Proposal Penelitian ABC

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kondisi perekonomian bangsa indonesia kini semakin berkembang pesat, tak terkecuali daerah provinsi Nusa Tenggara Barat, lebih khusunya pulau Lombok. Perkembangan ekonomi yang semakin pesat ini ditandai dari banyaknya masyarakat yang melakukan pembangunan, baik itu pembangunan tempat tinggal pribadi, hotel, tempat wisata, tempat usaha, dan lain sebagainya yang tentunya menambah deretan bangunan kokoh didaratan yang dikenal dengan pulau seribu masjidnya ini.

Sering dengan pembangunan yang semakin berkembang pesat tersebut, muncul pula beberapa macam usaha yang dijalankan oleh masyarakat guna menafkahi keluarga. Salah satu usaha yang kini populer seiring dengan majunya pembangunan di daerah lombok adalah usaha batako. Usaha batako kini sudah menjamur dimana-mana. Kebutuhan pasar akan produk ini kini sudah semakin meningkat, sehingga memotivasi para pengusaha ulung lainnya untuk bergelut didalam bidang usaha ini.

Batako merupakan salah satu bahan yang dijadikan bahan utama dalam proses pembuaatan suatu bangunan, baik itu rumah, kantor maupun hotel. Batako dirasa lebih efisien dibandingkan dengan bahan lainnya yakni batu-bata. Ukurannya yang lebih besar dan tentunya lebih kuat, menjadikannya produk primadona dalam pembuatan bangunan.

Salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan dalam pembangunan ekonomi adalah tentang usaha pemerintah untuk membina dan melindungi industri kecil dan tradisional. Usaha pembinaan ini secara konseptual dirumuskan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebijaksanaan pengembangan dan pembinaan usaha nasional karena dapat mendukung peningkatan pendapatan masyarakat, dan mampu mengatasi ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial.

Dengan memahami ciri, kondisi, dan keberadaan industri kecil, maka arah yang dituju dalam pengembangan industri kecil adalah meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, memperluas skala industri kecil, memperoleh laba yang  maksimal, dan mempertahankan kelangsungan hidup industri kecil itu sendiri. Para manajer menggunakan informasi biaya produk untuk berbagai keputusan strategis, termasuk penetapan harga, penerimaan dan menolak pesanan penjualan, dan memilih produk mana yang akan dibuat. Jika sistem akuntansi menghasilkan data biaya yang tidak akurat, perusahaan mungkin menjual produknya lebih rendah dari biayanya. Tanpa informasi biaya yang akurat, perancangan yang tidak memberikan nilai tambah.

Hal itu tentu saja sangat kurang efektif yang akan berpengaruh  pada laba yang dihasilkan.

Activity-Based Costing adalah sistem akumulasi biaya dan pembebanan biaya ke produk dengan menggunakan berbagai cost driver, dilakukan dengan menelusuri biaya dari aktivitas dan setelah itu menelusuri biaya dari aktivitas ke produk. (Weygandt et. Al. 1996:940)

       Semakin kompleksnya kegiatan produksi menimbulkan semakin beragamnya jenis biaya yang harus diperhatikan dalam menetapkan harga pokok produksi, dan seringkali perusahaan yang belum memiliki manajemen yang teratur atau perusahaan industri yang berskala kecil mengabaikan biaya-biaya yang seharusnya  diperhitungkan.

Perhitungan harga pokok produksi dapat dikatakan tepat jika suatu perusahaan mampu melakukan perhitungan harga pokok produksi dengan tidak mengabaikan unsur-unsur biaya yang seharusnya dikeluarkan. Komponen- komponen yang dimaksud adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan proses produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, misalnya perusahaan batu apung, maka biaya bahan bakunya adalah   biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh batu tersebut, biaya tenaga kerja langsung yaitu biaya upah untuk para pekerja yang menangani langsung proses pengerjaan batu apung tersebut dan biaya overhead pabrik yaitu biaya selain biaya bahan baku  dan biaya tenaga kerja langsung misalnya biaya bahan penolong. Ketepatan dalam perhitungan harga pokok produksi ini juga berpengaruh terhadap penetapan harga jual produk, dimana penetapan harga produksi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan harga jual yang tinggi sehingga perusahaan mengalami kesulitan dalam pemasaran produk. Sedangkan jika harga produksi ditetapkan terlalu rendah mengakibatkan harga jual rendah sehingga perusahaan mengalami kerugian  karena tidak bisa menutupi biaya produksi.

Activity-Based Costing adalah sistem akumulasi biaya dan pembebanan biaya ke produk dengan menggunakan berbagai cost driver, dilakukan dengan menelusuri biaya dari aktivitas dan setelah itu menelusuri biaya dari aktivitas ke produk.

