangan organisasi untuk mengolah data menjadi informasi.

3.3.2. Sumber data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Data primer yaitu data yang berasal dari sumber asli atau pertama. Data ini tidak tersedia dalam bentuk terkompiliasi ataupun dalam bentuk file-file. Data ini harus dicari melalui nara sumber atau dalam istilah teknisnya responden, yaitu orang yang kita jadikan objek penelitian atau orang yang kita jadikan sebagai sarana mendapatkan informasi atau data. (Namirawati, 2008:98).

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Profile Entitas/Organisasi

Pimpinan Sekarang

         1. Nama                         : TGH. Shafwan Hakim

  1. TTL                       : Kediri Lobar, 11 Juni 1947
  2. Alamat            : Karang Bedil Kediri Lombok Barat NTB.
  3. Riwayat Pendidikan :
a. Sekolah Rakyat : Tahun 1959
b. PGA : Tahun 1963
  1. SP IAIN                                  : Tahun 1965
  2. SARMUD IAIN                       : Tahun 1968
  3. Masjidil Haram                       : Tahun 1975

1. SEJARAH BERDIRINYA PONPES NURUL HAKIM

Pondok peantren Nurul Hakim berdiri pada tahun 1387 H/ 1948 M, walupun jauh sebelumnya telah lama dirintis oleh Almarhum Bapak TGH. Abdul Karim yaitu tahun 1924 sekembali beliau dari tanah suci Makkah setelah bermuin dari tahun 1919 sampai tahun 1924 dengan mushalla kecil berukuran 8×8 m yang dipakai untuk semua aktifitas pendidikan. Di Makkah al mukarramah beliau menimba ilmu dari para alim ulama baik yang berasal dari suku sasak yaitu Bapak TGH. Abdul Hamid Sulaiman dan Bapak TGH. Mukhtar ataupun dari ulama yang bukan dari suku sasak yaitu TGH. Muhammad Sumbawa, TGH. Arsyad Sumbawa, TGH. Mukhtar bin Attarib Bogor, TGH. Akhyar Khalifah Bogor, Syaikh Abdul Kadir Mandailing, TGH. Usman Serawak, TGH. Zainuddin Serawak, Syaikh Ibrohim Fathoni, Syekh Jamaludin Maliky, Syekh Sayid Alwi Maliky, Syekh Abdul Jabar, Syekh Hasan Mufti Syafiiyah bin Syekh Said Yamani, Syekh Said Yamani, Syekh Sayid Amin Qutby. Dan dari Syekh Sayid Amin Qutby beliau mendapatkan Ijazah tertulis pada tahun 1357 H untuk mengajar dalam bermacam-macam bidang ilmu.

Beliau kembali ke kampung halaman pada tahun 1939, sekembali beliau dari tanah suci Makkah yang kedua kalinya jelas menambah pengetahuan dan pengalaman beliau untuk melanjutkan pengabdian beliau dalam bidang pengembangan ilmu-ilmu Islam dan Alat sepeti Nahwu dan Shorrof.

Kehadiran beliau mengajar di Mushalla tersebut tidak sekedar membimbing anak-anak kampong saja, bahkan juga menarik minat para santri yang kebetulan tinggal di kampong Kediri seperti yang tinggal di kerbung yang berada di sekitar kampung, kerbung adalah bahasa sasak yang berarti pondok. Walupun banyak santri yang mengaji di mushalla tersebut namun belum ada yang tinggal di bawah asuhan beliau sendiri karena seorang Tuan Guru (Kyai) junior tentu ingin dilihat ketekunannya oleh masyarakat begitu pula kemampuan ilmiyah dan akhlaknya.

Setelah para santri cukup lama mengikuti pengajian-pengajian halaqoh beliau dalam bermacam-macam cabang ilmu, maka pada tahun 1387 H/1948 M, beberapa orang baik yang sudah lama menetap pada pondok lain maupun yang baru meminta izin beliau membangun pondok-pondok kecil di sekitar mushalla yang beliau bangun 24 tahun yang lalu.

