My Lost Key

Waktu itu, Mataram 12 April 2014

kunci motor hilang 2.jpg
My Lost Key

Menghabiskan waktu di dalam kelas begitu indah aku rasakan. Bercanda ria dengan teman-teman dengan penuh semangat,sungguh mengasyikkan bak mendapat keuntungan saham yang berlipat-lipat, sungguh bahagia rasanya. Banyak hal yang ternyata yang aku lakukan pada saat itu, tapi entah mengapa pada saat ini sebagian besar waktu ku habiskan hanya untuk bermain. Berusaha untuk berpikir positif, mungkin itu suatu wujud penyegaran otak saja setelah menjalanai Mid Semester yang begitu panjang ku jalanai. Aku berpikir itu merupakan hal yang wajar aku lakukan, karena aku sesungguhnya bukanlah robot yang akan senantiasa ceria bekerja tanpa merasa lelah dan letih. Sayangnya…….. aku bukanlah robot yang dapat senantiasa bekerja tanpa penyegaran otak…….. jujur……. aku butuh penyegaran. Bukankah the nature of human memang seperti itu?

Tertawa terbahak-bahak sambil terpingkal-pingkal mewarnai kehidupan kelas pada saat itu. Tertawaku menjadi penghias kelas pada saat itu. Aku seolah-olah hanya hidup sendiri pada saat itu, terlepas dari kewajibanku sebagai mahluk sosial yang harus hidup bersama-sama dengan orang lain. Entah mengapa pada hari itu aku begitu berbeda. Entah setan apa yang merasuki tubuhku pada saat itu. Yang jelas pada saat itu awan kebahagiaan berada pada pundakku.

Sungguh, tak ada firasat buruk yang aku alami pada saat itu. Aku begitu santai menikmati tertawaku yang menyenangkan. Aku terbuai dengan tertawa yang aku lakuakan yang menghabiskan ribuan karbondioksida dalam tubuhku. Aku tak sadar pada saat itu ternyata kunci motorku sudah tak berada pada sang pemiliknya. Kunci itu memang simple, jauh dari kesan kunci mahal. Induknya pun tak sebagus motor-motor temanku di kampus. Motorku hanya Honda Absolut Revo yang merupakan keluaran lama, yang kata temanku itu adalah motor ojek. Statement itu sungguh tak pernah aku masukkan ke hati ,buat apa? Toh aku yang menjalani hidupku sendiri. Aku menderita, hanya aku yang akan mengalaminya. Aku bahagia, toh hanya aku seorang saja yang akan menikmatinya. Lantas buat apa aku harus mendengarkan argument mereka? Argument mereka hanya akan menghambat cita-citaku saja. Jadi lebih baik aku abaikan saja.

Matakuliah pada saat itu kosong. Aku sungguh tak tahu dengan jelas mengapa dosennya tidak menghadiri acara penyumbangan ilmu yang harusnya akan menambah wawasanku itu. Tapi apa boleh buat, tidak pernah ada cerita bahwa rakyat yang memerintah raja. Yang ada hanya Raja yang senantiasa harus diikuti. Apapun keinginan meraka itu harus menjadi undang-undang yang harus dijalani.

           Akupun memutuskan untuk pulang. Mengikuti teman-temanku yang jauh jam sebelumnya sudah pulang ke paraduan singgasana mereka masing-masing. Ku kemas semua peralatannku, kemudian kumasukkan kedalam tas mungilku,yang juga tak lepas dari komentar teman-temanku. Tas dosen katanya. Ah…… lagi-lagi aku harus menahan emosi.

Akupun mulai pulang. Berjalan sendiri menyusuri lantai yang sepi, berjalan menyusuri waktu dari tempat yang berada pada lantai tiga, yang sesungguhnya bisa menghabiskan banyak sekali tenaga sarapan pagiku. Aku berjalan seperti biasa dengan penuh percaya diri dengan sedikit hiasan senyuman dibibirku, yang entah aku tak tahu kemana arah senyumanku itu. Tapi bagiku itu tak masalah, aku kan hanya ingin menebarkan energi positif saja, dan itu bukan dosa. Malah itu adalah pahala, maka apa yang aku tebarkan berarti sesuatu yang dapat menambah pundi-pundi amal ku diakhirat kelak.

Setelah lama menyusuri gedung yang berlantai tiga itu, ahirnya akupun sampai ditempat peristirahatan motor ku, di parkiran kampusku tercinta. Ku pandang sebentar motorku seperti hari-hari biasanya yang sering aku lakukan. Ku masukkan tanganku ke saku celana, plekkk!! Kosong. Ku coba lagi lebih dalam, PLEEK!! Kosong.. senyummku langsung sirna. Wajah panik mulai menghiasi langit wajahku yang sebelumnya di hiasi rembulan senyuman yang begitu menawan. Ku coba membuka tas miniku ,kukeluarkan semua isinya tanapa satu unitpun aku tinggalkan. Ah …. ternyata sudah tak aku temukan….. kemana? dimana? Bagimana nasibku? Aku ingin segera pulang! Aku rindu tempat mungilku….

Mentari sudah mulai memudar…. petang sudah dekat.. namun aku masih berada di tempat sepi itu dengan penuh harapan agar ada orang baik yang mau membantuku… Namun sayang yang aku harapkan tak kunjung datang, aku pasrah saja. Tanpa ku sadari air mata menetesi pipi lembut ku…

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s