Pentingnya penentuan harga produksi bagi suatu perusahaan diperkuat oleh pendapat Sugiri (1999:112) yang menyatakan bahwa “penentuan harga pokok produk merupakan salah satu keputusan manajemen. Hidup atau matinya perusahaan dalam jangka panjang bergantung pada keputusan pricing ini.

Dalam penentuan pokok produksi dengan metode ABC terdapat dua metode yang digunakan yaitu metode full costing dan variabel costing. Metode full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi dengan memperhitungkan semua unsur biaya, baik biaya variabel maupun biaya tetap. Sedangkan variabel costing hanya memperhitungkan biaya produksi yang bersifat variabel saja. Sedangkan metode penentuan harga jualnya dengan menggunakan metode harga jual normal dimana harga jual diperoleh dengan menambah laba atau persentase mark up yang diterapkan atas biaya penuh untuk memproduksi dan memasarkan produk.

Mengingat pentingnya harga pokok produksi dalam sebuah usaha maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada UMKM Batako Maliki.

Mengingat pentingnya perhitungan harga pokok produksi yang tepat dalam suatu perusahaan maka Taufik, 2011 melakukan  penelitian tentang harga pokok produksi dalam kaitannya dengan perbandingan antara perhitungan yang dilakukan pada perusahaan dengan teori yang sebenarnya dalam perhitungan harga pokok produksi, hasil penelitian diperoleh bahwa kesalahan dalam penggunaan metode penetapan harga pokok akan mengakibatkan kurang efisien dalam perhitungan harga pokok produksi. Handayani, 2012 telah melakukan penelitian tentang harga pokok produksi kerajinan batik dengan menggunakan perhitungan harga pokok pesanan dengan metode perhitungan perusahaan dan metode full costing, penelitian diperoleh dalam perhitungan harga pokok pesanan dengan menggunakan perhitungan perusahaan menghasilkan harga pokok pesanan yang lebih kecil dari pada metode full costing. Mersi, 2012  melakukann penelitian tentang Harga Pokok Produksi Benih Padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menentukan harga pokok produksi perusahaan sebaiknya menggunakan metode full costing dalam kalkulasi harga pokok produksi benih padi dalam menentukan harga jual.

Dari uraian latar belakang di atas peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul KALKULASI BIAYA DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING SEBAGAI ALTERNATIF PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI PADA UMKM BATAKO MALIKI GUNUNG SARI.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan adalah “Bagaimanakah penetapan harga pokok produksi sebagai dasar penetapan harga jual pada UMKM Batako Maliki?”

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

  • Menganalisis perhitungan harga pokok produk pada UMKM Batako Maliki di Gunung Sari
  • Menganalisis penentuan harga jual yang sesuai untuk memperoleh laba yang ingin dicapai pada UMKM Batako Maliki.

1.4. Manfaat penelitian

  1. Bagi Penulis Sebagai aplikasi dan pengembangan terhadap teori-teori yang telah dipelajari di perkuliahan untuk dapat diterapkan pada permasalahan dalam dunia nyata.

  1. Bagi UMKM

    Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk mengetahui bagaimana penetapan harga pokok produksi.

  1. Bagi Pengembangan Ilmu

    Sebagai acuan atau pertimbangan bagi peneliti berikutnya yang tertarik dalam masalah ini dan ingin menambah serta memperdalam pelelitian ini

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hasil Penelitian Terdahulu

Taufik   (2011), penelitian dengan judul “Penetapan Harga Pokok Produksi Pada Perusahaan Batu-Bata di Desa Kesik Kecamatan Masbagik Lombok timur” hasil penelitian menunjukkan bahwa  perhitungan harga pokok pada usaha maju jaya ini  belum sesuai karena dalam perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan, ada beberapa item biaya yang tidak dihitung yang menyebabkan tingginya harga pokok produksi barang tersebut.

Dari keseluruhan unsur biaya yang  terjadi pada penentuan harga pokok produksi didapatkan harga pokok produksinya sebesar  Rp. 820.715,4 dibagi dengan produksi per unit selama 1 bulan sebesar 3.000 maka harga pokok produksi per unit yaitu sebesar  273 sedangkan perhitungan harga pokok produksi yang ditetapkan pada usaha maju jaya adalah sebesar Rp. 1.300.699,4 dibagi dengan produksi perunit selama 1 bulan  sebesar 3.000 maka harga pokok produksi pe runit yaitu sebesar 433,5. Tingginya biaya yang terjadi pada usaha maju jaya diakibatkan karena pada perhitungan harga pokok produksi pada usaha maju jaya tidak memasukkan unsur biaya persediaan ahir bahan baku yang mengakibatkan harga pokok produksi yang ditetapkan lebih tinggi dibandingkan harga pokok produksi yang ditetapkan dengan perhitungan pendekatan harga pokok produksi.

