Terlalu Sibuk Menghujat GAY, Hingga Kita Sendiri Lupa Akan Retak Di Cermin Kehidupan Kita Sendiri Yang Belum Mampu Kita Tutupi.

Cinta itu memang buta, tak bermata. Namun percayalah, cinta itu tidak akan pernah salah dalam memilih hati yang tepat.

Dizaman yang sudah serba modern ini, dimana segala sesuatu sudah dikendalikan oleh teknologi dan internet, kemudian segala sesuatu sudah berbau kearah kemajuan, namun masih saja kita temukan kebanyakan orang yang masih belum bisa membuka mata mereka lebar-lebar dengan permasalahan gay. Hingga detik ini gay masih dianggap sebagai suatu penyakit, yang seolah-olah bisa menyebar kapan saja, dan menjangkiti orang lain sehingga orang lain menjadi terinfeksi virus gay. Menurut saya pribadi, pemikiran ini masih terlalu sempit.

17610106-gay-love-card-Vector-poster-with-two-cups-and-abstract-gay-heart-Stock-Vector

Berikut alasan pribadi saya mengapa Gay tidak perlu di hujat ataupun dibenci.

  1. Hak Asasi Manusia, Mereka adalah Manusia yang Merdeka

Kita tahu bersama, bahwa setiap manusia yang terlahir ke dunia ini telah mengantongi sertifikat kemerdekaan dari yang maha kuasa. Tuhan tak pernah menurunkan manusia ke dunia ini dalam keadaan leher diikat oleh tali yang akan akan mengekang setiap gerak-geriknya selama menjalani hidup di dunia ini. Ketika manusia sudah dilahirkan ke dunia ini, tuhan telah menyerahkan seluruh keputusan kepada manusia itu sendiri, sebagai manusia yang telahir meredeka, maka ia akan mengemban tanggung jawab yang besar yang nantinya harus dipertanggungjawabkan dihadapan yang maha kuasa. Oleh karena itu, mengapa kita harus menyibukkan diri dengan menghakimi orang lain, mengganggu kebebasan orang lain sedangkan kita sendiri tidak ingin diganggu? Tindakan kita sendiri akan kita pertanggungjawabkan oleh diri kita sendiri saja, buka orang lain. Begitu juga dengan dia, tindakannya akan ia pertanggungjawabkan pula kelak dihadapan yang maha kuasa. Manusia harus bisa menghargai hak asasi manusia yang lainnya agar kehidupan bermasyarakat menjadi tentram dan damai. Jangan selalu merasa hak asasi kita sendirilah yang paling tinggi dan benar dan selalu ingin dihargai.

  1. Gay Isn’t Disiases

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang merupakan organisasi terbesar yang mencakup seluruh negara di duniapun telah bersepakat untuk berbelok haluan dari yang sebelumnya mencibir gay menjadi mendukung gay. Mereka telah mendeklarasikan kepada dunia bahwa gay bukanlah penyakit, seperti yang kebayakan orang awam justifikasikan. Jika memang gay itu adalah penyakit? Astaga…. Sungguh kasihan nasib orang-orang yang terlahir sebagai gay ke dunia ini. Mari berimajinasi, jika sebelum lahir kedunia ini, kemudian tuhan memberikan pertanyaan, “Apakah engkaku ingin terlahir ke dunia sebagai Gay?”, tentu anda akan menolaknya mentah-mentah, karena anda sudah tau konsekuensi menjadi gay di dunia nanti akan dihujat oleh seluruh penguni bumi bahwa anda terlahir dengan membawa penyakit. Oleh karena itu, apakah pantas kita menghujat mereka dengan sebutan sebagai orang yang penyakitan?  Adilkah tuhan kepada seluruh manusia di dunia ini? Mengapa ia gay sedangkan yang lain tidak? Mungkin hujatan anda disimpan dan dibuang saja kearah yang lain. Mereka tak memiliki kesalahan apapun. Gay bisa diobati? Jika memang benar bisa, maka di negara-negara maju tidak akan ada gay. Sayangnya, kemjuan teknologi di negara maju tak mampu menemukan obat untuk gay, karena memang gay bukan untuk diobati. Gay bukan orang yang sakit.

  1. Dunia Ini Demokratis

Ketika kita berbicara mengenai demokrasi, kita akan senantiasa menghubungkannya dengan kemerdekaan dan kebebasan individu, yang tentunya kebebasan yang bertanggung jawab, bukan kebebasan yang tak terkendali. Oleh karena dunia itu demokratis, mengapa kita harus sibuk mengganggu kehidupan demokrasi orang lalin?

