Pelaporan dan Akuntansi Keuangan Pemerintahan dalam Masa Transisi

PELAPORAN DAN AKUNTANSI KEUANGAN PEMERINTAHAN DALAM MASA TRANSISI: STUDI MANAJEMEN LABA BERDASARKAN MODEL AKRUAL DAN KONSOLIDASI

Odd J. Stalebrink

George Mason University, 2002

Disertasi Direktur: Dr. Jonathan L. Gifford

 

Selama dua dekade terakhir, perubahan luas telah terjadi internasional dalam  pelaporan keuangan dan akuntansi pemerintah. Yang paling penting, entitas sektor publik telah  mulai mengadopsi model  Akrual dan  model konsolidasi yang biasa digunakan oleh entitas komersial.

Secara konvensional, entitas sektor publik telah menyumbang dan  melaporkan kegiatan mereka menggunakan model  kepatuhan dan  likuiditas (Sacco 1996) yang disertai dengan penjelasan mengenai “manajemen laba”. Manajemen laba mengacu pada keleluasaan manajemen untuk menentukan cara menggambarkan entitasnya dalam laporan keuangan eksternal. Tujuan disertasi ini adalah menguji sejauh mana entitas publik terlibat dalam manajemen laba. Manajemen laba terjadi dalam entitas sektor publik yang melaporkan keuangannya menggunakan Model akrual dan konsolidasi.

Manajemen laba dilakukan dengan mengurangi kualitas keseluruhan dari informasi keuangna yang dilaporkan. Artinya, manajemen mengurangi informasi yang ada dan menentukan informasi-infomasi apa saja yang akan diungkapkan.

 Studi ini menyimpulkan bahwa jika model akrual dan konsolidasi dapat digunakan secara efektif dalam entitas sektor publik, maka diperlukan kebijakan untuk membatasi pelaporan entitas publik.

  1. PENDAHULUAN

Sangat sedikit yang diketahui tentang “manajemen laba” yang terjadi pada entitas sektor publik yang menggunakan Model Akrual dan Konsolidasi. Ada dua alasan utama; (1) Terbatasnya penelitian yang dilakuan mengenai kepatuhan Model Konsolidasi konvensional di sektor publik: (2) Adanya kesulitan untuk menyamakan bukti manajemen laba yang ada di entitas komersial ke dalam konteks entitas sektor publik.

Sejumlah studi memberikan wawasan mengenai manajemen laba yang berkaitan dengan Model akrual dan konsolidasi. Dikarenakan lingkungan yang berbeda antara sektor komersial dengan entitas publik, maka bukti dan konsep manajemen laba dalam Model Akrual dan konsolidasi tidak dapat disamakan.

Setidaknya, terdapat beberapa faktor yang dapat memotivasi pemeriksaan ulang manajemen laba dalam konteks sektor publik meliputi:

  1. Manajemen laba di sektor publik lebih banyak berforkus pada minimalisasi biaya daripada entitas komersil.
  2. Motif imbalan keuangan dalam menajemen laba di sektor publik lebih kecil dari yang terjadi di entitas komersil.
  3. Manajemen laba yang terjadi di sektor publik mungkin hanya didorong oleh dorongan internal.
  4. Struktur insentif di masing-masing lingkungan operasi dapat memberikan imbalan yang berbeda kepada manajemen untuk ikut terlibat dalam manajemen laba.

Pada akhirnya, pegawai publik bekerja dalam rencana kerja yang lebih pendek dari entitas komersial. Pegawai publik umumnya dipilih dalam jangka waktu dua hingga empat tahun. Hal ini merupakan jangka waktu yang cukup pendek untuk mengambil keputusan mengenai pilihan praktik akuntansi entitas. Kondisi ini dapat diilustrasikan pada kasus penentuan metode penyusutan yang digunakan. Jika dibawah pengambilan keputusan jangka pendek, pemilihan metode garis lurus dapat menyebabkan biaya yang dilaporkan kecil dan terjadi perataan laba dikarenakan pada metode ini entitas tidak membebankan penghapusan nilai yang besar di tahun-tahun awal aset. Jika memang tujuannya adalah meminimalkan laba, penghapusan nilai aset yang besar di tahun-tahun berikutnya mungkin dapat menguntungkan.