Dengan dimulainya area santri membangun pondok-pondok tersebut maka secara formal berdirilah Pondok pesantren Nurul Hakim di atas tanah pekarangan 4 are. Dengan jumlah santri yang menetap sebanyak 75 orang dan tidak menetap sebanyak 300 orang. Pergantian masa yang terus berjalan tidak mampu menahan perjalanan satu system dalam satu bentuk dan menuntut terjadinya perubahan, maka setelah kembalinya Bapak TGH. Shafwan Hakim (putra pendiri) dari tugas belajar di Masjidil Haram Makkah maka Pondok pesantren Nurul Hakim mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan tuntutan serta kebutuhan ummat tanpa meninggalkan sistem pendidikan yang lama karena yang lamapun masih tetap diperlukan bahkan dilestarikan.

Untuk itu maka Pondok pesantren Nurul Hakim melakukan study banding, belajar, mengirimkan kader-kader untuk belajar ke berbagai lembaga di luar daerah seperti ke Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Ma’hadul Ulum Al Islamiyah Wal Arabiyah Jakarta, Jam’iyah Islamiyah Madinah Munawwarah dan Jam’iyah Al Azhar di Mesir. Disamping itu juga menjalin kerjasama dengan berbagai kalangan khususnya kalangan pendidikan dan dakwah.

Pengiriman kader-kader ke Pondok Modern Gontor tidak saja dimaksudkan untuk sekedar menuntut ilmu semata tapi juga dimaksudkan untuk mengadopsi nilainilai dan system pendidikan. Dan untuk menerapkan hal itu maka pada tahun 1995 M/1414 H didirikanlah Program Pendidikan Khusus Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah Pondok pesantren Nurul Hakim dengan mengadakan sedikit penyesuaian kondisional dengan masa belajar selam 6 tahun. Kurikulum merupakan perpaduan antara: 1) Pondok peantren Nurul Hakim, 2) KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

  1. VISI DAN MISI.

Menciptakan anak didik yang bertauhid dan berakhlaqul karimah untuk menjadi generasi yang imany, amaly, dan robbany yang mampu membangun peradaban Islam pada semua sektor kehidupan serta menyebarkan, menyuburkan dan menumbuhkan syari’at, pemikiran dan tradisi intelektual Islam yang kaffah, adalah visi dan misi Pondok pesantren Nurul Hakim atas dasar itu maka system, kurikulum dan segala hal yang terkait dengan kegiatan pendidikan haruslah merupakan satu kesatuan yang terpadu.

Dengan system pendidikan yang disusun sedemikian rupa diharapakan santri/santriwati Pondok pesantren akan mampu melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi pada semua jurusan baik di dalam negeri maupun di luar negeri, baik pada perguruan tinggi umum atau agama.

Dalam jangka panjang diharapkan santri/santriwati dapat beribadah/beramal pada semua lini/sektor kehidupan untuk mengaktualkan tujuan agama Islam/syari’at Islam.

  1. KEGIATAN-KEGIATAN

A. PENDIDIKAN

Madrasah.

1.TPA Nurul hakim

2
. Taman Kanak
kanak/Raudatul Athfal.
3
. Madrasah Ibtida’yah
(
Terakriditasi B
)
4
. Madrasah Tsanawiyah Putra dan Putri
(
Terakriditasi B)
.
5
. Madrasah Aliyah Putra dan Putri
(
Terakriditasi B & A)
.
6
. Program Pendidikan Khusus KMMI.
7
. SMK Plus Nurul Hakim.
3
Program Studi Keahlian yaitu :
Ø
Teknik Otomotif (Khusus Put
ra).
Ø
Tata Busana (Khusus Putri).
Ø
Teknik Komputer Dan Jaringan .
8
. Ma’had Aly Darul Hikmah
(
Fiqih Dan Dakwah).
9
.Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
Dengan program study :
Ø
Pendidikan Bahasa Arab (PBA).
Ø
Pendidikan Agama Islam (PAI).
Ø
Ekonomi Syari’ah. (ES)
Ø
Bimbingan Konseling Islam (BKI)
Ø
Akselerasi
B. Dakwah.
  1. Radio Dakwah dan Pembangunan Swara Nurul Hakim.
  2. Majlis Ta’lim.
  3. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Nurul Hakim

