Menggali Mimpi Hingga Ke Kerak Bumi(Eps.3)

Wajah ketakutan, cemas, panik, malu , dan sedih terkombinasi lengkap di dalam rautan wajahnya. Sepertinya pagi yang cerah ini bukanlah harinya. Rio….. tetap memaksa tubuhnya berdiri tegap dan tegar meskipun pada saat itu hatinya hampir meleleh oleh sengatan sang mentari. Sang mentari dari ujung timur sana mengerutkan dahi menyaksikan perbedaan yang terjadi pada hari ini. Rumput-rumput hijau tetap seolah-olah tak peduli dengan keadaan tersebut. Rumput hijau tetap bergoyang-goyang di hempas hembusan angin sepoi-sepoi yang menyemaraki upacara bendera pada pagi yang cerah itu.

***

Hari senin ini adalah tanggal 2 Mei 2012. Hari ini adalah hari bahagia bagi orang-orang yang memiliki penghasilan. Setelah sekian lama dompet mengering, di tanggal ini ia akan tersiram juga dengan deretaan kertas-kertas biru, hijau, dan merah. Yang pada akhir bulan mungkin hanya bebaris poto pahlawan bersenjata pedang,  kini diawal bulan sudah berubah menjadi pahlawan gagah berpeci hitam sambil bespose di depan gedung mewah yang menandakan kebahagiaan dan kemakmuran. Namun tanggal muda ini tak serta merta membuat semua orang bahagia, di upacara bendera hari ini seorang anak muda berfisik kurus sedang di rundung awan gelap, wajahnya terlihat mendung, padahal sang mentari dari upuk timur sana sedang cekikikan menyapa burung-burung nuri yang sedang bermigrasi ke upuk barat. Tak satu orangpun yang mengetahui penyebabnya. Bahkan sang mentaripun terlihat mengerutkan dahi mempertanyakan alasan anak muda yang selalu ceria dan tampak selalu segar itu tiba-tiba dirundung awan mendung, padahal pada pagi hari itu sang mentari telah berhasil mengusir awan mendung dan menciptakan awan biru dan putih yang begitu indah disantap mata. 10 menit lagi upacara akan segera selesai, namun wajah Rio seolah-olah semakin merah dan tegang, apakah ia takut dengan pak Gatot? Atau kepada bapak kepala sekolah? Rasanya tidak. Karena satu-satunya siswa yang tidak takut sama sekali dengan ke dua orang guru itu adalah Rio. Lantas mengapa semakin mendekati berakhirnya upacara hati dan wajahnya seperti semakin mencair bagaikan es batu tersiram sengatan matahari? Sang mentari dari ujung timur sana tetap menatap anak muda itu dengan wajah penuh tanda tanya. Burung-burung gereja diatas atap sekolah seolah-olah berpaduan suara menyanyikan kegundahan wajah Rio. Rumput-rumput hijau masih tetap bergoyang-goyang dibawa endusan angin sepoi-sepoi di pagi yang cerah itu.