  • Rumusan Masalah

Peneliti mengakui adanya keterbatasan penelitian mengengenai “manajemen laba” di entitas sektor publik yang menerapkan model akrual dan konsolidasi. Untuk memberikan pengetahuan lebih lanjut pada kajian ini, disertasi ini meneliti dua pertanyaan, yaitu:

  1. Bagaimana bentuk manajemen laba yang terjadi di dalam entitas sektor publik yang menerapkan model akrual dan konsolidasi?
  2. Sejauh mana manajemen laba terjadi di dalam entitas sektor publik yang menerapkan model akrual dan konsolidasi?
    • Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan untuk menguji pertanyaan dalam penelitian ini adalah sama dengan metode yang digunakan dalam studi empiris manajamen laba di entitas komersil. Model regresi digunakan untuk menguji kondisi lingkungan operasi tertentu yang dapat mengarah pada praktik manejemen laba serta pilihan praktik akuntansi yang dapat memberikan peluang dilakukannya manajemen laba.

Model regresi berpusat pada manajemen laba yang berhubungan dengan kesempatan terhindar dari manajemen laba. Oleh karena itu, praktik akuntansi yang memberikan kesempatan untuk melakuan manajemen laba dijadikan variabel dalam model ini.

Kondisi yang dihipotesiskan yang mengarah pada manajemen laba meliputi (1) kondisi keuangan; (2) pengawasan publik; (3) kompetisi politik.

  • Signifikansi

Penelitian ini penting dikarenakan manajemen laba mengurangi efektivitas pelaporan keuangan eksternal yang dapat menyediakan informasi untuk tujuan utama mereka yaitu: untuk memberikan stakeholder entitas (prinsipal) infomasi yang memungkinkan mereka untuk memantau aktivitas orang yang telah mereka percayai (agen).

Manajemen laba mengurangi efektivitas informasi laporan keuangan karena menentukan informasi tambahan yang diberikan sebagaimana yang ingin mereka tetapkan untuk diberikan.

Pada akhirnya, penelitian ini menyajikan wawasan mengenai teori akuntansi positif dalam pemilihan akuntansi yang dimulai oleh Watts and Zimmerman pada tahun 1970-an (Watts and Zimmerman 1978,Watts and Zimmerman 1986). Teori ini sedang dikembangkan pada entitas sektor publik. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori tersebut dengan menyajikan wawasan tambahan mengenai peran faktor institusional dalam pilihan-pilihan akuntansi.

  • Lingkup penelitian

Data yang dikumpulkan untuk penelitian ini berasal dari kota-kota yang ada di Swedia. Di samping batasan geografi, penelitian ini ingin mengeneralisir kasus yang terjadi di kota-kota Swedia dengan negara-negara yang menerapkan pembaruan yang sama.

  1. LATAR BELAKANG

Pada negara yang demokratis, pemerintah dituntuk untuk menyiapkan laporan keuangan eksternal secara periodik yang ditujukan untuk pengawasan publik. Secara teori, laporan keuangan ini dianggap sebagai sumber tunggal dan paling penting dalam menyediakan informasi yang digunakan oleh publik untuk menilai sejauh mana pemerintah mempertanggungjawabkan keuangannya. Akibatnya, laporan keuangan eksternal dapat memainkan peran sentral dalam mencapai transparasi publik.

Laporan keuangan eksternal yang menjadi alat transparansi publik setidaknya menyediakan tiga komponen informasi:

  1. Laporan keuangan

Laporan keuangan adalah titik berat dalam pelaporan keuangan entitas sektor publik. Laporan keuangan berusaha menunjukkan 4 indikator kerja keuangan entitas. Selain itu, ditambahkan juga informasi kuantitatif dan kualitatif sebagai bentuk layanan dan prestasi.

Pada tingkat konsolidasi, tiga jenis laporan keuangan setidaknya dimasukkan dalam pelaporan keuangan; (1) Neraca; (2) Laporan Operasi; dan (3) Laporan Arus Kas.