C. SOSIAL

  1. Program Lingkungan Hidup
    1. Pemeliharaan Rusa
    2. Pembuatan Kompos dari sampah
    3. Pembibitan Jati dan Mahoni
4
Kegiatan gotong royong dalam pembangunan
D. Ekonomi
1.
Koperasi Pondok Pesantren Nurul Hakim.
a.
Unit Jasa Keuangan Syari’ah
b.
Unit Usaha Waserda
c.
Unit
Heler (Penggilingan Padi)
d.
Unit Konveksi
e.
Unit Las
f.
Unit Agribisnis
Unit Peternakan
Unit Pertanian
g.
Unit warung pelajar
h.
Unit Dapur
POTENSI/KOMODITAS MILIK PONDOK PESANTREN.
1
. Pertanian
:
Sawah
:
4 Ha.
:
1 Ha.

Program Kesehatan Masyarakat

  1. Klinik Kesehatan Ibnu Sina.

3 Panti Asuhan Ashabul Hikam.

           Perkebunan

        Tegalan/Lahan Kering                 : 155,5 Ha.

         Kolam/Tambak

2. Tanaman Pangan :

: 10x 8 m2.
         Buah-buahan : 8,5 Ha.
        Padi : 4,5 Ha.
         Palawija : 3 Ha.
3. Perkebunan :
         Kelapa : 40 Ha.
         Cokelat : 20 Ha.
Jati & Mahoni 4. Peternakan : : 153 Ha
Kambing : 32 ekor
         Rusa : 26 ekor.
         Sapi/Kerbau                                                : 10 ekor
NO Tingkat Madrasah Jumlah Santri/Santriwati
2013-2014 2014-2015 2015-2016
Org Kls Org Kls Org Kls
1. TPA 10 1 7 1
2. Taman Kanak-Kanak 70 3 74 3 69 3
3 Ibtidaiyah 114 6 114 6 115 6
4. Tsanawiyah Putra 611 17 678 19 613 19
5. Tsanawiyah Putri 516 17 622 20 644 22
6. Aliyah Putra 313 11 319 12 555 12
7. Aliyah Putri 497 17 562 19 347 19
8. SMK Plus 167 9 170 12 183 12
9. PPKh – KMMI 794 30 859 33 1022 35
10. Ma’had Aly 100 4 116 4 103 4
11. STAI NH 1.300 26 1335 26 823 26
Jumlah 4.492 130 4.856 155 4.474 158
NO Tingkat Salafi Jumlah Santri/Santriwati
2013-2014 2014-2015 2015-2016
Org Asrama Org Asrama Org Asrama
1. Tahfizul Qur’an 101 9 109 9 160 14
2. Diniyah Salafiyah 2.998 135 3101 148 3651 148
3 Panti Asuhan 75 75 75

        Kandang Ayam                            : 7 unit (kapasitas 9500 ekor).

3. DATA FISIK PONPES NURUL HAKIM

  1. Santri/Santriwati.

Catatan :

Santri-santriwati MTs Putra-Putri, MA Putra-Putri, SMK Plus Putra-Putri & PPKhKMMI Adalah Santri-santriwati Madrasah Diniyah Salafiyah dan semuanya bertempat tinggal di Pondok Pesantren.

