Mengutuk Hujan Durjana.

Udara dingin menghunus badan hingga ke tulang rusuk. Darah ini serasa seperti akan berhenti mengalir, paru-paru sudah terasa sesak tak mampu mendengus dengan selayaknya lagi. Tanah tak pernah kering, ricak dan genangan air mewarnai kampung halaman rumah. Nyamuk seolah-olah semakin merajalela dimana-mana, selamat karena ini mungkin adalah musim nyamuk, dimana ia sudah mulai bebas menancapkan racunnya disetiap landasan yang dirasanya nikmat untuk disantap. Mereka saat ini sudah semakin kurang ajar, jika manusia edan zaman sekarang masih sedikit mengenal tata krama, ia malah sama sekali tak mengenalnya. Ia tak pernah pandang bulu mencari musuh sebagai santapan pagi, siang, dan malamnya.

Hujan terus-menerus menyerbu halaman rumahku. Ia seolah-oleh kesurupan menerjang setiap sudut halaman rumahku, tak ada satupun yang terlewatkan untuk dijamahinya. Ia benar-benar sudah menelanjangi duniaku. Hujan deras disertai angin kencang sudah lengkap menyebabkan kakiku seperti lumpuh, karena tak mampu kemana-mana untuk menjalankan aktivitas yang seharusnya aku laksanakan. Pintu rezekiku seolah-olah tertutup, karena mencari nafkah untuk kebutuhan makan sehari-hari harus tertunda. Hujan sialan. Tega sekali ia menahanku hingga aku harus seperti ini. Lunglai tak berdaya seperti manusia terkena serangan stroke. Diam mematung disudut kamar yang terkadang ditemani nyamuk usil yang mengintai kulit mulusku. Awas…. Akan ku jitak saja moncongnya apabila ia berani mendarat dipermukaan kulitku.

hujan1-ff1ca37c1ed1a7b48ad8b6bb8f239e24

Semua ini tak akan terjadi apabila hujan tidak datang. Semua karena hujan. Semua ini tak akan pernah terjadi apabila hujan tak terus-menerus menyerbu. Pertanyaan besar yang muncul di kepalaku adalah, siapa yang telah berdoa agar hujan turun? Yang jelas bukan aku. Tidak mungkin aku, karena aku tak menyukai kedatanganya. Jadi jangan kalian menatapku seperti itu. Aku bukan dalang dari turunnya hujan ini. Tak mungkin aku yang melakukannya.

Apakah mungkin pohon dan bunga yang ada dihalaman rumahku? Mungkin saja mereka. Karena seingatku, mereka tidak pernah aku sirami. Tak pernah aku berikan makan dan minum secara rutin. Sehingga tubuh mereka terlihat layu dan kurus. Mungkinkah mereka telah mengadu kepada tuhan sehingga hujan terus-menerus datang menyerbu seperti sedang kesurupan? Seperti hujan yang diturunkan pada zaman nabi sebagai bentuk kemurkaan tuhan kepada hambanya yang telah banyak membangkang? Ah tak ada lain kalau bukan mereka. Mereka yang telah berdoa kepada tuhan agar hujan terus-menerus turun menerjang bumi. Atau bukan hanya pohon dan bunga dihalamanku saja, tapi di rumah kalian juga? Apakah kalian juga tak pernah memberikan mereka makan? Ah ternyata kita sama-sama jahat dan egois ya kawan. Konklusi yang bisa ku tarik adalah bahwa seluruh tumbuhan yang ada di halaman rumah kita masing-masing sama-sama tersakiti dan akhirnya secara bersama-sama mengadu kepada tuhan, seperti umat manusia yang mendemo Ahok hingga berjilid-jilid. Hahahaha…. Dimama letak harga diri kita sebagai manusia? Tumbuhan berdoa untuk turun hujan, sedangkan manusia berdoa agar diberikan sinar mentari. Tuhan ternyata lebih mengabulkan doa tumbuhan. Harga diri manusia sudah benar-benar dibawah derajat tumbuhan. Jangan salahkan mereka, lebih baik mungkin kita sama-sama berintrospeksi.

Katanya manusia itu adalah mahluk yang sempurna dan terhormat, namun faktanya? Doa tumbuhan lebih didengarkan oleh sang pencipta, apa-apaan ini? Pelecehan luar biasa. Ini benar-benar ejekan yang menggelikan. Manusia kalah dengan tumbuhan yang tak mampu bersiul dan bernyanyi seperti manusia. Ah keterlaluan.

Tapi jika ditelusuri, manusia itu memang egois. Teringat beberapa hari lalu ia begitu merindukan turunnya hujan, karena tenggorokannya kehausan, serta badannya terasa sangat panas. Dan sekarang ketika hujan turun dan angin sepoi sudah mulai mendinginkan tulang, ia malah kembali menuduh hujan sebagai dalang dari permasalahnnya. Oh sungguh egoiskah manusia. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa tuhan lebih mendengarkan aduan sang bunga dan pohon daripada mendengarkan doa manusia yang penuh dengan gombalan dan kebohongan. Ah aku hampir lupa, jika tuhan itu maha pintar dan mengetahui. Astaga…..

Lantas pantaskah aku mengutuk hujan? Ah aku malu…. Daripada semakin malu, lebih baik diam dan berhenti mengutuk hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s