Ketika Dunia Nyata tak Semirip dengan Film Indonesia Namun Justru Sama Dengan Film Hollywood.

Konflik-konflik yang ada merupakan bumbu-bumbu pahit dan manis yang memang sengaja ia cipatkan agar skenario kehidupan dibumi berjalan sesuai dengan jalur yang telah ia tetapkan jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan ratusan tahun sebelum manusia itu sendiri lahir ke dunia ini.

Hollywood Sign
Hollywood, Los Angeles, California, USA — Hollywood Sign — Image by © Robert Landau/CORBIS

Dunia film adalah dunia khayalan. Dunia yang berjalan berdasarkan skenario dan imajinasi tak terbatas manusia semata. Dunia film adalah panggung sandiwara. Dimana seluruh pemain yang terlibat didalamnya merupakan hasil rekayasaan dari sang pengatur jalannya cerita, yakni sang sutradara. Layaknya dunia nyata, film menayangkan berbagai macam adegan yang serupa dengan kehidupan yang sedang kita jalani saat ini. Film berputar layaknya cerminan dari kehidupan yang saat ini sedang kita geluti. Meskipun kita sudah telak mengetahui settingannya, namun film tetap mampu membius jiwa dan mata penonton hingga terbawa arus kehidupan yang sudah diatur oleh sang sutradara. Filmpun memang layak untuk diacungi jempol, karena iapun mampu untuk mengaduk-aduk jiwa penontonnya hingga tercampur baur.

Berbicara mengenai film, setiap negara memiliki model film masing-masing. Namun dari sekian film yang ada di seluruh penjuru dunia ini, aliran dan model film yang paling mendunia adalah film bollywod yang berasal dari India dan Hollywood yang berasal dari negeri paman sam sana. Dalam tulisan ini saya tidak akan banyak mengupas mengenai film bollywood. Dalam tulisan ini saya akan lebih banyak memfokuskan diri untuk membahas film tanah air dan film hollywood sebagai bahan komparasi.

Jika anda mendengar atau membaca kata Hollywood, apa yang ada di benak anda? Film bukan? Yess… tepat sekali. Hollywood memang tidak akan pernah terlepas dari dunia film. Hingga kini, hollywood masih kuat menjadi raja dunia perfilman di dunia. Film-film yang disajikan tidak pernah sungkan-sungkan atau setengah-setengah, dan pendapat ini sudah di dukung oleh seluruh mata dunia. Seluruh negeri mengakui kesempurnaan film hollywood. Film hollywood memang kaya akan alur cerita, aktor, aktris, dan teknologi. Mereka senantiasa mampu membius mata penonton untuk kembali dan kembali lagi untuk menonton. Cap jempol memang pantas untuk mengapresiasi masterpiece mereka.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia memang tidak bisa disandingkan dengan film sekelas hollywood, namun bukan berarti film Indonesia tak berkualitas. Bangsa indonesia masih dalam tahapan belajar, sehingga suatu hal yang wajar apabila kualitasnya masih belum mampu sejajar dengan film hollywood.

Tulisan ini tidak akan banyak membahas mengenai hal diatas, namun dalam tulisan ini saya akan lebih melihat perspektif yang berbeda dari kedua aliran film tersebut. Perspektif yang saya lihat adalah mengenai alur dan jalan cerita dari kedua aliran film tersebut. Jika dilihat secara sepintas, mungkin sebagian diantara kita akan mengatakan sama saja, namun apabila kita sedikit lagi lebih detail melihatnya, maka benang merahnya akan dapat kita simpulkan.

Didalam film Hollywood, tidak ada aktor ataupun aktris yang pure antagonis atapun protagonis. Mereka diibaratkan memiliki gabungan kedua watak tersebut. Mereka beranggapan bahwa, tidak akan selamanya manusia itu akan melakukan kebaikan di dunia ini, begitu juga sebaliknya. Tidak akan selamanya manusia akan berbuat kejahatan di dunia ini, meskipun kita sudah memberikan label jahat kepada orang lain. Didalam film hollywood, pemeran utama memang sering digambarkan protagonis, namun jika kita melihat lagi lebih detail hingga akhir film, ia tak selamanya menjadi baik. Dilain kesempatan sang tokoh dihadapkan pada suatu kondisi tertentu yang menjadikan ia harus melanggar aturan hidup demi mempertahankan dirinya maupun orang-orang sekitar yang dicintainya. Mereka tetap memiliki sikap egois, yakni mementingkan kepentingan diri sendiri, maupun golongannya sendiri. Mereka bahkan akan menendang jauh-jauh tokoh lain yang dianggap mengganggu ketenangannya. Sehingga tak heran, jika tiba-tiba sang tokoh malah berubah menjadi seekor srigala yang siap memangsa musuhnya, dan sedetik kemudian berubah menjadi kucing putih yang manis.