  1. Azatiz dan Karyawan.
Tahun 2012-2013 2013-2014 2014-2015 2015-2016
Pengajar 319 371 417 426

 Kualifikasi Pendidikan Azatiz. 2014-2015

NO NAMA LEMBAGA KUALIFIKASI PENDIDIKAN JUMLAH
MA/SMA Diploma S1 S2 S3
1. TPA
2. Taman Kanak-Kanak 3 2 5
3. Ibtidaiyah 3 2 8 1 14
4. Tsanawiyah Putra 3 43 5 51
5. Tsanawiyah Putri 6 39 3 48
6. Aliyah Putra 3 35 4 42
7. Aliyah Putri 5 46 4 55
8. SMK Plus 5 29 4 38
9. PPKh – KMMI 2 72 7 81
10. Ma’had Aly 3 7 4 1 22
11. STAI NH 1 64 5 70
JUMLAH 426*
NO JENIS BANGUNAN 1986 2000 2001 2011-2012 2012-2013
1. Ruang Belajar 21 Lkl 64 Lkl 68 Lkl 104 Lkl 112 Lkl
2. Asrama Santri 21 Lkl 89 Lkl 90 Lkl 124 Lkl 124 Lkl
3. Masjid 2 buah 7 buah 7 buah 7 buah 7 buah
4. Kantor 3 Lkl 8 Lkl 8 Lkl 10 Lkl 10 Lkl
5. Koperasi 2 Lkl 7 Lkl 2 Lkl 7 Lkl 7 Lkl
6. Wapel 2 Lkl 9 buah 4 Lkl 4 buah 4 buah
7. Perumahan Guru 4 Lkl 6 buah 15 Lkl 10 buah 10 buah
8. BLK 6 Lkl 6 Lkl 6 Lkl 6 Lkl
9. Radio Da’wah 1 1 1
10. Ruang Percetakan 1 1 1
11. Ruang Keterampilan 3 3 3
12. Sumur Biasa 6 buah 3 6 buah 3 3
13. Sumur Bor 1 1 1
14. Mesin Air 5 buah 17 5 buah 17 17
15. Listrik 4.050 W 128.000 W 128.000 W 128.000 W 128.000 W
16. Poskestren 1 1 1
17. Panti Asuhan 1 1 1

*ket : Perbedaan jumlah azatidz pada table diatas dan dibawah disebakan oleh adanya Ustadz/Ustadzah yang mengajar tidak hanya pada satu             lembaga, tetapi di dua lembaga bahkan tiga ,dan pada table dibawah tidak dihitung jumlah karyawannya.

  1. Bangunan .
18. Ruang Makan 3 3 3
19. Kamar Mandi/WC 16 unit 19 unit 19 unit
20. Laboratorium 2 unit 7 unit 7 unit
21. Perpustakaan 6 unit 7 unit 7 unit

DATA KEADAAN FISIK DAN BANGUNAN.

No Lokasi Bangunan Banyak nya Luasnya keterangan
Rauangan Jml. Tingkat 10 ruangan
A. KOMPLEK PUTRI Bangunan 16 ruang
1. Kantor yayasan I. 26 Ruang 3 Lantai 2160 m2
2. Asrama 53 ruang 1 Lantai 3728 m2
3. Masjid 2. 2 buah 1 Lantai 566 m2
4. Dapur 2 buah 1 Lantai 72 m2
5 Kam. Mandi 3.51 210 m2
6. Tempat jemuran
Jumlah 8.736 m2
B. KOMPLEK GUMARANG
1. Masjid I 3 ruang 1 Lantai 286 m2
2. Asrama putra I 13 ruang 1 Lantai 936 m2
3. Dapur
I 3
4 Kam. Mandi/wc I     19 bauah 1 Lantai 69 m2
5. Tempat jemuran
C. KOMPLEK P. ASUHAN 1.403 m2
1. Masjid al hikam I   3 ruang 1 Lantai 168 m2 –
2 Kantor I   2 ruang 1 Lantai 65 m2
3 Asrama/ kelas I 13 ruang 1 Lantai 703 m2
4 Dapur I   2 ruang 1 Lantai 84 m2
5 Kam, mandi 17 ruang 1 Lantai 51 m2
Jumlah 1.1071 m2
D KOMPLEK ZUBAER
Asrama / kls 18 ruang 1 Lantai 1.011 m2
E K. ABU BAKAR HUMAES
1 Kelas/kantor 29 ruang 1 Lantai 2.484 m2
2. Masjid Zakaria I   3 ruang 2 Lantai 1.490 m2
3 K. Mandi/Wc 24/24 72 m2
Jumlah 4.046 m2
F. KOMPLEK TAHFIZ
1. Masjid I 1 ruang 1 Lantai 104 m2
2 Asrama 9 ruang 1 Lantai 100 m2
3 Kam, mandi/ WC 4 ruang 1 Lantai 12 m2
Jumlah 217 m2
G. KOMPLEK BLK
1 R. kls/bljr/ asrama 1     9 ruang 1 Lantai 614 m2
2. P. radio 1       3 ruang 1 Lantai 70 m2
3. Kam. Mandi 6 buah 1 Lantai 18 m2
Jumlah 702 m2
H. GEDUNG KETRAMPILAN
1 Lab. Menjahid /tem/busana ¾ ruang . km 1 216 m2
2. Lab.pertanian/peternakan 1.4 ruang 1 288 m2
3 Lab.          2.1       kandang                 ayam,