  1. Mengapa Sibuk mengurusi Mereka? Apakah kita sudah Benar?

Mungkin banyak orang yang sudah dapat memperkirakan kalau kaum gay masuk neraka akibat keputusannya. Lantas apakah anda juga yakin akan masuk surga? Masalah surga atau neraka itu adalah urusan yang diatas, bukan urusan yang dibawah. Mengapa kita harus sibuk mengatur hidup mereka, sedangkan hidup kita saja masih belum benar? Apakah kita benar-benar yakin telah berada pada rel yang benar? Lebih baik kita fokus mempersiapkan bekal ibadah kita masing-masing sesuai dengan keyakianan yang kita yakini tanpa harus mencampuri urusan orang lain.

  1. Life is Choice

Kita semua sudah tidak asing lagi dengan ungkapan tersebut, bahwa hidup ini penuh dengan pilihan. Setiap tindakan yang kita lakukan tidak akan pernah terbebas dari yang namanya risiko, yang ada hanyalah sebarapa baik bagi kita untuk memlih pilihan tersebut dengan bijak. Setiap orang memiliki pilihannya masing-masing, yang tentunya telah dipikirkan matang-matang oleh pribadi orang tersebut. Lantas, mengapa kita harus mencampuri pilihan orang lain, itu adalah pilihan mereka, maka biarkanlah mereka untuk menikmati pilihan yang sudah mereka pilih. Mari kita hargai pilihan mereka. Karena saya rasa pilihan andapun juga ingin dihargai oleh orang lain.

  1. You Do That, You Get That

Hidup ini simple, dibumbui dengan bumbu yang sangat sederhana, dihiasi dengan rumus yang sangat supel, anda yang melakukan, maka andalah yang akan mendapatkannya. Siapa yang menanam, dialah yang akan memetiknya kelak. Kata-kata ini sudah tepat bukan? Dan saya rasa anda semua sudah memahaminya bulat-bulat. Lantas ketika setiap perbuatan yang kita kerjakan kelak akan memberikan hasil kepada masing-masing orang yang mengerjakannya, mengapa kita harus pusing memikirkan punya orang lain. Setiap orang memiliki visi hidup masing-masing, mengapa kita harus ikut campur masalah urusan orang lain? Sekalipun anda masih menganggap mereka telah menanam buah yang salah, toh kelak anda tidak akan memetiknya kan? Anda tentu akan memetik buah yang telah anda tanam sebelumnya, begitu juga dengan dia. Lantas? Ketika setiap orang telah menanam buahnya masing-masing, mengapa kita harus mengganggu tanaman orang lain? Belajarlah menghargai tindakan orang lain. Jangan menghakimi orang lain melalui sudut pandag pribadi semata. Hidup egois hanya akan melemahkan hati dan mental saja.

  1. They go to Heaven Or Hell, They Won’t Bring You.

Bagi anda yang percaya akan surga dan neraka, mohon tetap tenanglah. Kita semua percaya, bahwa tempat bagi orang yang banyak beramal buruk adalah neraka, dan tempat bagi orang yang lebih banyak beramal baik adalah surga. Namun kita juga harus ingat, masuk atau tidaknya seseorang kedalam surga atau neraka adalah hak prerogatif dari sang maha kuasa. Bukan atas kehendak atau justifikasi manusia itu sendiri. Orang yang rajin ibadah saja belum tentu masuk surga bukan? Dan perlu juga diingat, jika memang gay itu dipercaya sebagai perbuatan yang mengasilhkan dosa, lantas biarkan saja mereka melakukannya. Itu adalah keputusan mereka. Apakah ketika mereka masuk neraka, mereka akan membawa kita? Tidak bukan? Atau apakah ketika mereka masuk surga mereka juga akan membawa kita? Tidak juga bukan? Lantas… mengapa kita harus menyibukkan diri untuk mengganggu keputusan hidup orang lain? Bukannkah kita juga tak suka apabila ada orang lain yang ikut campur masalah pribadi kita? Mungkin kita harus sering-sering berpikir bagimana rasanya menjadi diri sendiri dan orang lain. Agar kita tak semena-mena dalam menusuk orang lain, karena sebelumnya kita pernah merasakan sakitnya tusukan itu.

