Ketika Berita Sudah Diciptakan Sesuai dengan Keinginan Pelanggan, Maka Hati-Hatilah Membaca Berita.

Ketika arus gelombang globalisasi semakin deras, manusia semakin bersusah payah dan berjuang keras untuk mendayung perahunya masing-masing agar ia tak terseret dengan terjangan ombaknya itu. Gelombang itu semakin membabi buta menerjang segala macam hal yang ia temui, sehingga jika manuisa tak mampu mempersiapkan dirinya dengan baik maka siap-siaplah untuk tenggelam di bawah kubungan neraka globalisasi.

Indoneisa telah tumbuh semakin dewasa. Namun seiring itu pula, semakin kencang angin badai yang menerpanya. Kali ini Indonesia dihadapi masalah yang sangat serius, apabila ini kanker, mungkin sudah bisa digolongkan masuk dalam kategori stadium tiga. Menunggu stadium empat dan akhirnya sekarat.

1405112008
Hati-hati pula membaca berita.

Indonesia saat ini sedang dihadapi oleh ancaman, kali ini bukan dari luar, melainkan dari dalam negerinya sendiri. Saat ini ribuan media massa seolah-olah sedang dilanda kesurupan massal, tak ada yang mampu melerainya, sehingga ia tetap membabi buta menabrak segala hal yang ada dihadapannya. Seperti banteng yang sedang mengamuk tanpa logika, masyarakatpun menjadi korbannya.

Bagaimana tidak, media massa yang seharusnya memberikan berita aktual dan indpenden, kini sudah tak ada lagi. Semua hanya selogan belaka, mereka hampir tak ada yang benar. Mereka ternyata sama saja, berorientasi pasar semata, materialisme tepatnya. Tak peduli masyarakat menjadi pintar atau bodoh, yang penting produknya laku di pasaran, dan untung bisa diperoleh sebesar-besarnya. Biarkan masyarakat hidup merangkak, asalakan yang berpunya hidup senang diatas singgasananya masing-masing, sedikit jijik menatapnya.

Membaca adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan agar dapat membuka jendela dunia. Cakrawala dunia akan terbentang luas apabila kita mampu membuka pintunya, dan tentunya harus membuka dengan kunci yang benar. Jika membuka dengan kunci yang salah, maka bisa dijamin pintu cakrawala tersebut tidak akan dapat terbuka. Salah memegang kunci, bukan pintu sasaran yang terbuka, namun malah pintu lain yang tak dikehendaki yang terbuka. Sama halnya dengan membaca berita. Apabila berita yang kita baca sumbernya benar dan valid, maka semakin luas dan dalamlah lautan ilmu kita. Namun berlaku pula hukum alam sebaliknya, apabila berita yang kita baca tak terjamin validitasnya, hanya sekedar hoax,  tak bisa dipertanggungjawabkan, maka bukannya akan memperdalam ilmu pengetahuan, namun akan semakin memperdangkal otak, sehingga gaya menyampaikan argumentasipun seolah-olah sedang dalam keadaan mabuk, tidak karuan, sodor sana dan sodor sini, mungkin lebih tepatnya seperti kuda lumping.

keuntungan-membaca-berita-terbaru
tak selamanya berita dari media itu benar.

Lantas dengan kondisi yang seperti ini, apa tindakan yang harus kita lakukan? Sangat sederhana. Ketika kita sudah tahu bahwa saat ini berbagai macam situs berita telah kurang independen lagi dalam menyajikan berita, maka kita sebagai orang yang pintar tak seharusnya asal telan berita yang ada. Perhatikan sumbernya. Jangan mudah percaya begitu saja. Setelah membaca satu sumber, jangan cukupkan hanya pada itu saja. Carilah sumber tandingan lain, agar semakin memperkuat berita tersebut. Selalu diingat, jangan pernah mengonsumsi makanan mentah, bahaya  karena bisa menyebabkan sakit perut. Olahlah makan tersebut dengan cara dimasak, agar kuman-kuman berbahaya mati terlebih dahulu. Keadaan ini berlaku pula pada saat kita sedang membaca berita.

Berita itu diciptakan oleh manusia. Dan manusia itu memiliki banyak sekali kepentingan. Sehingga beritapun masih bisa dibumbui dengan berbagai macam bumbu agar sesuai dengan rasa yang diinginkan oleh sang pembuat berita. Tak ada yang tak mungkin di tangan mereka. Sehingga mereka akan dengan sangat mudah untuk mempengaruhi dan mencuci otak para pembaca. Ini bahaya, dan sangat perlu untuk diwaspadai.

Dalam tulisan ini tak ada maksud penulis untuk menceramahi ataupun mengajari anda semua, saya hanya seorang penulis biasa dan pinggiran yang butuh dan haus akan pembaca. Ini hanyalah pendapat atau opini saya semata, yang memang mungkin jauh dari kata the perfect. Namun ini hanyalah suara hati saya pribadi yang kini sudah sangat tidak tahan melihat kondisi dunia maya dan dunia nyata yang semakin porak poranda di terjang informasi berita yang sudah semakin kelewatan batas menyebarkan infromasi yang membodohi masyarakat. Semoga kedepannya kita dapat menjadi lebih selektif lagi dalam membaca berita.

#PilihPilahBaca

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s