unggas, ruang pakan

1   ruang 1 699,5 m2
2.2     Rumah Kaca 1 ruang 1 30 m2
2.3 rumah jaga 1 ruang 1 30 m2
4. Lab. Bengkel las 1   4 ruang 1 391,5 m2
5. Jamur merang 1 ruang 1 7.0 m2
6. Almuhtar 2 Lantai 272 m2
I KOPERASI & KLINIK
1 Koperasi 1   5 ruang 1 Lantai 144 m2
2 Rant 5 ruang 1 Lantai 72 m2
3 Klinik 1     8 ruang 1 Lantai 132 m2
4 Kam. Mandi/WC 4 ruang 1 Lantai 18 m2
Jumlah
366 m2
J PONPES              AWWAL                                   BINA

UTAMA ( TIMUR ) MI – TK

1. Masjid 1   3 ruang 2 Lantai 144 m2
2. Asrama   dan ruang belajar 30 ruang 2 Lantai 2202 m2
3. Pertokoan    7 ruang 1 Lantai 240 m2
4. Kam. Mandi/WC 22/8 70 m2
Jumlah 2656 m2 Total 19.403 m2
K K. STAI NH & MTS PUTRA
1. Kantor STAI 1 ruang 2 Lantai 112 m2
2. Ru. Perpustakaan 112 m2
3 MTs. Putra 1   8 ruang 2 Lantai 448 m2

LUAS KAMPUS

  1. Kampus I (Putri Timur)                       : 2.286 m2
  2. Kampus II (Putri Barat)                       : 15.035 m2
  3. Kampus III Putra (Sebelah Selatan) : 5.957 m2
  4. Kampus IV Putra ( Sebelah Barat)            : 37.025m2
  5. Lahan Praktek Pertanian didalam Kampus : 323 m2

                LUAS TOTAL                                            : 92.326 m2 = 9.23 Ha

4.2 Standar Akuntansi yang Digunakan

Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim (YPPNH) kediri dalam menyusun laporan keuangannya tidak menggunakan standar akuntansi. Namun, jika dilihat dari basis sistem pencatatan yang digunakan, pencatatan yang digunakan oleh YPPNH menggunakan basis kas. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan bendahara selaku pengelola keuangan yayasan ini, diketahui bahwa pengelola keuangan hanya mencatat kas yang masuk dan kas yang keluar. Tentu saja hal ini sesuai dengan prinsip basis kas dimana transaksi dicatat jika menimbulkan arus kas masuk atau keluar.

Pihak manajemen YPPNH Kediri tidak menetapkan aturan dalam melakukan pencatatan akuntansi sesuai dengan prinsip dan standar akuntansi yang ada, dalam hal ini PSAK No. 45 tentang Pedoman Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba. Pihak pengelola keuangan bahkan dalam menyusun laporan keuangan menggunakan cara pencatatan sendiri dengan mengambil refrensi dari internet.

PSAK Nomor 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba menyatakan bahwa Laporan keuangan organisasi nirlaba meliputi laporan posisi keuangan pada akhir periode laporan, laporan aktivitas serta laporan arus kas untuk suatu periode pelaporan, dan catatan atas laporan keuangan. Namun dalam pengelolaan keuangannya, pihak YPPNH memulai dengan membuat anggaran hingga laporan keuangan. Adapun laporan yang dibuat meliputi Anggaran Pengeluaran, Anggaran Penerimaan, Laporan Keuangan (berisi pendapatan dan pengeluaran organisasi selama satu periode) dan Laporan Tunjangan.