Handayani (2012), penelitian dengan judul “Perhitungan Harga Pokok Produksi  Dalam Penentuan Harga Jual Pada Industri Kerajinan Batik Sasambo di SMKN 5 Mataram”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan harga pokok pesanan dengan menggunakan perhitungan perusahaan menghasilkan harga pokok pesanan yang lebih kecil daripada metode full costing sehingga laba/rugi kotor yang dihasilkan oleh perhitungan perusahaan lebih besar bila dibandingkan dengan metode full costing yaitu untuk pembuatan batik cap motif kangkung. harga pokok pesanan untuk pembuatan batik cap motif kangkung dengan menggunakan perhitungan menurut perusahaan yaitu sebesar Rp. 8.150.000 dan harga pesanan dengan metode full costing sebesar  Rp. 8.522.000. Dengan perhitungan menggunakan perhitungan perusahaan menghasilkan laba/rugi sebesar RP. 6.250.000. sedangkan perhitungan dengan menggunakan full costing laba kotor yang dihasilkan  sebesar Rp. 2.462.230.

Simanjutak  (2012), penelitian dengan judul “Kalkulasi Harga Pokok Produksi Untuk Menentukan Harga Jual Benih Padi Terhadap PT.Simpertani”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan atas biaya produksi belum sesuai dengan kaidah perhitungan harga pokok produksi berdasarkan standar akuntansi indonesia. Berdasarkan hasil penelitian ini, dalam menentukan harga pokok produksi perusahaan sebaiknya menggunakan metode full costing dalam kalkulasi harga pokok produksi benih padi dalam menentukan harga jual.

Metode yang digunakan oleh perusahaan dalam menentukan harga pokok produksi adalah metode actual. metode ini tidak memasukkan seluruh biaya produksi seperti biaya penyusutan gedung, kendaraan dan  peralatan. Sehingga harga pokok produksi pada perusahaan sebesar Rp. 3.532. dengan metode full costing, harga pokok produksi sudah mencakup keseluruhan biaya. Perhitungan harga pokok produksi dengan metode ini menghasilkan harga produksi yang lebih efisien yang dapat memberikan informasi  tentang klasifikasi biaya yang sesungguhnya, dengan harga pokok produksi sebesar Rp. 3.512.

Tabel 1. Hasil penelitian terdahulu

No Peneliti terdahulu Tujuan Alat analisis Hasil penelitian
1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

 

Suryawan taufik (2011) “Penetapan Harga Pokok Produksi  Pada Perusahaan Batu Bata di Desa Kesik Kecamatan Masbagik Lombok Timur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ria Handayani (2012) “Perhitungan Harga Pokok Produksi Dalam Penentuan Harga Jual Pada Industri Kerajinan Batik Sasambo di SMKN 5 Mataram”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mersi Simanjutak (2012) “Kalkulasi Harga Pokok Produksi Untuk Menentukan Harga Jual Benih Padi Terhadap PT. Simpertani

 

 

 

Untuk membandingkan apakah perhitungan harga pokok produksi yang diterapkan di perusahaan batu bata sudah sesuai dengan teori perhitungan harga pokok produksi yang ditetapkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk mengetahui bagaimana perhitungan harga pokok produksi dan harga jual pada perusahaan kain sasambo di SMKN 5 mataram dan untuk mengetahui nilai dan harga pokok produksi dan harga jual yang seharusnya berdasarkan harga pokok pesanan

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk mengetahui kalkulasi harga pokok produksi dalam menentukan harga jual benih padi pada  PT.Simpertani Narmada

 

Perhitungan harga pokok produksi yang dijalankan oleh perusahaan

Perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan full costing

Perhitungan harga pokok produksi dengan rumus harga pokok produksi persatuan

 

Pengumpulan biaya-biaya

Metode harga pokok pesanan dengan metode pendekatan full costing

Penetapan harga jual

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penetapan harga pokok produksi yang dijalankan oleh perusahaan

Kalkulasi dengan menggunakan pendekatan full costing

Harga jual produk

Perhitungan harga pokok produksi pada usaha maju jaya belum sesuai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

perhitungan harga pokok pesanan dengan menggunakan perhitungan perusahaan menghasilkan harga pokok pesanan yang lebih kecil daripada metode full costing sehingga laba/rugi kotor yang dihasilkan oleh perhitungan perusahaan lebih besar bila dibandingkan dengan metode full costing yaitu untuk pembuatan batik cap motif kangkung

 

perhitungan atas biaya produksi belum sesuai dengan kaidah perhitungan harga pokok produksi berdasarkan standar akuntansi indonesia.