Hal ini berbeda dengan kondisi film yang ditayangkan di Indonesia. Ketika satu tokoh sudah menjadi protagonis, maka dari awal hingga akhir kita akan senantiasa melihat mereka berbuat baik, yang seolah-olah mereka manusia yang tak berdosa yang tak pernah melakukan perbuatan tercela. Begitu pula dengan sang tokoh antagonis. Maka dari awal hingga akhir mereka akan senantiasa digambarkan sebagai tokoh yang jahat dan kejam, yang dimana seolah-olah setiap langkah kakinya merupakan panggilan setan. Dalam film Indonesia, sekali protagonis, maka selamanya ia akan digambarkan melakukan kebaikan. Sedangkan pihak antagonis, akan selamanya pula dibambarkan melakukan perubatan-perbuatan yang salah dan merugikan orang lain.

Pertanyaan besarnya adalah, apabila anda masuk kedalam dunia film tersebut, akan menjadi tokoh apakah anda? Protagonis atau antagonis? Saya rasa sebagian bahkan seluruh anda akan menjawab protagonis. Karena seperti yang kita ketahui, disetiap film, sang tokoh protagonis selalalu medapatkan happy ending. Namun apakah anda yakin sebagai seorang protagonis dalam kehidupan sehari-hari?

Buang sampah tepat pada tempatnyakah anda?

Senyumkah anda kepada tetangga sebelum berangkat kerja?

Tidak pernahkah anda menyakiti orang lain? Keluarga, sahabat, teman?

Tidak pernahkah anda membicarakan kebusukan atau aib orang lain?

Tidak pernahkah anda berbaka kotor atau berpikiran kotor?

Tidak pernahkah anda berbohong?

Apakah anda yakin sepanjang hidup anda selama ini senantiasa berbuat kebaikan kepada diri sendiri maupun orang lain? Apabila iya, apakah anda yakin bisa masuk surga yang maha kuasa?

Sebenarnya, apabila kita bercermin dari kedua film diatas, roda kehidupan ini tak berjalan semirip dengan yang ada di film Indonesia. Karena setiap manusia tidak ada yang benar-benar pure orang yang berhati baik. hidup ini malah lebih mirip dengan film Hollywood. Dalam film hollywood setiap manusia bisa menjadi baik, dan dalam kondisi tertentu bisa seketika berubah menjadi harimau pemangsa bagi sesamanya. Secara alami, manusia itu egois. Dan akan tetap menjadi mahluk yang egois. Mengapa demikian? Karena ketika manusia itu dalam keadaan terjepit, ketika ia harus memilih nyawanya atau nyawa orang lain, maka ia akan rela memakan bangkai sesamanya demi mempertahankan nyawanya sendiri. Manusia terkadang akan seketika berubah menjadi harimau ketika ia sedang dalam keadaan terdesak. Setiap manusia memiliki tujuan yang sama, yakni bertahan hidup. Bertahan hidup untuk diri sendiri, sedangkan apabila ada kesempatan yang lebih besar lagi, bertahan hidup dengan keluarga-keluarga terdekatnya. Sehingga terkadang ia tak akan memikirkan nasib keluarga orang lain asalakan nasib keluarganya sendiri sudah terpenuhi dengan baik.  Manusia terkadang akan sama dengan mahluk ciptaan tuhan yang satunya lagi. Sehingga kehidupan manusia, tak mampu digambarkan dengan baik oleh film Indonesia. Kehidupan di film Indoneisa masih terlalu datar dan mulus. Sehingga realitas sesungguhnya menyadarkan kita bahwa hidup ini penuh dengan jurang yang dalam, jalan yang berliku, dan angin-angin yang kencang.

hollywood-by-luxuryvacationsourcedotcom
Restu alpiansah

Dari apa yang sudah saya paparkan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa di dunia ini segala sesuatu itu bisa saja terjadi. Tak ada sesuatu yang mustahil untuk bisa terjadi. Tak ada manusia yang seratus persen baik, dan begitupula sebaliknya. Terkadang manusia bisa berubah menjadi lumba-lumba penyelamat bagi sesamanya, namun tak jarang pula ia akan dalam sekejap berubah menjadi serigala yang siap memangsa saudaranya sendiri demi mempertahankan kehdiupannya sendiri disaat ia sedang dalam keadaan terhimpit. Tuhan itu maha adil. Kehidupan di dunia ia sudah disetting sedemikian rupa. Tuhan itu adalah sutradara yang maha pintar. Ia tak akan tanggung-tanggung dalam membaut film yang ia sutradarai. Ia maha cerdas. Ia sudah tau pasti bagaimana cara untuk membuat filmnya berjalan dengan mulus. Ia tak akan membuat film yang datar. Konflik-konflik yang ada merupakan bumbu-bumbu pahit dan manis yang memang sengaja ia cipatkan agar skenario kehidupan dibumi berjalan sesuai dengan jalur yang telah ia tetapkan jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan ratusan tahun sebelum manusia itu sendiri lahir ke dunia ini.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s