Anggaran Pengeluaran berisi rincian rencana pengeluaran yayasan selama satu periode ke depan, yakni 1 tahun ke depan. Anggaran ini merincikan pengeluaranpengeluaran yang dimulai dari pengeluaran gaji dan tunjangan tenaga pengajar dan karyawan, biaya-biaya operasional yayasan, belanja perlengkapan dan/atau peralatan, serta biaya lainnya.

Jika ditelaah, laporan keuangan yang disusun oleh pengelola keuangan memiliki prinsip yang mirip dengan laporan aktivitas yang disyaratkan oleh PSAK No 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba. Dalam laporan keuangan yang disusun oleh YPPNH, disajikan jumlah pendapatan dan pengeluaran organisasi. Informasi ini dapat pula ditemukan dalam laporan aktivitas yang melaporakan pendapatan organisasi serta pengeluaran-pengeluaran yang merubah kekayaan organisasi. Namun, dalam laporan keuangan YPPNH, pengklasifikasian pendapatan dan pengeluaran tidak sesuai seperti yang diatur dalam PSAK No. 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba. Selain itu, dalam laporan keuangan YPPNH tidak digambarkan perubahan kekayaan akibat adanya pendapatan dan pengeluaran yang terjadi, seperti yang digambarkan dalam Laporan Aktivitas menurut PSAK No.45. Kembali lagi ke alasan awal bahwa pengelolaan keuangan YPPNH tidak memiliki standar pelaporan yang baku dan terstandar.

Pihak pengguna laporan keuangan yang diberikan oleh pengelolan keuangan juga tidak menuntut bagaimana penyusunan pelaporan keuangan yayasan seperti apa yang seharusnya dibuat, ataupun menuntut penggunaan sebuah standar atau pedoman pelaporan. Oleh karena itulah pihak pengelalo keuangan tidak mencari sebuah pedoman namun hanya menyusun pelaporan yang (yang menurut pengelola keuangan) dapat dimengerti oleh pengguna dan sederhana.

4.3 Penggunaan pedoman atau sistem akuntansi yang baku oleh YPPNH

Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim tidak menggunakan pedoman atau sistem akuntansi yang baku. Keterbatasan pengetahuan standar pelaporan keuangan, baik penyusun laporan keuangan maupun pengguna laporan keuangan menyebabkan tidak adanya tuntutan untuk menggunakan pedoman atau sistem akuntansi yang baku oleh YPPNH.

Laporan keuangan yang disusun disesuaikan dengan kondisi dan permintaan informasi apa saja yang ingin dilaporkan atau ditampilkan kepada pengguna. Pengguna laporan hanya menuntut adanya pelaporan atau transparansi dana masuk dan keluar. Dana itu sendiri diartikan sebagai uang tunai yang masuk dan keluar. Sehingga prinsip akrual yang dapat lebih mencerminkan kondisi keuangan tidak diterapkan.

Hal unik yang kami temukan dalam pelaporan keuangan YPPNH terkait dengan keperluan perpajakan. Dalam sistem atau pedoman akuntansi yang berlaku umum, sebuah organisasi idealnya paling tidak menyajikan laporan posisi keuangan (neraca) dan laporan laba/rugi yang mencerminkan pendapatan dan biaya yang terjadi dalam periode berjalan organisasi. YPPNH menyusun neraca dan laporan laba rugi hanya untuk ditujukan ke pihak perpajakan. Hal ini dikarenakan meskipun nantinya organisasi YPPNH dinihilkan pajaknya, namun ketentuan dari perpajakan mensyaratkan pihak organisasi nirlaba menyusun laporan keuangan standar sesuai dengan pedoman akuntansi.

Penyusunan laporan neraca dan laba rugi tersebut dilakukan oleh staf pengelolaan keuangan. Laporan neraca dan laba rugi tersebut tidak disusun untuk keperluan organisasi. Alasannya, pihak organisasi tidak paham ketika membaca atau menggunakan laporan keuangan berbentuk neraca dan laporan laba rugi sesuai standar akuntansi tersebut sehingga laporan tersebut tidak disajikan kepada pihak internal organisasi.