  1. Pembahasan dan analisis manajemen

Bagian pembahasan dan analisis manajemen memberikan kesempata kepada manajemen untuk memperlihatkan hasil tahunan yang dilaporakan dalam laporan keuangan dan untuk mengungkapkan rencana dan strategi masa depan. Bagian ini juga berisi opini subjektif dari manajemen tentang kegiatan operasi entitas sehingga harus dibaca dengan cermat.

  1. Opini audit

Opini audit menegaskan sejauh mana entitas jujur dalam menyajikan laporan keuangan dalam segala kegiatan keuangan entitas. Atau jika dilihat dari terminologi akuntansi, laporan keugan tersebut akurat dalam segala hal yang material.

Opini audit umumnya diberikan oleh perusahaan akuntansi swasta yang akan memberikan 4 jenis opini (Kell dan Boynton 1992,724-726):

  1. Wajar Tanpa Pengecualian, memberikan jaminan bahwa laporan keuangan suatu entitas telah tersaji secara wajar posisi keuangan entitas pada periode tertentu dalam semua hal yang material dan bahwa hasil usaha juga arus kas entitas telah sesuai dengan prinsip berlaku umum (GAAP).
  2. Opini audit yang Berkualitas, menyatakan bahwa kecuali untuk dampak dari hal-hal yang berhubungan dengan kualifikasi, laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan entitas pada tanggal tertentu dalam semua hal yang material dan bahwa hasil usaha dan arus kas perusahaan sesuai dengan GAAP.
  3. Opini audit yang merugikan, menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan entitas pada tanggal tertentu dan bahwa hasil usaha dan arus kas entitas tidak sesuai dengan GAAP.
  4. Opini audit Disclaimer, menyatakan bahwa auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan.

Di sektor publik, secara tradisional diasumsikan bahwa penyediaan informasi merupakan cara yang paling efektif untuk menilai sejauh mana agen publik melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran yang telah disetujui oleh legislatif (Zimmerman 1977, Ingram 1984).

Model Akrual dan konsolidasi dianggap sebagai cara yang efektif untuk menilai kinerja agen dengan membuthkan (1) Bagian persiapan terpisah untuk tujuan anggaran; (2) Pengakuan arus sumber daya didasarkan pada penerimaan dan pengeluaran arus kas (basis akuntansi kas); memungkinkan pengguna melacak pengeluaran pemerintah pada tingkat program.

Model Akrual dan Konsolidasi berpendapat bahwa terdapat dua alasan mengapa model ini lebih unggul digunakan daripada model konvensional di sektor pemerintah untuk menilai akuntabilitas sektor publik berdasarkan kinerja operasional.

  1. Model ini telah dapat mengakui pendapatan dan pengeluaran secara akrual dimana cara ini merupakan cara yang lebih baik untuk menggambarkan kondisi keuangan yang sebenarnya.
  2. Model ini memungkinkan entitas untuk melaporkan kondisi keuangan dalam satu set laporan keuangan dimana model konvensional menuntut beberapa set laporan keuangan untuk dapat menggambarkan kondisi keuangan.

Sangat penting untuk pengguana laporan keuangan eksternal untuk menerima informasi laporan keuangan sesuai yang diminta, namun hal penting lainnya ialah bahwa pengguna mendapatkan informasi yang memang seharusnya dilaporkan. Hal ini lah yang akan menjamin keandalan pelaporan. Jika informasi yang ada dalam laporan keuangan diatur, hal ini akan menjadi tidak efektif dalam mengurangi biaya agensi.