Referensi penelitian di atas memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Sebagian besar penelitian dilakukan diperusahaan yang besar. Persamaan penelitian ini dengan ketiga penelitian di atas sama-sama dalam usaha produksi dalam menentukan harga jual suatu produk. Dari ketiga penelitian tersebut penelitian  mempunyai perbedaan tempat, lokasi dan objek penelitian, dan penelitian ini terfokus dalam  menggunakan perbandingan antara perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan pendekatan metode full  costing dan pendekatan metode variabel costing. Dari uraian persamaan dan perbedaan diatas maka penelitian ini mengadopsi dari penelitian Simanjutak (2012) karena sama-sama melakukan penelitian tentang perhitungan harga pokok produksi pada perusahaan manufaktur.

  • Landasan Teori
    • Pengertian biaya

Objek kegiatan akuntasi diantaranya adalah kegiatan keuangan yang menyangkut biaya. Beberapa pengertian biaya dapat dikemukakan sebagai berikut, menurut Supriyono (2000) biaya adalah harga peolehan yang dikorbankan atau yang digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan (revenues) dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan. Sedangkan menurut Mulyadi (2010:8) biaya adalah merupakan objek yang dicatat, digolongkan, diringkas dan disajikan oleh akuntansi biaya. dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi untuk tujuan tertentu. Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa biaya adalah segala sesuatu yang dikorbankan oleh perusahaan yang dapat diukur dalam satuan uang untuk mendapatkan barang dan jasa yang membawa manfaat bagi perusahaan dimasa mendatang.

2.2.2. Pengertian akuntansi biaya

Menurut Mulyadi (2010:7) akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya. Menurut Bustami dan Nurlela (2006:2) dalam Handayani (2012:12) Akuntansi biaya adalah suatu bidang akuntansi yang mempelajari bagaimana cara mencatat, mengukur dan melaporkan tentang informasi biaya yang digunakan. Disamping itu, akuntansi biaya juga membahas tentang penentuan harga pokok suatu produk yang diproduksi dan dujual di pasar baik guna memenuhi keinginan pemesan maupun menjadi persediaan barang dagangan yang akan dijual.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa akuntansi biaya merupakan proses pencatatan, penentuan hingga penyajian dari pembuatan sampai penjualan produk atau jasa dengan cara-cara tertentu.

  • Metode Penggolongan Biaya

Penggolongan adalah proses mengelompokkan secara sistematis atas seluruh elemen yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk memberikan informasi penting. Berikut ini akan diuraikan jenis biaya berdasarkan penggolongannya.

Menurut Mulyadi (2010 : 13) biaya dapat digolongkan menurut :

  1. Penggolongan biaya menurut objek pengeluarannya.

Dalam cara penggolongan ini, nama objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya objeknya bahan bakar semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut biaya bahan bakar.

  1. Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan

Dalam perusahaan manufaktur ada tiga fungsi pokok, yaitu :

  1. Biaya produksi terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
  2. Biaya pemasaran merupakan biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk, seperti biaya iklan, biaya promosi, biaya angkutan, dan lain-lain.
  3. Biaya administrasi dan umum merupakan biaya untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan produksi dan pemasaran, seperti biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi, personalia, dan lain-lain.
  4. Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai. Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen. Dalam hubngannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan:
  5. Biaya langsung (direct cost).

Biaya terjadi karena adanya sesuatu yang dibiayai, jika sesuatu yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi. Dengan demikian biaya langsung akan mudah diidentifikasikan dengan sesuatu yang dibiayai.

  1. Biaya tidak langsung (indirect cost)

Biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik. Biaya ini tidak mudah diidentifikasikan dengan produk tertentu.

  1. Penggolongan biaya menurut perilaku biaya yang hubungannya dengan perubahan volume kegaiatan. Dalam hubungannya dengan volume kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi:
  2. Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
  3. Biaya semi variabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
  4. Biaya semi fixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume produksi tertentu.
  5. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu.
  6. Penggolongan biaya menurut jangka waktu manfaatnya

Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dibagi menjadi dua yaitu:

  1. Pengeluaran modal (capital expenditure) Merupakan biaya yang mempunyai masa menfaat lebih dari satu periode akuntansi. pengeluaran modal ini pada saat terjadinya dibebankan sebagai harga pokok aktiva dan dibebankan dalam tahuntahun yang menikmati manfaatnya dengan cara didepresiasikan, diamortisasi, atau dideflasi.
  2. Pengeluaran pendapatan (revenue expenditure). Merupakan biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. pada saat teradinya pengeluaran pendapatan itu dibebankan sebagai biaya dan dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran biaya.