Neraca dan laporan laba rugi tidak disusun untuk kalangan organisasi. Hal tersebut disebabkan pihak organisasi YPPNH memiliki keterbatasan pengetahuan dalam membaca ataupun mengerti bentuk laporan keuangan standar. Adapun ketika menyusun neraca, ada beberapa pos akun yang jumlah nilai nominal hanya berupa perkiraan dari penyusun, seperti nilai aktiva tetap, penyusutan, dan sebagainya.

Jadi, laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi tersebut masih hanya bersifat formalitas dan pemenuhan syarat administrasi perpajakan, namun dari segi prinsip dan keandalan belum bisa memenuhi laporan keuangan sesuai dengan pedoman atau sistem akuntansi berterima umum (terstandar).

4.4        Bagian/Fungsi yang melakukan pengelolaan keuangan

Bagian YPPNH yang melakukan pengelolaan keuangan organisasi secara menyeluruh ialah Bendahara Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim. Bendahara dibantu oleh setiap perwakilan dari unit yayasan seperti MTs. Putra, MTs. Putri, SMK Plus, dan sebagainya, untuk mengumpulkan uang pembayaran bulanan atau tahunan dari masing-masing siswa/i yang selanjutnya akan diserahkan ke Bendahara Umum. Untuk pengelolaan dan penggunaan dana-dana bantuan dari pemerintah, seperti dana

Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pengelolaannya diserahkan ke masing-masing lembaga yang dalam hal ini tanggungjawab dana tersebut diserahkan ke Kepala Sekolah masing-masing lembaga pendidikan. Sehingga, bendahara umum yayasan tidak mengelola dana BOS.

Sistem kontrol dan pengendalian keuangan YPPNH masih terbilang rendah. Setiap penerimaan ataupun pengeluaran yang dilakukan bendahara tidak memiliki bukti atau dokumen transaksi yang lengkap.

4.5       Penggunaan Dana

Bendahara yayasan tidak mengelola dana BOS dari pemerintah. Pengelolaan dan penggunaan dana tersebut diserahkan ke masing-masing lembaga penerima. Bendahara yayasan mengelola dana yang berasal dari murid dan usaha yayasan. Dana yang dikelola dari murid meliputi uang bulanan yang dibayarkan setiap bulan, dan uang tahunan yang biasa disebut uang pembangunan untuk siswa baru. Uang bulanan dari murid digunakan untuk membiayai biaya-biaya operasional seperti listrik, air, makan murid, dan sebagainya. Sedangkan uang pembangunan digunakan untuk kepentingan gedung dan bangunan yayasan.

Selain dana-dana di atas, YPPNH juga terkadang menerima dana bantuan dari pemerintah untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Dana tersebut melalui mekanisme pengajuan proposal ke lembaga pemerintah terkait. Dana dari pemerintah ini yang akan menimbulkan kewajiban pembayaran pajak oleh pihak yayasan. Sedangkan, untuk pajak penghasilan atau pajak lainnya yang terkait dengan yayasan tidak dibayarkan oleh Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim.

4.6 MEKANISME PENERIMAAN DAN PENGELUARAN PENDAPATAN

           A. MEKANISME PENERIMAAN

                                                                                                                                                                      

          

Menyerahkan

M  
Gambar 4.1
Prosedur
Penerimaan Pendapatan
BENDAHARA
PUSAT
BENDAHARA
BAGIAN
A
BENDAHARA
BAGIAN
F
BENDAHARA
BAGIAN
B
BENDAHARA
BAGIAN
C
BENDAHARA
BAGIAN
D
BENDAHARA
BAGIAN
E
SISWA
MEMBAYAR
B. PROSEDUR PENGELUARAN
Gambar 4.2 Prosedur Pengeluaran
Pihak       Yang
Memerlukan
mengajukan
Bendahara Pusat
Pencatatan
Olah
Bendahara
Arsip
Bendahara
Pengeluaran
Kas

