Menggali Mimpi Hingga Ke Kerak Bumi (Eps.2)

“Mohon restu darimu agar hamba tetap konsisten berada di jalur tangga yang telah engkau berikan. Jika ada tiupan badai yang akan menggoyahkan perjalanan hamba, hamba mohon kuatkanlah pegangan hamba, agar hamba tidak terjatuh darinya. Apabila ada hujan mengguyur, mohon ikatkanlah semangat hamba agar ia tidak melepuh diserap air. Apabila panas menyengat, mohon kuatkankan tekad hamba, agar ia tidak meleleh ditengah-tengah perjalanan hamba menggapai mimpi hamba”

Tak aneh memang jika setiap semester ia tak pernah tergeseser dari posisi satu. Satu adalah tempat abadi bagi nya. Karena tak seorang pun yang mampu mengalahkan kecerdasannya. Rio…. Ia memang hebat.

***

climb.jpeg

Pagi ini Rio menyiapkan nasi goreng sebagai sarapan paginya. Dengan tangan yang sangat gesit, ia biarkan tangannya menari-nari diatas wajan penggorengan yang panas. Sedikit keringat tercucur dari tubuhnya, namun dengan siap siaga ia membersihkannya. Untuk ukuran remaja seperti Rio, sarapan pagi itu memerlukan pengorbanan yang amat besar untuk didapatkan. Tidak seperti kebanyakan remaja lainnya, yang paginya hanya menerima hidangan yang sudah siap santap diatas meja. Nasi goreng adalah menu yang paling Rio sukai di pagi hari, perutnya memang sudah sangat terbiasa mengolah nasi goreng. Nasi goreng adalah menu inisiatif Rio untuk menggantikan lauk-pauk yang belum tersedia dipagi hari. Bumbu nasi goreng yang ia buatpun sangat sederhana. Berbahan kecap, bawang putih, cabe, bawang merah dan bawang putih. Masalah rasa jangan ditanyakan, rasanya tidak akan mungkin selezat nasi goreng yang ada di restoran ataupun warung-warung nasi goreng yang berada dipinggir jalan. Namun meskipun demikian, cara Rio menyantapnya sangat menggungah selera. Ia sangat menghargai karyanya sendiri. Meskipun dengan bumbu seadanya, dengan rasa yang ala kadarnya, ia paksakan mulutnya untuk mengunyah sumber energi tersebut. Ia bahkan memiliki motivasi khusus dalam sarapan pagi. Tak lain tujuan akhirnya adalah agar nanti di Sekolah ia bisa bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Meskipun bahan energinya hanya nasi goreng, jangan salah, energinya melebihi remaja-remaja kebanyakan. Ia adalah anak yang sangat periang di sekolah. Pagi ini…. Setelah semua siap. Rio bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Tak lupa sebelum berangkat sekolah, doa andalannya tak pernah ia lupakan.

“Tuhan… telah engkau gantungkan mimpi hamba di langit yang ke tujuh. Saat ini hamba sedang menuju kearah tersebut untuk menggapainya. Melalui juluran tangga yang telah engkau berikan, hamba akan menaikinya dengan senang hati. Hamba yakin suatu hari nanti akan bisa sampai di titik mimpi yang telah engkau tetapkan untuk hamba. Mohon restu darimu agar hamba tetap konsisten berada di jalur tangga yang telah engkau berikan. Jika ada tiupan badai yang akan menggoyahkan perjalanan hamba, hamba mohon kuatkanlah pegangan hamba, agar hamba tidak terjatuh darinya. Apabila ada hujan mengguyur, mohon ikatkanlah semangat hamba agar ia tidak melepuh diserap air. Apabila panas menyengat, mohon kuatkankan tekad hamba, agar ia tidak meleleh ditengah-tengah perjalanan hamba menggapai mimpi hamba. Tuhan… mohon berkati langkah hamba. Amin”

Ia basuh  wajahnya dengan kedua telapak tangan yang telah ia mantrai dengan segala doanya kepada yang maha kuasa sebagai pertanda kesiapannya mengarungi dunia. Tak lupa ia berpamitan kepada kedua orangtunya. Agar tuhan dengan senang hati memberikan kemudahan baginya dalam menggapi mimpi. Setelah semua siap… Rio berangkat kesekolah… Tepatnya, memulai menaiki tangga untuk menggapai mimpi yang sudah disediakan tuhan di atas langit ke tujuh.

***

Tepat pukul 06.30 Rio sudah tiba disekolah. Suasana masih sepi. Pintu gerbang saja masih setengah terbuka. Halaman sekolah masih kotor, katak dan jangkrikpun masih berpesta,  karena petugas kebersihan belum melakukan tugasnya. Suasana pada saat itu hampir seperti malam, sepi, sunyi, hening, hanya saja tak ada rembulan lagi dan suara burung hantu bernyanyi-nyanyi sambil bergoyang linggak-lingguk. Ya… seperti kata ibu, jika Rio ingin menjadi orang yang sukses, maka ia harus selalu lebih cepat dari rata-rata. Jika orang lain datang ke sekolah pada pukul 7.15, maka sudah ditebak kalau ia tidak akan pernah datang pada waktu tersebut, melainkan akan lebih cepat dibandingkan yang lainnya. Setibanya disekolah, ia langsung meletakkan barang-barangnya dibangku kelas yang masih sedikit berdebu. Suasana kelaspun masih sangat kotor, maklum saja, ini adalah hari senin, jadi kelas tidak terurus selama dua hari. Sifat alami seorang Rio, ia tak akan pernah menunggu perintah untuk membersihkan kelasnya. Meskipun senin bukanlah jadwal piketnya, namun ia hampir setiap hari membersihkan ruang kelasnya. Ia adalah ketua kelas. Ia hanya ingin menjadi yang terbaik bagi teman-temannya. Selepas membersihkan kelas, satu dua titik keringat mulai bercucuran diatas keningnya. Sejenak ia tengguk air minum yang dibawanya dari rumah. Dahaganyapun terobati dengan tuntas. Rio membuka tas dan mengambil buku pelajarannya untuk dipelajari. Meskipun semalam ia sudah belajar, bagi Rio waktu adalah emas, oleh karena itu, jika ada waktu luang, maka ia akan langsung memanfaatkan waktu tersebut untuk belajar menambah wawasan ilmunya. Sembari menunggu teman-temannya yang masih belum tiba ke sekolah. Seperti biasa, ia sangat menikmati aktivitas pada pagi itu. Sang mentari tersenyum mengintipnya dari pelupuk timur sana.