  • Pengertian harga pokok produksi

Secara umum harga pokok produksi dapat diartikan sebagai seluruh biaya yang dikorbankan dalam proses  produksi untuk mengelola bahan baku menjadi barang jadi. Adapun biaya-biaya tersebut meliputi biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

Harga Pokok Produksi yaitu semua biaya yang digunakan untuk membuat suatu unit barang jadi yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

 Harga Pokok Produksi adalah kumpulan biaya produksi yang tediri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik ditambah persediaan produk dalam proses awal dan dikurang persediaan produk dalam proses ahir.

Harga pokok adalah jumlah semua pengeluaran-pengeluaran langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan perolehan, penyiapan dan penetapan persediaan tersebut agar dapat dijual. Baridwan (2000:156)

Manfaat informasi harga pokok produksi

            Menurut Mulyadi (2000:65) dalam perusahaan yang berproduksi massa, informasi harga pokok produksi yang dihitung untuk jangka waktu tertentu bermanfaat bagi manajemen untuk:

  1. Menentukan harga jual produk,
  2. Memantau realisasi biaya produksi,
  3. Menghitung laba atau rugi periodik,
  4. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dineraca.

  • Metode Penentuan Harga Pokok Produksi

                           Metode penentuan harga pokok produksi adalah cara memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam  harga pokok produksi. Menurut Mulyadi (2010:17-19) terdapat dua metode pendekatan dalam penentuan harga pokok produksi, yakni:

  1. Metode Full Costing

Metode ini memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yangberperilaku variabel maupun tetap.

Berdasarkan pengertian di atas, Dengan demikian harga pokok produksi menurut metode full costing sebagai berikut :

Biaya bahan baku                          xxx

Biaya tenaga kerja langsung          xxx

Biaya overhead pabrik variabel      xxx

Biaya overhead pabrik tetap           xxx +

Harga pokok produksi                    xxx

  1. Metode Variabel Costing

       Metode variabel costing merupakan metode pendekatan penentuan harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.”

Total harga pokok produk yang dihitung dengan pendekatan full costing terdiri dari unsur harga pokok produksi (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik tetap) ditambah dengan biaya non produksi (biaya pemasaran, biaya administrasi dan umum). Sedangkan harga pokok produksi menurut metode variabel costing terdiri dari unsur biaya produksi berikut ini :

Biaya bahan baku                           xxx

Biaya tenaga kerja langsung               xxx

Biaya overhead pabrik variabel          xxx +

Harga pokok produksi                         xxx

Dengan demikian total harga pokok produk yang dihitung dengan menggunakan pendekatan variabel costing terdiri dari unsur harga pokok produksi variabel (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel) ditambah dengan biaya non produksi variabel (biaya pemasaran variabel dan biaya adaministrasi dan umum variabel) dan biaya tetap (biaya overhead pabrik tetap, biaya pemasaran tetap, biaya administrasi dan umum tetap).

 

Tujuan dan Manfaat Harga Pokok Produksi

       Tujuan penetapan harga pokok produksi adalah sebagai dasar penaksiran harga bagi para produsen untuk barang-barang yang diproduksi dan ditawarkan dipasar tertentu dan juga untuk mengetahui seberapa jauh efisiensi dari suatu proses produksi sehingga pimpinan perusahaan dapat melakukan perencanaan dan pengendalian proses produksi yang efektif.

Mulyadi (2005:7) menyebutkan informasi harga pokok produksi yang dihitung untuk jangka waktu tertentu bermanfaat bagi manajemen untuk :

  1. Menentukan Harga Jual Produk
  2. Memantau realisasi biaya produksi
  3. Menghitung laba atau rugi periodik
  4. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi
  5. Sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan bisnis.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan dan manfaat dalam penentuan hargapokok produksi, yaitu:

  1. Sebagai dasar dalam penetapan harga jual.
  2. Sebagai alat untuk menilai efisiensi proses produksi.
  3. Sebagai alat untuk memantau realisasi biaya produksi.
  4. Untuk menentukan laba atau rugi periodik.
  5. Menilai dan menentukan harga pokok persediaan.
  6. Sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan bisnis.

  • Perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode harga pokok proses

       Berikut ini akan disajikan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam menghitung harga pokok produksi yang dilakukan pada produk yang dilakukan pada produk yang diolah melalui satu departemen.

  1. Menghitung arus produk

       Yaitu berapa jumlah arus produk yang dimasukkan untuk diproses menjadi barang jadi, berapa unit yang ditransfer kegudang dan berapa unit yang masih dalam proses ahir.