BAB V KESIMPULAN

Salah satu pondok pesantren yang cukup besar di Provinsi NTB, khususnya Pulau Lombok ialah Pondok Pesantren Nurul Hakim. Pondok pesantren ini berlokasi di salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Barat yang dijuluki kota santri, yaitu Kediri. Pondok pesantren ini sudah mulai berdiri selama 67 tahun sejak pertama kali berdiri tahun 1948. Pondok pesantren ini mulai dirintis pada tahun 1924 oleh Alm. TGH. Abdul Karim. Kepemimpinan selanjutnya dilanjutkan oleh keturunan Beliau hingga saat ini.

Cakupan Pondok pesantren ini pun tidak dapat dikatakan kecil. Pondok pesantren Nurul Hakim memiliki lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, ditambah lagi dengan panti asuhan yang dikelola dibawah Pondok Pesantren Nurul Hakim.

Meskipun Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim dapat dikatakan sebuah yayasan atau organisasi nirlaba yang cukup besar, pengelolaan kuangan khususnya pelaporan keuangan organisasi nirlaba ini belum dapat dikatakan memenuhi standar sesuai dengan PSAK No 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba.

PSAK Nomor 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba menyatakan bahwa Laporan keuangan organisasi nirlaba meliputi laporan posisi keuangan pada akhir periode laporan, laporan aktivitas serta laporan arus kas untuk suatu periode pelaporan, dan catatan atas laporan keuangan. Namun dalam pengelolaan keuangannya, pihak YPPNH memulai dengan membuat anggaran hingga laporan keuangan. Adapun laporan yang dibuat meliputi Anggaran Pengeluaran, Anggaran Penerimaan, Laporan Keuangan (berisi pendapatan dan pengeluaran organisasi selama satu periode) dan Laporan Tunjangan.

Laporan keuangan yang tidak disusun YPPNH untuk memenuhi standar pelaporan keuangan organisasi nirlaba sesuai PSAK No 45 ialah laporan posisi keuangan pada akhir periode laporan, laporan arus kas untuk suatu periode pelaporan dan catatan atas laporan keuangan. Mesikipun YPPNH tidak menyusun laporan aktivitas yang berisi pendapatan dan pengeluaran organisasi sebagaimana ditentukan dalam PSAK No. 45, namun YPPNH menyajikan informasi yang sama dalam laporan keuangan YPPNH meskipun format dan pengklasifikasian pos-pos pendapatan dan pengeluaran serta perubahan kekayaan atas aktivitas tersebut tidak sesuai dengan PSAK No. 45.

DAFTAR PUSTAKA

Pontoh, Chenly Ribka S. 2013. Penerapan Laporan Keuangan Organisasi Nirlaba Berdasarkan PSAK No. 45 Pada Gereja BZL. Jurnal EMBA 129 Vol.1 No.3 Juni 2013, Hal. 129-139.

M, Reisha Dwi Ayu P. 2014. Rekonstruksi Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba Pada Yayasan Pendidikan Islam Indocakti Malang Berdasarkan Psak Nomor 45. Skripsi Sarjana pada Fakultas Ekonomi Universitas Jember: Tidak Diterbitkan.

Cintokowati, Chindi. 2010. Akuntansi Masjid vs Gereja, Organisasi Nirlaba. http://cintokowati.blogspot.com/2010/11/aspakuntansimasjidvsgereja.html diakses tanggal 18 November 2015

Harahap, Sofyan Syahri. 2007. A Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT). PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Asana, Kharisty. 2011. Ciri-Ciri Organisasi Nirlaba, Organisasi Nirlaba. http://kharistyhasanah.blogspot.com/2011/10/organisasinirlaba.html diakses tanggal 20 November 2015.

https://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_nirlaba. Diakses pada tanggal 10 Desember

2015

https://m.republika.co.id/berita/duniaislam/islamnusantara/. Diakses pada tanggal 10 Desember 2015

[1] Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi

Nirlaba, hal. 1

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Abdulloh says:

    Izin copy buat referensi pak??

    Like

  2. Silahkan pak. You are welcome….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s