mengejar_mimpi_landscape_by_neutron_jowo-d4zrbhz1

***

Pukul 7.15 sudah tiba. Siswa-siswi SMAN 1 Harapan sudah berhamburan menuju ke lapangan hijau sekolah. Lonceng yang cukup keras menusuk telinga lumaya manjur memancing dan memaksa siswa-siswi untuk kelaur dari tempat pertapaan mereka masing-masing. Pak Gatot denga mata menyala-menyala seperti senter mengelilingi seluruh sudut sekolah tanpa ada yang terlupakan. Semua siswa dan siswi tau kalau penglihatan beliau sangat tajam, jadi jangan pernah sekali-kali untuk mencari mati dengan cara konyol dengan cara bersembunyi darinya. Ia ibarat banteng berkepala singa yang tidak akan tanggung-tanggung melabrak mangsanya. Seluruh siswa dan siswi begitu takut kepadanya. Tak ada satupun yang mampu luput dari intaiannya. Sehingga untuk upacara setiap hari senin, bisa dipastikan kalau semua siswa-siswi SMAN 1 Harapan memunculkan batang hidungnya di tengah lapangan hijau sekolah ditemani dengan mentari usil tak bersahabat yang memanaskan raga. Upacara hari ini dipimpin oleh bapak kepala sekolah. Pak Mujahid namanya. Ia sedikit berbeda dengan tempramen pak gatot yang seperti banteng berkepala singa. Pak Mujahid ibarat ulat bulu berbulu landak berlidah kobra. Kecil orangnya, namun sengatannya tidak ada yang bisa membendunginya. Ia memang tak keras dan tak sering memukul seperti pak Gatot, namun perkataanya mampu merobek dan membakar telinga dan hati. Jadi, jangan pernah sekali-kali membuat masalah dengan dirinya. Jika iya, maka rasakan saja panasanya api neraka dunia.

Upacara bendera diikuti dengan sangat khidmat. Semua tatapan kedepan. Tak ada yang berani menengok ke kiri atau ke kanan. Gatal sedikitpun tak ada yang berani untuk menggaruk. Lebih baik ditahan saja, daripada membuat masalah yang berlarut-larut nantinya. Mereka hormat kepada sang merah putih, namun sayang hanya dalam keadaan terpaksa. Mereka ibarat para pemuda pemudi zaman penjajahan dulu, yang dipakasa menghormati bendaera merah putih biru, sedangkan dibarisan belakang teradapat ribuan pasukan bersenjata yang sianp membidikkan senapannya ke ulu hati setiap orang orang yang tidak menajalankan perintah. Pemandangan itu persis terjadi pada pagi yang cerah ini. Pagi yang cerah seharsnya membuat setiap orang merasa bahagia, namun itu tak berlaku bagi siswa siwa SMAN 1 Harapan, hari yang cerah untuk hari senin adalah ibarat doa yang tak dikabulkan oleh sang kuasa. Karena doa mereka adalah agar hujan semestinya turun tepat pada waktu pelaksanaan upacara bendera. Remaja sekarang memang aneh…. Hidup mereka sudah terlalu banyak terkontaminasi oleh budaya barat. Sehingga hanya sekedar upaca bendera saja mereka harus dipaksa dengan pedang baru mereka akan sangat terpaksa untuk mengikutinya. Sang mentari pada pagi itu hanya tertawa sinis melihat siswa-siswi berjemur seperti ikan-ikan bandeng yang dijemur dipinggir pantai. Sedangkan rerumputan tetap bergoyang-goyang ria menyaksikan wajah-wajah keterpaksaan mereka. Sedangkan burung nuri diatas genting perpustakaan hanya bergeleng-geleng menyaksikan calon penerus bangsa yang dikatakan sebagai generasi emas masa depan. Dari seluruh wajah yang tampak terpaksa mengikuti upacara bendera, terdapat satu wajah yang sedikit berbeda dengan yang lainnya. Wajahnya tak seceria biasanya. Raut wajahnya tak menggambarkan bahwa ia benar-benar mengikuti upacara dengan sungguh-sungguh, tak seperti biasanya. Karena biasanya ia adalah satu-satunya siswa yang paling ikhlas mengikuti upacara bendera. Wajah ketakutan, cemas, panik, malu , dan sedih terkombinasi lengkap di dalam rautan wajahnya. Sepertinya pagi yang cerah ini bukanlah harinya. Rio….. tetap memaksa tubuhnya berdiri tegap dan tegar meskipun pada saat itu hatinya hampir meleleh oleh sengatan sang mentari. Sang mentari dari ujung timur sana mengerutkan dahi menyaksikan perbedaan yang terjadi pada hari ini. Rumput-rumput hijau tetap seolah-olah tak peduli dengan keadaan tersebut. Rumput hijau tetap bergoyang-goyang di hempas hembusan angin sepoi-sepoi yang menyemaraki upacara bendera pada pagi yang cerah itu.

***

To be continued….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s