Menunggu Itu Sabar, Berharap Itu Doa.

“Tetapi apapun yang terjadi, kita sudah melaksanakan prosesnya dengan baik. sekarang tinggal menunggu dan berharap. Itulah kebijaksanaan tertua yang dimiliki leluhur kita. Menunggu dan berharap. Selalulah meminta pertolongan dengan dua hal itu. Menunggu itu berarti sabar. Bersabar itu berarti doa”. Sepenggal kutipan manis dari novel Pukat-Tere Liye.

Pernahkah kita merasa bahwa doa yang kita pajatkan kepada yang maha kuasa tak juga kunjung dikabulkan? Lantas mungkin karena itu kita merasa doa yang pernah kita panjatkan kepada yang maha kuasa tak sampai hingga ke langit ke tujuh sehingga yang maha kuasa tak mendengarnya. Atau mungkin ada terbersit dalam pikiran kita bahwa ada malaikat usil yang tak menyukai kita kemudian dengan mentah-mentah menendang doa kita yang terarah ke atas langit? Apapun yang terbersit dalam pikiran kita saat ini hendaknya segera dienyahkan. Tuhan itu bukan manusia, dan jangan pernah sama sekali untuk menyamakannya. Tuhan itu maha mendengar, bahkan ketika kita belum memikirkannyapun tuhan telah mengetahui apa kebutuhan dan keinginan kita masing-masing. Tak perlu mengeluh atapun memelas hingga jengkel kepada tuhan, karena tuhan akan menurunkannya pada waktu dan tempat yang tepat, tak perlu cemas ataupun khawatir. Tuhan sang sutradara kehidupan maha tahu akan semua itu. Manusia hanyalah sebatas wayang figura yang tak berarti apa-apa jika ia berani melawan atas segala kehendaknya.

Tuhan itu maha mendengar. Manusia bahkan tak perlu khawatir tuhan tak bisa mendengarnya. Karena berkomunikasi dengan tuhan sama sekali tak sama dengan komunikasi manusia dengan sesamanya. Jika berkomunikasi dengan sesama namun berada di benua yang lain kita memerlukan jaringan telepon atau internet, maka komunikasi kepada tuhan tak membutuhkan jaringan sama sekali. Semua instan. Tuhan telah mengatunrya dengan teknologi yang tercanggih sepanjang masa. Semenjak doa itu terproduksi oleh hormon-hormon dalam tubuh manusia, sejak ia dari butiran yang masih kecil saja tuhan telah mendengarnya. Hanya saja masih banyak manusia yang belum menyadari akan itu semua, sehingga ia terkadang mengeluh dalam sujudnya mengapa tuhan tak kunjung mendengarkan doanya. Jika meminta bantuan kepada tetangga akan ada risiko besar tak di dengar, entah apakah karena faktor sengaja atau tidak disengaja, maka kepada sang maha kuasa menjadi zero risk, tuhan pasti mendegarnya. Tuhan maha mendengar, bukan tuli seperti manusia yang terkadang memiliki dua telinga yang sempurna namun kadang bersikap tuli terhadap sesamanya. Entahlah, apakah manusia membutuhkan 4 telinga lagi agar bisa peka dan mudah mendengar jeritan tolong sesamanya? Sekali lagi jangan pernah samakan tuhan dengan manusia, keduanya memiliki perbedaan yang sangat signifikan, 360 derajat, bahkan uncomparable.

Lantas apa yang seharusnya kita lakukan setelah memohon kepadanya? Maka hal yang bijak yang seharusnya kita lakukan adalah menunggu dan bersabar. Ingatkah kita bahwa tuhan akan menjunjung tinggi derajat orang-orang yang bersabar? Tuhan sungguh luar biasa. Ia akan senantiasa membalas semua kebaikan yang telah dilakukan oleh manusia walapun itu hanya se sen. Namun terkadang ia tak membalas dosa manusia yang terkadang bisa seberat 1 ton padi basah. Tuhan terkadang terlalu baik kepada hambanya, namun terkadang manusialah yang terlalu melunjak kepada tuhannya sehingga ia malah ingkar kepadanya.

Tak ada guna berdoa kepada sang pencipta lantas kemudian menci-makinya karena doa yang pernah disampaikan tak kunjung dikabulkan olehnya. Padahal manusia sering lupa rumus pengabulan doa, jika tidak sekarang, maka besok, jika tidak besok maka di surgalah balasan yang setimpal akan diterima. Tuhan maha tahu special moment yang tepat untuk mengabulkan doa hambanya. Ia maha tahu atas segala cerita hambanya yang terkadang tak sabaran menanti doanya terkabulkan. Menunggu itu berarti sabar. Dan tuhan pasti akan membalas“menunggu” itu dengan buah yang sangat manis, yang tiada tara manisnya. Sedangkan berharap adalah doa. Tuhan adalah penentunya, dan tuhanlah yang memastikannya akan terjadi atau tidak, manusia hanya bisa berdoa dan berdoa. Dengan kata lain, berarti manusia yang bisa berharap kepadanya. Teruslah berharap kepadanya, karena semua harapan berada ditangannya, bukan ditempat yang lain bahkan ia tak akan pernah ada di tangan para penguasa dunia yang hanya sebatas tercipta dari tanah liat yang sering kita injak. Tuhan maha mendengar, tuhan maha mengetahui, ia adalah pemilik dongeng kehidupan ini. Hanya ialah yang maha tahu kapan harapan itu akan berubah menjadi doa dan akhirnya dikabulkan olehnya. Pada akhirnya, manusia hanya bisa menunggu dan berharap dan tuhanlah yang menentukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s