  1. Menghitung produksi ekuivalen

Kuantitas produksi ekuivalen mencerminkan jumlah unit jadi untuk membebankan biaya secara adil ke persediaan akhir dalam proses dari unit-unit yang ditransfer ke gudang, maka harus ditentukan tahap penyelesaiannya dari unit yang masih dalam proses akhir. Unit yang masih dalam proses akhir harus dinilai dalam satuan unit jadi dan kemudian ditambahkan pada unit jadi yang sesungguhnya untuk untuk memperoleh kuantitas produksi ekuivalen dalam periode yang bersangkutan dengan menggunakan bahan, tenaga kerja dan overhead pabrik yang dikeluarkan pada periode bersangkutan.

  1. Mengumpulkan biaya

Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah menghitung jumlah unsur-unsur biaya yang dikeluarkan selama periode yang bersangkutan serta menghitung biaya perunit ekuivalen serta menjumlahkan biaya perunit ekuivalen sebagai pengganti unit jadi yang ditransfer sebagai barang jadi.

  1. Menghitung biaya produksi

Pada tahap ini dihitung jumlah biaya yang diserap oleh produk jadi yaitu mengalikan jumlah biaya perunit ekuvalen dengan nproduk yang ditransfer sebagai barang jadi lalu ditambah dengan jumlah biaya yang diserap oleh produk yang masih dalam proses ahir yang diperoleh dengan cara mengalikan biaya jual perunit ekuivalen masing-masing unsur biaya dengan produksi ekuivalen dari masing-masing unsur biaya.

  • Harga jual

 Pengertian harga jual

       Dalam perusahaan yang berorientasi pada laba maupun yang tidak berorientasi pada laba haruslah menetapkan harga bagi produk ataupun pelayanan yang mereka hasilkan. Hal ini dikarenakan harga jual produk atau jasa merupakan penentuan bagi permintaan pasar dan dapat mempengaruhi posisi persaingan perusahaan. Dan dalam bentuk persaingan apapun harga suatu barang atau jasa harus selalu menjamin kelangsungan hidup perusahaan, sebab tujuan utama mendirikan bukan untuk tujuan jangka pendek saja melainkan untuk tujuan jangka panjang. Untuk itu maka perusahaan dapat menetapkan harga jual harus selalu memperhitungkan dengan cermat unsur-unsur yang membentuk suatu produk atau jasa yang dihasilkan.

Berikut akan disajikan pengertian tentang harga sebagaimana yang dikemukakan oleh Mulyadi (2001:80) bahwa harga jual suatu produk terbentuk dipasar sebagai interaksi antara jumlah permintaan dan penawaran. Namun manajemen puncak memerlukan informasi biaya penuh untuk memperhitungkan konsekuensi laba dari setiap alternatif harga jual yang terbentuk dipasar. Oleh karena itu dalam keadaan normal, manajemen puncak harus memperoleh jaminan bahwa harga jual produk dipasar dapat menutup biaya penuh untuk menghasilkan produk atau jasa tersebut dan dapat menghasilkan laba yang wajar.

  • Metode penentuan harga jual

Prinsip yang menjadi pedoman bagi setiap perusahaan adalah menentukan tarif harga jual yang harus dapat menutup semua biaya yang dikeluarkan, baik biaya produksi maupun biaya non produksi. Oleh karena itu secara ringkas dapat dikatakan bahwa pada umumnya biaya dipandang sebagai titik tolak dalam penentuan harga jual suatu produk.

Menurut Mulyadi (2001:350) terdapat empat metode penentuan harga jual terdiri dari:

  1. Penentuan harga jual normal (Normal Price).

Metode penentuan harga jual normal cost plus pricing adalah penentuan harga jual dengan cara menambahkan persentase mark up yang diharapkan diatas biaya penuh dimasa yang akan datang untuk memproduksi atau memasarkan produk. Harga jual produk atau jasa dalam keadaan normal berdasarkan metode ini dihitung dengan rumus:

Harga jual = Taksiran biaya penuh + Laba yang diharapkan.

  1. Penentuan harga jual dalam cost-type contract (cost-type contact pricing)

Dalam keadaan normal harga jual berdasarkan cost-type contract yang dibebankan kepada konsumen dihitung berdasarkan biaya penuh sesungguhnya yang dikeluarkan untuk memproduksi atau memasarkan produk

  1. Penentuan harga jual pesanan khusus (special cost pricing)

Dalam mempertimbangkan pesanan khusus, informasi akuntansi diferensial merupakan dasar yang dipakai sebagai landasan penentuan harga jual. Jika harga yang diminta oleh pemesan lebih besar dari biaya diferensial yang berupa biaya variabel untuk memproduksi atau memasarkan pesanan khusus tersebut, maka pesanan khusus dapat dipertimbangkan untuk diterima.