***

2014081910564376230
Mimpi akan tetap ku kejar!

Setelah beberapa menit hati dan raga berperang melawan teriknya sengatan matarahari, upacara benderapun berakhir. Upacara diakhiri dengan ditinggalkannya mimbar upacara oleh pembina upacara diikuti oleh keluarnya sang pemimpin upacara dari tengah lapangan yang dihiasi rumput hijau yang sedikit menguning. Setelah upacara bendera berakhir, tidak serta-merta seluruh siswa-siswi membubarkan diri. Melainkan mereka akan langsung duduk di posisi berdiri mereka masing-masing sembari menunggu pengumuman sekolah yang belum disampaikan oleh bapak pembina upacara. Seluruh siswa-siswi melepaskan penat dan lelah mereka masing-masing. Ada yang mengiringinya dengan berbincang-bincang dengan teman sebaris, ada yang duduk sambil meluruskan kakinya, dan ada pula yang lebih memlih untuk diam untuk melepaskan kelelahannya setelah beberapa menit berperang melawan kelelahan. Wajah Rio kali ini tidak lebih baik dibandingkan dengan yang sebelumnya. Kini wajahnya sudah memerah seperti granat yang sudah siap meledak. Denyut jantungnya semakin tak terkendali. Ia terlihat gugup. Rumput hijau kali ini dihiasi oleh suara riuh dari para siswa-siswi yang sedang melampiaskan kelelahannya. Namun kejadian langka ini tak berlangsung lama, pak Sobirin selaku bagian administrasi sekolah naik podium untuk menyampaikan pengumuman penting. Ia tampak membawa jibunan kertas yang entah tak tahu apa isinya. Pak Sobirin adalah staff bagian adiminstrasi sekolah. Ia berutubuh buncit dan kerdil. Ia sudah tua, sehingga matanya sudah bukan dua lagi, melainkan sudah empat. Ia adalah staff yang ramah, namun sayang keramahannya tidak disukai oleh para siswa. Bukan sikap ramahnya sebenarnya yang tidak disukai oleh para siswa, melainkan pekerjaannya. Pak Sobirin setiap hari senin tanggal muda tidak akan pernah lupa dan absen untuk naik ke podium upacara untuk menyampaikan informasi tentang pembayaran SPP siswa-siswi SMAN 1 HARAPAN. Beliau diibaratkan debt collector berdarah dingin yang memberikan pinjaman dengan senyuman manis namun menagih janji dengan sangaran yang luar biasa buas. Pak sobirin memang orang yang baik dan ramah, namun kehadirannya di podim upacara setiap hari senin tanggal muda tidak pernah diharapkan oleh semua kalangan siswa-siswi khususnya yang belum membayar uang sekolah. Bagi yang sudah membayar uang sekolah dengan tepat waktu, maka selamatlah ia, selamat dari corengan nama baik. Namun bagi yang belum membayar uang sekolah, hal ini diibaratkan hari kiamat yang dimana setiap manusia sedang bersiap-siap memperhitungkan amal perbuatannya selama hidup di muka bumi ini. Kali ini ia berdiri di depan seluruh siswa-siswa. Kertas-kertas tebal yang sebelumnya ia bawa dengan kewalahan tadi ia selipkan dibawah ketiaknya dengan erat. Kali ini ia hanya memegang satu carik kertas yang berisi nama-nama siswa-siswi yang belum membayar uang sekolah bulan lalu. Kali ini tampak berbeda, bulan-bulan sebelumnya ia biasanya membawa kertas yang banyak untuk dibaca, paling sedikit 5 lembar, namun kini hanya selembar. Kejadian langka sepanjang tahun ini. Pak Sobirin berancang-ancang mengambil mikropon yang ada di hadapannya. Rio tampak gusar, semakin dekat jangkauan pak Sobirin dengan mikropon, semakin mendidih keringatnya. Matahari seolah-olah berada diatas ubun-ubunya.

***

Plekkk….. ternyata inilah alasan mengapa Rio sepanjang waktu upacara seperti manusia yang sedang berhadapan dengan malaikat maut. Nama Rio tercantum diurutan kedua dari 9 siswa yang belum membayar uang sekolah.

“Berikut nama-nama siswa-siswa yang belum membayar SPP bulan ini:

  1. Febira Amalya Putri
  2. Rio Chierel Wijaya
  3. Markus
  4. ……………………………….. Silahkan maju ke depan!, tanpa saya sebutkan dua kali!” tegas pak Sobirin.