  1. Love Is Blind, but He Never Wrong to Choose

Mungkin semua orang tahu bahwa cinta itu buta. Cinta membuat semua orang menjadi buta dan tak sadarkan diri. Cinta membuat orang buta sehingga membuat orang rela melakukan apapun demi mempertahankannya. Cinta itu memang buta, tak bermata. Namun percayalah, cinta itu tidak akan pernah salah dalam memilih orang yang tepat. Begitu pula dengan gay, mereka memilih cinta yang sesuai dengan keinginan mereka, dan mereka memilih untuk mencintai sesama jenisnya, lantas mengapa kita harus mengganggu keputusannya? Tidak bahagiakah kita melihat orang lain bahagia dengan orang yang dicintainya? Atau saya balik bertanya kepada anda yang saat ini mengaku normal, maukah anda hidup dengan orang yang tidak anda cintai? Tidak bukan? Nah… lantas mengapa harus mencibir gay atas keputusannya untuk mencintai orang lain yang meskipun sesama jenis?

  1. To Save Woman Actually

Ketika kita telah membiarkan mereka memilih jalur mereka untuk memilih siapa yang mereka inginkan untuk mendampingi hidup mereka, hal itu sebenarnya telah menyelamatkan para wanita yang ada di dunia. Mengapa demikian? Karena jika kita tetap menghujat dan mencibir mereka, mereka yang belum ketahuan gay akan memaksakan dirinya untuk menikahi perempuan. Mereka akan sepintar mungkin untuk menutupi hasrat seksualnya. Dia akan berusaha berpura-pura untuk mencintai perempuan, padahal hatinya hancur berkeping-keping dipaksakan mencintai orang yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Kita sudah hafal betul bukan, sebaik-baik bangkai dikuburi, baunya suatu saat akan tetap tercium? Begitu juga dengan penyamaran gay dalam menikahi perempuan. Lambat laun sang istri akan mengetahui orientasi suaminya, dan disaat itulah ia akan mengetahui suaminya adalah gay. Lantas bagaimana perasaan sang perempuan? Hancur bukan? Jika ia tau sebelumnya sang suami gay, mungkin ia akan berpikir ulang untuk menikahinya. Namun sayangnya ia tak mengetahuinya karena sebelumnya sang suami tak mengaku. Ia tak berani berterus terang, karena desakan sosial yang mengancam hidupnya.

  1. Normal Or Not, It depens On what Glasses You Used

Banyak orang yang mengatakan kalau gay itu adalah suatu hal yang tidak normal atau dengan kata lain abnormal sex orientation. Sebenarnya definisi dari kata normal itu sendiri tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Sebagai contoh, jika di daerah A memakai baju putih adalah sesatu yang normal dan anda memakai baju hitam di daerah tersebut, maka secara otomatis anda akan dicap sebagai orang yang tidak normal. Begitu juga dengan daerah B, di daerah tersebut memakai baju hitam adalah sesuatu yang normal, namun anda tiba-tiba memakai baju putih, maka orang  yang ada disanapun akan memeberi cap anda sebagai orang yang tidak normal. Oleh karena itu, dari contoh yang telah saya berikan diatas, kata normal itu sendiri tidak baku. Tergantung dari sudut pandang mana anda mampu melihatnya. Begitu juga dengan gay normal atau tidak. Ketika sekarang anda mengatakan kepada orang yang hetero, mengenai definisi normal sex orientation, tentu ia akan menjawab normal sex orientation adalah ketika laki-laki mencintai lawan jenisnya yakni perempuan. Namun jika pertanyaan yang sama anda lontarkan kepada gay mengenai definisi normal sex orientation, maka meraka akan menjawab normal sex orientation is when man loves man. Lantas, masih bisakah kita mengatakan gay is not normal? Normal definition is depending on what glasses you used to justify it. Think normally for this.

Rainbow_Love_by_LesboWorld.jpeg

Dari apa yang sudah saya paparkan diatas, itu semua hanyalah perspektif saya pribadi. Saya adalah seorang manusia biasa yang tak akan pernah luput dari segala macam kekeliruan. Mungkin setelah membaca artikel ini akan ada banyak orang yang tidak akan setuju dengan apa yang sudah saya paparkan, bahkan mungkin futher implicationnya saya akan terkena hujatan dari ribuan bibir yang membara dengan api kemarahan. Namun apa yang telah saya paparkan diatas setidaknya bisa dilihat dari sisi yang berbeda, bukan hanya sisi yang negatif saja. Kita semua berhak hidup bahagia. Dan kita semua tak memiliki hak sama sekali untuk melarang atau mengambil kebahagiaan orang lain. Jika anda memang tidak menyukai gay, ambillah tindakan dengan cara diam. Jangan ikut campur, selama itu tak membahayakan kehidupan anda. Sebelum kita menghujat gay, mungkin alangkah baiknya kita introspeksi diri sendiri. Hanya tuhan yang maha tahu apakah seseorang itu pantas atau tidak untuk masuk kedalam surganya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s