  1. Penentuan harga jual produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan yang diatur dengan peraturan pemerintah.

Penentuan harga jual produk atau jasa yang ditentukan oleh pemerintah didasarkan pada biaya penuh masa yang akan datang yang dipergunakan dalam penentuan harga jual dihitung dengan menggunakan metode full costing.

 

  • Kerangka Berpikir Penelitian

Gambar 2.1. kerangka berpikir penelitian

Hasil Penelitian:

Adanya harga jual yang sesuai untuk setiap pengusaha Batako di Gunung Sari.


BAB III

METODE PENELITIAN

 

  • Jenis Penelitian

Metode atau jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskriptifkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu biasanya berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena yang lainnya.

3.2. Tehnik dan Alat pengumpulan Data

Tehnik dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini sangat berpengaruh penting untuk memperoleh data yang akurat tentang perusahaan yang terkait. Ada tiga teknik pengumpulan data yang dapat dilakukan dalam penelitian yaitu:

  1. Studi Pustaka

Studi pustaka merupakan suatu teknik untuk mendapatkan data teoritis yang memperoleh pendapat para ahli teorinya melalui sumber bacaan. Penulis memperoleh data dengan membaca buku, membaca internet, artikel, dan referensi lainnya yang didapatkan yang berkaitan dengan judul yang diangkat oleh penulis yaitu yang berhubungan dengan dengan metode activty based costing dalam penentuan harga pokok produksi.

 

  1. Observasi

Observasi diartikan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Penelitian lapangan ini dilakukan dengan cara meninjau langsung objek penelitian yaitu pengusaha Batako bapak Maliki untuk memperoleh data.

  1. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpuln data yang dilakukan dengan proses tanya jawab yang dilakkukan secara langsung antara pewawancara dengan informan atau responden (Sugiono dalam Rianto, 2007:42).

  • Jenis dan Sumber Data
    • Jenis data

Data yang digunkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Data kualitatif yaitu data yang berhubungan dengan kategorisasi, karakteristik berwujud pernyataan atau berupa kata-kata. Data ini biasanya didapat dari wawancara dan bersifat subjektif sebab data tersebut ditafsirkan lain oleh orang yang berbeda.

    (Riduan, 2003:5-7)

3.3.2. Sumber data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Data primer yaitu data yang berasal dari sumber asli atau pertama. Data ini tidak tersedia dalam bentuk terkompiliasi ataupun dalam bentuk file-file. Data ini harus dicari melalui nara sumber atau dalam istilah teknisnya responden, yaitu orang yang kita jadikan objek penelitian atau orang yang kita jadikan sebagai sarana mendapatkan informasi atau data.

(Namirawati, 2008:98).

  • Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel
    • Identifikasi Variabel

Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:

  1. Harga pokok produksi terdiri dari:
  2. Biaya bahan
  3. Biaya tenaga kerja
  4. Biaya overhead pabrik
  5. Harga jual produk
    • Definisi Operasional Variabel

Harga pokok produksi

Harga pokok produksi merupakan jumlah biaya barang yang diselesaikan selama periode berjalan. Hansen and Mowen (2006). Adapun unsur-unsur biaya produksi dapat digolongkan kedalam:

  1. Biaya bahan baku

Pemakaian bahan pada perusahaan batu apung adalah bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku dalam penelitian ini adalah batu itu sendiri, sedangkan bahan penolongnya adalah air.

  1. Biaya tenaga kerja

Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh perusahaan, merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja yang berhubungan dengan proses produksi dan produk jadi.

  1. Biaya overhead pabrik

Biaya overhead pabrik adalah semua elemen biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan selain biaya bahan dan biaya tenaga kerja, yang termasuk biaya overhead pabrik adalah biaya penyusutan peralatan.

  • Model Analisa Data

Metode yang digunakan untuk menentukan harga pokok produksi dalam penelitian ini adalah metode full costing dan metode perusahaan. Penggunaan kedua metode ini bertujuan untuk membandingkan harga pokok mana yang akan memberikan harga pokok produksi perunit terendah. Pemilihan harga pokok produksi terendah ini didasarkan pada tujuan sosial pemilik yaitu harga yang terjangkau. Metode yang menghasilkan harga pokok produksi per unit terendah dan sesuai dengan kondisi perusahaan akan dipilih sebagai alternatif penetapan harga pokok produksi bagi perusahaan.

  • Metode penetapan harga pokok produksi dengan menggunakan metode variabel costing

Metode variabel costing merupakan metode pendekatan penentuan harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.”