  1. TINJAUAN LITERATUR
    • Konteks Empiris

Kajian manajemen laba telah berfokus hanya pada entitas komersial. Studi yang ada telah didorong oleh beberapa faktor, meliputi:

  1. Telah berkembang stigma bahwa manajer menjalankan diskresi laporan keuangan secara oportunistik ((Benway1985,Mims 1986,Berton and Miller 1986,Smith and Lipin 1994,Grover 1992,Linden 1990,Strong and Meyer 1987,Berton and Miller 1986,Zucca and Campbell 1992).
  2. Mencapai puncaknya pada saat sejumlah penurunan nilai dan penghapusan aset di tahun 1980-an see (Strong and Meyer 1987,Berton and Miller 1986,Zucca and Campbell 1992,Francis, Hanna, and Vincent 1996)).
  3. Perhatian atas adanya kajian lebih lanjut mengenai diskresi yang melekat pada model akrual dan konsolidasi untuk mencegah adanya praktik manajemen laba (Berton and Miller 1986,Elliot and Shaw 1988,Francis, Hanna, and Vincent 1996).

Hasil empiris yang ada dapat digolongkan menjadi tiga kategori. Pertama, kategori ini ingin mengetahui mengapa manajer secara rasional melakukan manajemen laba. Hepworth 1953,Beid!eman 1973,Lambert 1984,Trueman and Titman 1988,Dye 1988). Kedua, penelitian ini juga ingin melihat pertimbangan pajak manakah yang akan mempengaruhi pilihan metode akuntansi yang digunakan (Dopuch and Pincus 1988,Gramlich 1991,Dhaliwal, Frankel, and Trezevant 1994,Cloyd, Pratt, and Stock 1996)). Kategori ketiga ingin melihat keberadaan insentif manajer dalam melakukan peningkatan atau penurunan laba pada laporan keuangan non-pajak. (Bowen, Noreen, and Lacey 1981,Dhaliwal, Salamon, andSmith 1982,Penno and Simon 1986,Strong and Meyer 1987,Elliot and Shaw 1988,Francis, Hanna, and Vincent 1996,Rees, Gill, and Gore 1996).

  1. METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini sama dengan metode yang digunakan pada penelitian terkait manajemen laba pada entitas komersial. Model regresi digunakan untuk melihat hubungan antara kondisi lingkungan operasi tertentu yang dapat memicu manajemen laba dan pemilihan akuntansi yang dapat memberikan kesempatan untuk melakukan manajemen laba.

Pada bagian ini terdapat tiga asumsi dasar yang mempelajari bentuk dan tindak lanjut manajemen laba pada sektor publik yang telah mengadopsi model akrual dan konsolidasi. Yang pertama ialah praktik manajemen laba sangat melekat pada pejabat pemerintah dengan motif lebih kepada perpanjangan masa jabatan daripada imbalan finansial  (Ingram and Copeland 1986).  Asumsi kedua menyatakan bahwa praktik manajemen laba di sektor publik lebih dikarenakan permintaan internal. Dan sebagai asumsi terakhir dan paling penting, manajemen laba di sektor publik dilakukan untuk mengusahakan minimalisasi biaya.

Variabel dependen yang dikembangkan dalam disertasi ini ditunjukkan dengan pemilihan diskresi akuntansi yang dapat memberikan peluang terjadinya manajemen laba.

Pembicaraan dilakukan dengan praktisi melalui tatap muka, wawancara melalui telepon dan korespondensi melalui email dengan penjabat keuangan, dan pegawai di Sweden, New Zealand, dan Australia.

Untuk menguji kecenderungan sektor publik untuk menggunakan manajemen laba dalam pengelolaan pendapatan, tiga model dikembangkan. Model pertama menganggap adanya gabungan peluang yang berasal dari asset write-off, praktik depresiasi modal, dan biaya pensiun. Model ini disebut sebagai “model kebijaksanaan agregat.” Secara khusus, meneliti hubungan antara “kebijaksanaan agregat” yang disediakan oleh peluang di atas dan kondisi di lingkungan operasi entitas yang dihipotesiskan untuk mendorong manajemen laba.

Model kedua dan ketiga menggunakan variabel penjelas yang sama sebagai model agregat, tetapi memeriksa dalam kaitannya dengan praktik akuntansi tertentu. Secara khusus, model kedua berkaitan dengan kesempatan yang diberikan dalam akuntansi untuk biaya pensiun.

