Menggali Mimpi Hingga Ke Kerak Bumi(Eps.1)

“ Nak, jika engkau ingin maju, maka dua langkah lebih cepatlah daripada orang lain. Jika engkau ingin lebih tinggi, maka naiklah 2 tangga lagi agar engkau berada diatas rata-rata orang lain. Dan jika engkau ingin mendapatkan rizki yang banyak, maka bangunlah engkau 2 kali lebih cepat dibandingkan dengan orang rata-rata”

Udara masih dingin, sang rembulan masih dengan angkuh memancarkan dirinya diatas langit biru yang tampak terlihat hitam karena saat itu sang mentari masih tertidur di dalam paraduannya. Masih sekitar dua jam lagi ia akan mucul. Sang rembulan masih menguasai galaksi bima sakti pada saat itu.

Meskipun sang mentari masih akan lama untuk menampakkan batang hidungnya, Rio sudah terlebih dahulu menyalip terbitnya sang mentari. Suara kokokan ayam pun masih belum terdengar, karena memang pada saat itu ayam-ayampun masih sedang bermimpi di alam yang lain. Masih belum terdengar suara apapun, hanya sesekali suara jangkrik di luar rumah dan suara tikus nakal diatas atap sana yang sepertinya sedang melaksanakan pesta panen sehingga suaranya mengganggu telinga. Rio terbangun dari tidurnya tepat pukul 4 dini hari. Ini bukan  pertama kalinya ia terbangun pada waktu tersebut, melainkan itu adalah kebiasaan yang senantiasa ia lakukan, bangun pagi adalah suatu kebiasaan yang telah menjadi budaya yang diajarkan sang ibu kepadanya. Ibu pernah berkata kepadanya,

“ Nak, jika engkau ingin maju, maka dua langkah lebih cepatlah daripada orang lain. Jika engkau ingin lebih tinggi, maka naiklah 2 tangga lagi agar engkau berada diatas rata-rata orang lain. Dan jika engkau ingin mendapatkan rizki yang banyak, maka bangunlah engkau 2 kali lebih cepat dibandingkan dengan orang rata-rata”. Menggali sumur lebih dalam dari orang lain adalah petuah ibu yang tidak akan pernah dilupakannya. Akan senantiasa tercatat di dalam memory kepalanya dengan kuat.

Pertkataan ibunya tak pernah ia lupakan. Rio adalah seorang anak yang penurut, ia jarang sekali membantah perkataan orang tuanya. Meskipun terkadang ia merasa bahwa dirinya berada pada jalur yang tepat, namun ia lebih memilih untuk diam saja, karena ia takut ibadah yang ia lakukan akan bernilai sia-sia karena dosa melawan orang tua. Rio adalah anak yang keras, namun sekeras apapun kepalanya, ia selalu menjadi lemah dikala sedang berhadapan dengan sang ibu. Baginya, ibu adalah malaikat surga yang dikirimkan tuhan kepadanya. Ia rela melakukan apapun demi sang ibu. Sangat berbeda sekali dengan pemuda dan pemudi sebayanya, yang malah lebih rela mencium ketiak sang kekasih daripada memijat punggung sang ibu yang telah mencucurkan keringat untuk memenuhi segala kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersiernya.

***

Setelah bangun dari mimpi indahnya, yang sebenarnya sangat ingin ia lanjutkan lagi, karena sangat jarang sekali ia dapat tidur pulas dan beremimpi indah, Rio langsung ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya agar lebih segar. Air sepagi itu memang tak pernah bersahabat, namun ia selalu menang melawan kedinginan tersebut. Baginya itu adalah hal yang sudah biasa, kedinginan cuaca pagi tak sekuat dengan kehidupannya yang penuh dengan gelombang pasang surut cobaan.

mimpi-nyata
Rio sang Pemimpi…

Setelah kembali dari kamar mandi, ia selalu sempatkan diri untuk beroda kepada yang maha kuasa atas segala nikmat yang sudah diberikan kepadanya. Baginya, tidak ada nikmat yang paling indah di dunia ini selain melihat ibunya tersenyum dan mendapat nikmat kesehatan dari sang maha kuasa. Meskipun ia terlahir dari keluarga yang sederhana, ia tak punya mimpi-mimpi atau permintaan mewah kepada orang tua ataupun kepada sang maha kuasa, karena yang ia inginkan cukup dengan hal itu saja. Seteleh berdoa, kegiatan rutinitasnya setiap pagi adalah belajar. Belajar, belajar, belajar dan belajar. Bagi Rio, belajar itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Ia tak pernah sama sekali menganggap belajar itu sebagai suatu hal yang memberatkan. Jika sebagian anak seumurannya menganggap belajar itu adalah sebagai suatu kewajiban, ia malah menjadikan belajar sebagai suatu hobi, hobi yang sangat menyengangkan. Yang tentunya dapat mengusir segala perasaan buruknya. Matanya tak pernah bosan melihat rangkaian kata-kata di atas kertas putih itu. Tangannya tak pernah lelah menari-nari diatas kertas putih itu. Baginya, belajar adalah hal yang paling menyenangkan. Tentunya dapat menyenangkan kedua orang tuanya. Karena siapa orang tua yang tidak suka melihat anaknya rajin belajar, apalagi kesurupan belajar seperti Rio. Rio benar-benar hebat, ia adalah anak yang pintar. Ia adalah anak yang paling pintar dan menonjol diatara saudara-saudaranya yang lain. Begitu pula semangat belajarnya, ia sungguh berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Meskipun darah mereka mengalir dalam satu siklus dan jalur, namun jiwa belajar mereka sangat berbeda sekali. Disaat anak-anak remaja seusianya berlibur untuk mengusir stress karena terus-terusan dipaksa untuk belajar, ia malah melakukan yang sebaliknya. Belajar tetap ia lakukan. Baginya , keindahan pantai sama indahnya dengan menikmati tulisan-tulisan ilmu pengatahuan yang ada di dalam kumpulan-kumpulan buku  yang kaya akan ilmu pengetahuan tersebut. Ia memang sungguh luar biasa…. Tak aneh memang jika setiap semester ia tak pernah tergeseser dari posisi satu. Satu adalah tempat abadi bagi nya. Karena tak seorang pun yang mampu mengalahkan kecerdasannya. Rio…. Ia memang hebat.

***

To be continued….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s