Total harga pokok produk yang dihitung dengan pendekatan full costing terdiri dari unsur harga pokok produksi (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel dan biaya overhead pabrik tetap) ditambah dengan biaya non produksi (biaya pemasaran, biaya administrasi dan umum). Sedangkan harga pokok produksi menurut metode variabel costing terdiri dari unsur biaya produksi berikut ini :

Biaya bahan baku                        xxx

Biaya tenaga kerja langsung      xxx

Biaya overhead pabrik variabel  xxx +

Harga pokok produksi                  xxx

Dengan demikian total harga pokok produk yang dihitung dengan menggunakan pendekatan variabel costing terdiri dari unsur harga pokok produksi variabel (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel) ditambah dengan biaya non produksi variabel (biaya pemasaran variabel dan biaya adaministrasi dan umum variabel) dan biaya tetap (biaya overhead pabrik tetap, biaya pemasaran tetap, biaya administrasi dan umum tetap).

  • Metode penetapan harga pokok produksi dengan pendekatan full costing

Metode full costing yaitu metode penetapan harga pokok produksi yang membebankan seluruh biaya produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik, baik yang bersifat variabel maupun tetap.

Harga pokok produksi menurut metode full costing terdiri dari:

Biaya bahan baku                                                   Rp.XXX

Biaya tenaga kerja                                                   Rp.XXX

Biaya overhead pabrik tetap                                              Rp.XXX

Biaya overhead pabrik variabel                             Rp.XXX +

Harga pokok produksi                                                         Rp.XXX

 

         Harga jual = Biaya  produksi + Biaya non produksi + Laba yang                            diharapkan.  Mulyadi (2001:79)
 

DAFTAR PUSTAKA

Baridwan, Zaki. 2000,  Intermediate Accounting,  Edisi Tujuh,  BPFE, Yogyakarta.

Handayani,  Ria. 2012,  Perhitungan Harga Pokok Produksi  Dalam Penentuan

Harga Jual Pada Industri Kerajinan Batik Sasambo di SMKN 5 Mataram, skripsi STIE AMM Mataram.

Hansen, D.R dan Mowen, M.M, 2001, Manajemen Biaya: Akuntansi dan Pengendalian. Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta.

Mulyadi. 2001,  Akuntansi Manajemen,  Konsep, Manafaat dan Rekayasa,  Edisi Tiga,  Cetakan Ketiga,  STIE YKPN,  Yogyakarta.

Mulyadi. 2010,  Akuntansi Biaya,  Edisi Lima,  bagian penerbit FE UGM, Yogyakarta.

Nazir,  Moch.  2003.  Metode Penelitian. Ghalia Indonesia,  Jakarta

Supriyono, R. A.  SU. 2007, Akuntansi Biaya,  Pengumpulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok Produksi,Edisi Dua,  Cetakan Keenam,  BPFE,  Yogyakarta.

 

Simanjutak,  Mersi. 2012,  Kalkulasi Harga Pokok Produksi Untuk Menentukan Harga Jual Benih Padi Terhadap PT. Simpertani, skripsi STIE AMM, Mataram.

Supriyono.  2000,  Akuntansi Biaya,  Buku Satu,  Edisi Dua,  BPFE,  Yogyakarta.

Taufik,  Suryawan. 2011,  Penetapan Harga Pokok Produksi Pada Perusahaan Batu- Bata di Desa Kesik Kecamatan Masbagik Lombok timur, skripsi  STIE AMM. Mataram.

Tandiontong, Mathius. 2011. Ardisa Lestari. Peranan Activity Based Costing dalam Perhitungan Harga Pokok Terhadap Peningkatan Profitabilitas Perusahaan (Studi Kasus pada PT.Retno Muda Pelumas Prima Tegal). Akurat Jurnal Ilmiah Akuntansi Nomor 5 Tahun ke-2 Mei- Agustus.

Martusa, Riki. Dkk. 2010. Peranan Metode Activity Based Costing dalam Menentukan Cost of Goods Manufactured. Akurat Jurnal Ilmiah Akuntansi Nomor 5 Tahun ke-1 Mei-Agustus.

Dicky, Yoanes. Riki Martusa. 2011. Penerapan Activity Based Costing System dalam Perhitungan Profitabilitas Produk. Jurnal Akuntansi , Volume 3 , No.1 Hal. 69-89

Ittner, Christoper. et.al. 2002. The Association Between Acitivity Based Costing and Manufacturing Performance. Journal of Accountin Reseacrh Vol.40

Tornberg, Katja. 2002. Activity Based Costing and Process Modeling for Cost-Conscious Product Design : A Case Study in Manufacturing Company. Int.J. Production Economics page:75-82

Michael. 2009. Recognition Of Idle Resources in Time-Driven Activity Based Costing and Resource Consumption Accounting Models. Volume 7 Number 2.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s