  • Hipotesis

Hipotesis pertama dalam disertasi ini mengeksplorasi apakah kondisi keuangan entitas mempengaruhi kecenderungan untuk terlibat dalam manajemen laba. Dalam disertasi, kondisi keuangan mengacu pada kemampuan entitas untuk menyeimbangkan biaya dengan pendapatan. Secara khusus, itu hipotesis bahwa praktek akuntansi “Big Bath” yang digunakan oleh entitas publik untuk meningkatkan prospek mereka melaporkan hasil yang seimbang. Praktek akuntansi Big bath sering digambarkan sebagai “dumping” biaya tambahan pada hasil yang sudah miskin (Berton dan Miller 1986). temuan anekdot dan empiris dalam konteks entitas komersial sektor memberikan indikasi sayang bahwa laba negatif (yaitu, kerugian) dipandang sebagai kesempatan untuk “membuang” biaya tambahan (Berton dan Miller 1986, Linden 1990, Grover 1992). D

Dalam disertasi ini , praktek “Big Bath” diharapkan terjadi ketika entitas mengalami defisit yang berlebihan serta ketika mereka mengalami surplus yang berlebihan. Oleh karena itu, “teori Big Bath simetris ” dikembangkan dan diuji.

Motivasi untuk menggunakan  praktek “Big Bath” dalam kasus terakhir ini berpendapat muncul dari tujuan keuangan yang unik entitas sektor publik. Tujuan keuangan entitas sektor publik yang difokuskan terutama pada menjaga biaya sejalan dengan pendapatan. Menurut definisi, oleh karena itu, surplus yang berlebihan tidak selalu mempengaruhi persetujuan populer positif. Dalam disertasi ini defisit yang berlebihan dan surplus yang berlebihan diharapkan akan berhubungan positif dengan ukuran write-off, beban penyusutan, dan biaya tahunan yang dialokasikan untuk memenuhi kewajiban pensiun masa depan. Artinya, “U-berbentuk, atauorder kedua, hubungan diperkirakan antara hasil yang dilaporkan dan biaya yang terkait dengan peluang eamings-manajemen diidentifikasi di atas. Eksplisit dinyatakan, hipotesis pertama adalah sebagai berikut:

H1: defisit yang berlebihan dan surplus berhubungan positif dengan ukuran penghapusbukuan, beban penyusutan, dan biaya tahunan yang dialokasikan untuk memenuhi kewajiban pensiun masa depan ‘.

Penting untuk dicatat bahwa hipotesis di atas mengasumsikan bahwa informasi keuangan mencapai warga dan sedang dibaca. Secara tradisional asumsi ini telah dipertanyakan. Namun, adopsi dari akrual dan konsolidasi model telah berpendapat untuk secara signifikan meningkatkan potensi informasi pemerintah akuntansi untuk mencapai warga negara (lihat (Copley, et al. 1997)).

Selanjutnya adalah Kompetisi Politik. Kompetisi politik mengacu pada kekuatan oposisi yang diharapkan dalam pemilu mendatang (Baber dan Pradyot 1984). Sebuah oposisi yang kuat meningkatkan kemungkinan perubahan administrasi politik. Artinya, probabilitas bahwa seorang pejabat terpilih, partai mayoritas, atau koalisi diganti. Dalam hal mandat, persaingan politik meningkatkan kepentingan relatif dari mandat tunggal. Contoh yang paling ekstrim ini, tentu saja, adalah ketika pemilu dekat mengakibatkan jumlah merata dibagi mandat antara pihak yang mengatur. Dalam situasi ini, mandat tunggal sering memainkan peran penting dalam proses politik.