Dengan mata berkaca-kaca namun dengan wajah yang sudah mulai kembali ke seperti sedia kala Rio maju kedepan mimbar upacara bersama 9 siswa-siswi yang telah disebutkan namanya tadi. Kaki Rio terasa sangat berat untuk melangkah. Kakinya seolah-olah ditanam di dalam pasir bercampur semen. Topinya sedikit diperdalam agar dapat menutupi wajahnya, meskipun itu semua tak mampu menutupi identitasnya. Ia melangkah kearah mimbar upacara dimana bapak pembina upacara berdiri sebelumnya. Ia dan 8 orang lainnya berbaris di samping pak Sobirin. Mereka disaksikan oleh 870 siswa-siswi se SMA 1 HARAPAN. Wajah Rio kembali memerah. Ini pertama kalinya ia harus maju dalam keadaan yang berbeda. Karena sebelumnya ia maju ke mimbar upacara selalu dalam keadaan terharu dan bangga sambil memegang piala kemenagan atas lomba yang ia ikuti mewakili sekolah. Namun saat ini berbeda. Waktu tak berpihak kepadanya, dewi fortuna sedang tak ingin dekat dengannya.  Rio merasa ini adalah hal yang sangat memalukan sepanjang sejarah karirnya di sekolah ini.

***

Percaya

Tiba-tiba terlintas wajah sang ayah di kepala Rio, spontan saja air matanya menetes membasahi pipinya yang masih merah. Ibarat arang yang sedang membara tersiram es. Ia tak sadar telah meneteskan air mata. Dengan sembunyi-sembunyi ia usap air mataya agar ia tak semakin malu dengan kejadian tersebut. Semua mata masih tetap tertuju kepada mereka yang ada di depan. Mereka seperti artis ibu kota yang menjadi konsumsi publik. Namun sayang, artis kali ini tidak sama sekali dikehendaki. Semakin tajam tatapan seluruh mata kepadanya, semakin lemah hati Rio pada pagi yang cerah tersebut. Perasaan Rio benar-benar tak menentu. Hatinya terasa diaduk-aduk oleh pisau panas yang tajam. Air keringat yang jatuh di lehernya seolah-olah menjadi darah merah gelap legam yang mengalir. Rio seperti mayat yang dipaksa beridiri. Jiwanya tertanam di tanah, namun hati dan pikirannya sudah melayang entah ke samudra mana. Sekali lagi wajah sang ayah kembali menghampirinya. Semakin jelas gambaran sang ayah dalam benaknya, semakin mendidih darah dalam tubuhnya. Air matanya kembali menetes, lagi dan lagi ia diam-diam mengusapkan air matanya. Matanya tak berani menatap ke depan. Matanya tak berani beperang melawan ribuan mata yang seolah-olah menyerangnya dengan sangat tajam. Doanya hanya satu pada pagi hari itu, agar waktu segera berputar dan mengantarkannya ke jam pelajaran pertama. Setelah dirasa tugasnya selesai, pak sobirin mempersilahkan seluruh siswa-siswi meninggalkan lapangan upacara, kecuali 9 orang yang sudah disebutkan namanya. Semua siswa-siswi dengan wajah yang cerah ceria meninggalkan lapangan upacara dan bergegas ke ruang kelas masing-masing. Burung-burung gereja masih terlihat berjemur diatas atap sekolah. Sedangkan rumput-rumput hijau masih sama seperti sebelumnya, menari-menari di enduskan angin sepoi-sepoi. Sedangkan sang mentari di ujung timur sana sudah berenti mengerutkan dahi, karena rasa penasarn yang sebelumnya mengganjal di benaknya sudah terjawab. Ia juga seolah-oleh ikut bersedih. Ia memilih bersembunyi dibalik awan untuk sementara waktu. Seketika cuaca menjadi gelap namun sejuk. Rio masih tetap berdiri tegak di samping mimbar upacara. Diatas kepalanya seolah-olah mucul kepulan asap hitam pekat karena darah dalam tubuhnya sudah sangat panas mendidih. Semakin dalam ia mengingat ayahnya, seolah-olah semakin besar kepulan asap hitam diatas kepalanya.

***

To Be Continued….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s