Karena kompetisi politik meningkatkan kemungkinan perubahan administrasi politik, meningkatkan biaya-biaya yang dikenakan pada badan publik yang berkaitan dengan kegagalan untuk memuaskan konstituen (misalnya, biaya politik) (Baber dan Pradyot 1984). Mengingat bahwa badan publik dilaporkan hasil keuangan mempengaruhi persepsi publik kemampuannya untuk memenuhi kewajibannya, hasil yang dilaporkan akan memainkan peran yang relatif lebih penting dalam lingkungan yang kompetitif politik. Dari perspektif eamings-manajemen, persaingan politik karena itu dapat dikatakan untuk mendorong kecenderungan entitas publik ‘untuk terlibat dalam manajemen laba. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diharapkan entitas publik yang terkena persaingan politik lebih cenderung untuk mengembang pendapatan mereka dengan cara praktek manajemen eamings daripada yang mereka yang terkena kompetisi politik kurang. Eksplisit dinyatakan, hipotesis kedua adalah sebagai berikut:

H2: persaingan Politik positif terkait dengan ukuran write-off, beban penyusutan, dan biaya tahunan yang dialokasikan untuk memenuhi kewajiban pensiun masa depan.

Agen publik dapat lebih mudah terlibat dalam manajemen laba tanpa upaya tersebut terungkap. Sekali lagi, argumen ini didasarkan pada gagasan bahwa pemangku kepentingan dalam entitas publik memiliki insentif yang lebih sedikit daripada rekan-rekan mereka di sektor komersial untuk memantau agen, karena kurangnya hak milik pribadi (yaitu, jumlah terbatas milik pribadi yang diinvestasikan di depan umum entitas) (von Mises 1935, Vaughn 1980, Kirzner 1996).

Di sektor komersial, bukti empiris mendukung teori di atas (Fama dan Macbeth 1973, Black, Jensen, dan Scholes 1972, Stalebrink 1997). Secara formal teori disebut sebagai ” hipotesis pasar efisien ” (EMH) (Bodie, Kane, dan Marcus 1996, 3). Di bawah EMH, pengawasan dipandang sebagai yang dikenakan pada agen oleh pasar modal. Sehubungan dengan manajemen laba, pasar ini akan dilihat di bawah EMH sebagai faktor penting dalam “mendisiplinkan” agen (yaitu, membatasi mereka) untuk tidak berolahraga melaporkan kebijaksanaan oportunis (Zimmerman 1977, Fama 1980, Sta! Ebrink 2002). Logika yang mendasarinya adalah bahwa dalam lingkungan keuangan yang kompetitif, investor memiliki kemampuan untuk melihat melalui upaya agen ‘untuk memanipulasi laba (Holthausen dan Leftwich 1983). Sukses strategi eamings-manajemen karena itu “selfdestruct,” dan manfaat terlibat dalam manajemen laba menjadi diragukan (Kaplan and Roll 1972, Bodie, Kane, dan Marcus 1996, 3).

EMH beroperasi pada tingkat yang berbeda dari kekuatan. Pada level terkuat, EMH menyatakan bahwa semua pengaruh manajemen laba didiskontokan oleh analis karena mereka dapat melihat melalui dan mengantisipasi segala kemungkinan upaya eamings-manajemen. Dalam versi yang lebih lemah, EMH menunjukkan kemampuan parsial antara analis untuk melihat melalui dan upaya ini. Sehubungan dengan manajemen laba, hasil kemungkinan versi yang lebih lemah dari EMH adalah bahwa analis tidak hanya laba diskon manipulasi (meskipun lebih sewenang-wenang dari dalam versi yang kuat), tetapi juga mencari alternatif dan sumber yang lebih dapat diandalkan. Kedua reaksi ini mengurangi efektivitas hasil dimaksudkan manajemen laba, sehingga mengurangi insentif bagi entitas untuk terlibat dalam manajemen laba.

Meskipun hak milik pribadi mereka terbatas, badan publik tidak berarti dibebaskan dari pengawasan. Efek disiplin yang berpendapat timbul dari pasar modal dapat dikatakan muncul dalam konteks sektor publik, juga, meskipun pada skala yang lebih kecil. Pengawasan yang diberlakukan oleh pasar modal pada entitas publik telah tumbuh dalam intensitas. Eksplisit dinyatakan, hipotesis ketiga disertasi adalah sebagai berikut:

H3: ketergantungan relatif entitas Umum ‘pada modal eksternal adalah positif terkait dengan ukuran write-off, beban penyusutan, dan biaya tahunan yang dialokasikan untuk memenuhi kewajiban pensiun masa depan

Serupa dengan argumen di atas, mungkin juga dikatakan bahwa disiplin konstituen ‘mencegah agen sektor publik terlibat dalam manajemen laba dengan mengumpulkan informasi sebagai sarana yang tetap terlibat dalam proses politik

Namun, seperti Gaffney menunjukkan, setelah konstituen mengatur insentif costbenefit memperoleh dan memproses pemerintah akuntansi perubahan informasi, organisasi meningkatkan kemungkinan untuk tindakan sukses (lihat juga, (Downs 1957, Gaffney 1986). Skenario yang lebih realistis, karena itu, adalah bahwa konstituen mendisiplinkan entitas publik tidak langsung meskipun informasi disaring kepada mereka oleh kelompok terorganisir.

Entitas publik mungkin memiliki kecenderungan lebih rendah untuk terlibat dalam praktek ini di lingkungan yang tinggi-pengawasan dengan alasan bahwa manajemen laba lebih mungkin untuk diungkapkan. Oleh karena itu, tidak hanya mungkin pengawasan kompromi efek manajemen laba mungkin juga mempengaruhi biaya politik. Mengingat ini, hipotesis keempat disertasi adalah berikut:

H4: Pemeriksaan dikenakan pada entitas publik oleh warga negara secara positif terkait dengan ukuran write-off, beban penyusutan, dan biaya tahunan yang dialokasikan untuk memenuhi kewajiban pensiun masa depan

 

  1. PENGUMPULAN DATA DAN SELEKSI SAMPEL

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data dikumpulkan untuk fiskal 1998, 1999, dan 2000, yang diterbitkan oleh Statistiska Centralbyran (SCB), otoritas statistik utama di Swedia. Di tahun ketiga fiskal, data keuangan kota meliputi semua 288 kota Swedia. Akibatnya, baku data set terdiri dari 864 observasi.

SCB mengumpulkan data keuangan dengan survei elektronik dalam format MS Excel. Kota yang diperlukan untuk menanggapi survei. Untuk menjamin akurasi data, survei telah dicetak data dan kontrol audit. Sebuah kontrol audit umum adalah penggunaan rasio keuangan utama untuk mengidentifikasi perbedaan besar di periode akuntansi. Jika perbedaan tersebut menemukan kota diwajibkan untuk melampirkan sebuah komentar. SCB juga mengikuti dengan sebagian besar kota untuk mendapatkan informasi tambahan. Database akhir termasuk tiga jenis berikut informasi untuk setiap kota:

  1. Informasi tentang kategori akun utama dalam neraca masing-masing kotamadya;
  2. Informasi mengenai kategori akun utama dalam pernyataan operasi masing-masing kotamadya; dan
  3. Sejumlah rasio keuangan utama.

 

  • Variabel Dependen

Variabel dependen dalam disertasi ini meliputi:

  1. Asset write-off atau penghapusan aset dan praktek penyusutan modal
  2. Biaya tahunan yang dialokasikan untuk memenuhi masa depan kewajiban pensiun

  • Variabel Independen

Variabel Independen meliputi:

  1. Persaingan partai digunakan sebagai proxy untuk kompetisi politik.
  2. Proxy untuk Utang-Dependency (Capital eksternal) dilakukan dengan menghitung rasio jangka panjang kota ‘debt to asset (yaitu, utang jangka panjang / total aset).
  3. Partisipasi voting digunakan sebagai proxy untuk keterlibatan politik

 

  • Variabel Kontrol

Lima variabel tambahan yang termasuk dalam model untuk mengontrol perbedaan antara kota yang dapat mempengaruhi variabel dependen tapi itu tidak selalu menjelaskan manajemen laba, meliputi: (1) aset jangka panjang / per kapita; (2) aset jangka pendek / per kapita; (3) Ukuran kotamadya; (4)Tahun 2000; (5) Tahun1999.

  1. ANALISIS DATA

Secara keseluruhan, tiga model memberikan indikasi kuat bahwa manajemen laba terjadi dalam entitas sektor publik yang telah mengadopsi akrual dan konsolidasi Model. Salah satu dari empat hipotesis, “mandi besar” hipotesis, menghasilkan statistik nilai signifikan dengan tanda-tanda yang benar di semua model. Artinya, hipotesis bahwa entitas publik sistematis “Dump” biaya ketika mereka melaporkan defisit berlebihan atau surplus didukung. Dukungan juga dihasilkan dalam kedua model terpilah untuk hipotesis pengawasan. Secara khusus, votepart secara statistik signifikan dengan tanda yang benar di write-off model / depresiasi, dan debtrat secara statistik signifikan dengan tanda yang benar dalam model pensiun costallocation.

Kurangnya penting untuk debtrat di agregat dan writeoff model / depresiasi dapat dikaitkan dengan peran yang dimainkan oleh masuknya aset jangka panjang dalam dua model ini. Korelasi matriks pada Tabel 6.5indicates korelasi yang kuat antara lngasst, menulis-off, dan totdiscr. lngasst dikecualikan dalam pensiun model biaya-alokasi dan mungkin, oleh karena itu, dikatakan menjadi model yang lebih dapat diandalkan untuk menilai efek yang pengawasan yang diberlakukan oleh pasar modal memiliki pada kecenderungan entitas publik untuk terlibat dalam manajemen laba. Hipotesis kompetisi politik adalah satu-satunya hipotesis yang tidak didukung oleh model. Policomp secara statistik tidak signifikan dalam semua tiga model. Sisa dari bagian ini memberikan penjelasan yang lebih rinci dari hasil yang dihasilkan di masing-masing dari tiga model, dimulai dengan model kebijaksanaan agregat.

  1. PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

tiga model yang dikembangkan untuk menguji kecenderungan dimana entitas sektor publik menggunakan [bahan] kebijakannya tersedia dalam pengukuran akuntansi untuk mengelola pendapatan mereka. Model pertama meneliti hubungan antara kondisi hipotesis untuk mendorong manajemen laba dan “kebijaksanaan agregat”

Kebijaksanaan yang diberikan melalui praktik akuntansi yang terkait dengan (a) penghapusbukuan aset, (b) depresiasi modal, dan (c) akuntansi pensiun-biaya. Kondisi hipotesis untuk mendorong manajemen laba termasuk (a) kondisi keuangan, (b) pengawasan, dan (c) persaingan politik (yaitu, variabel independen).

Model kedua dan ketiga digunakan variabel independen yang sama dengan model “agregat” tapi diperiksa dalam kaitannya dengan praktik akuntansi individu. Secara khusus, model kedua berkaitan dengan kesempatan yang diberikan dalam akuntansi untuk biaya pensiun. Model ketiga berkaitan dengan kebijaksanaan gabungan yang disediakan dalam akuntansi untuk asset write-off dan praktik depresiasi modal. pengobatan gabungan adalah hasil dari kurangnya data terpilah tentang asset write-off dan praktik depresiasi modal.

Secara keseluruhan, tiga model yang tersedia indikasi kuat bahwa entitas sektor publik yang menggunakan kebijaksanaan akuntansi-pengukuran untuk mengelola eamings mereka. Salah satu dari empat hipotesis – yang “simetris besar-mandi hipotesis” – yang dihasilkan signifikansi statistik dengan tanda-tanda yang benar dalam semua tiga model. Hipotesis ini menyatakan bahwa entitas publik secara sistematis “membuang” biaya ketika mereka melaporkan defisit berlebihan atau surplus sebagai sarana “smoothing” pendapatan mereka. Dukungan juga ditemukan hipotesis pengawasan di kedua model “terpilah”. Hipotesis pengawasan menyatakan bahwa entitas publik cenderung untuk terlibat dalam manajemen laba di lingkungan di mana mereka terkena pengawasan tingkat tinggi oleh warga dan pasar modal (yaitu, mereka adalah “disiplin” oleh ini). Satu-satunya hipotesis yang tidak didukung oleh model adalah hipotesis bahwa kompetisi politik memicu manajemen laba. proxy untuk kompetisi politik (yaitu, policomp) secara statistik tidak signifikan dalam semua tiga model.

Note: Hasil Terjemahan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s