Achintya Holten Nilsen: Jika Memang Benar Kau Bukan Putri Kandung NTB, Perlukah Kami Bangga Dengan Mahkotamu?

Provinsi Nusa Tenggara Barat akhir-akhir ini menjadi salah satu provinsi yang paling banyak disebut. Bagaimana tidak, keelokan dan keindahan alamnya yang sudah semakin matang menyebabkan ia ibarat gadis kecil yang baru tumbuh remaja, montok dan seksi. Keelokan bentang alamnya menyebabkan seluruh mata yang memandang tak mampu berkedip, dunia terhipnotis, gadis remaja yang cantik muncul ke atas permukaan, seluruh isi dunia menjadi geger dibuat olehnya.

Meskipun kecantikannya masih belum menandingi kakak kandungnya Bali, namun kecantikan yang dimiliki Nusa Tenggara Barat tak bisa diragukan lagi, wajahnya yang manis dan elok tidak bisa diremehkan. Perlahan namun pasti, Nusa Tenggara Barat berjalan menuju gerbang kesuksesan yang kelak akan membanggakan seluruh rakyatnya. Siapa pun akan berdecak kagum terhadapnya. Sehingga kelak pemuda dan pemudi nya akan mengatakan “Aku bangga terlahir dari rahim Nusa Tenggara Barat”.

Berbicara mengenai keelokan dan kecantikan, akhir-akhir ini saya rasa anda sudah tahu akan menuju ke mana arah dari tulisan ini. Anda benar, kita akan membicarakan tentang Miss Indonesia yang sudah beberapa hari berlalu-lalang di hadapan kita. Dari 34 provinsi, Nusa Tenggara Barat disebut sebagai peraih juara satu, mengalahkan 33 provinsi lainnya. Bertarung dari 33 gadis cantik nan jelita, segudang prestasi, dan segudang keahlian yang sangat unik, Nusa Tenggara Barat terpilih sebagai provinsi yang terbaik, dan bahkan mendapatkan kepercayaan mewakili Indonesia di kancah internasional. Siapa yang tidak akan bangga? Mendengar nama Nusa Tenggara Barat disebutkan dalam ajang sekelas besutan RCTI kemudian di dengarkan dan disaksikan oleh jutaan penonton di seluruh dunia, hal ini tentunya sangat membanggakan bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Generasi Y dan Z Nusa Tenggara Barat berlomba-lomba untuk menyebarkan berita tersebut, kali ini tindakan mereka benar, ini adalah original new, bukan hoax. Tak jauh dari waktu pengumuman, berita tersebut langsung menyebar ke seluruh sudut penjuru bumi seribu masjid ini. Kecanggihan teknologi saat ini menyebabkan seluruh telinga dan mata rakyat Nusa Tenggara Barat menjadi sangat peka. Berita tersebut seketika ditelan oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat. Untuk sementara waktu mereka sangat senang dan bangga. Ribuan Tweet dan #Hastag menyebar di dunia maya. Hal ini sangat normal sekali, karena orang tua mana yang tidak akan bangga mendengar anak kandungnya sendiri mendapat juara satu di sekolahnya. Untuk sementara masyarakat Nusa Tenggara Barat membusungkan dada. Namun sayang itu hanya berlangsung sementara waktu saja, karena yang terjadi berikutnya sangatlah berbeda.

Kehebatan dunia maya ternyata tak hanya sampai disitu. Kecanggihannya malah mampu hingga menggali informasi seseorang hingga ke akar-akarnya. Dan seketika itu pula identitas sang putri terungkap ke permukaan. Ternyata Achintya Holte Nilsen bukanlah orang asli Nusa Tenggara Barat. Achintya bukan anak kandung Nusa Tenggara Barat. Seketika itu pula, rasa kebangaan yang pernah bersemi langsung berguguran. Rasa bangga yang pernah muncul berbuah 120 derajat menjadi perasaan sedih dan kecewa. Mungkin bukan semuanya, namun sebagian atau mayoritas mengalami hal tersebut.

Mengutip dari berita Tempo, pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat menolak pengukuhan Achintya Holte Nilsen sebagai Miss Indonesia 2017. Menurut Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah provinsi NTB Yusron Hadi, Achintya Nilsen bukan wakil dari Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Provinsi beralasan bahwa penolakan Achintya sebagai Miss Indonesia duta NTB adalah karena beberapa alasan. Pertama, Achintya tidak bermukim di NTB seperti yang dipersyaratkan oleh setiap peserta ajang Miss Indonesia. Kedua, pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat tidak pernah mengetahui proses pemilihan Miss Indonesia tersebut. Ketiga, penyelenggara tidak berkoordinasi langsung dengan pemerintah daerah dalam menyematkan nama NTB kepada yang bersangkutan.

            Sontak setelah pernyataan tersebut muncul, masyarakat Nusa Tenggara Barat menjadi ribut. Hal ini memang sudah saya pribadi prediksi sebelumnya. Achintya bukanlah orang asli Indonesia, namun ia adalah seorang wanita berdarah Bali dan Norwegia. Dan bahkan saya sendiri pun tak yakin apakah ia bisa menguasai bahasa-bahasa yang ada di provinsi Nusa Tenggara Barat. Dan akhirnya karena penasaran dengan hal ini, saya pribadi membaca referensi mengenai tata cara pemilihan Miss Indonesia. Pemilihan Miss Indonesia ternyata tidak dilakukan dengan cara langsung melaksanakan seleksi di masing-masing provinsi. Panitia Miss Indonesia ternyata hanya melakukan seleksi pada kota-kota besar, dan mencari 34 wanita yang sesuai dengan kriteria yang sudah di tetapkan oleh panitia. Ternyata wanita yang lolos seleksi tidak mesti harus di provinsi yang diwakili, namun apabila ada wanita asli dari provinsi tersebut memenuhi kriteria ia dapat terpilih, namun apabila tidak sesuai dengan kehendak panitia, wanita asli daerah tersebut tidak akan dapat terpilih. Ternyata kasus ini terjadi pada Nusa Tenggara Barat. Pada saat seleksi, provisi Nusa Tenggara Barat mengalami kekosongan, yang berarti tidak ada wanita asli Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mewakilinya. Akhirnya panitia memilih gadis non NTB untuk membawa nama Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan dalam kesempatan itu Achintya Nilsen terpilih mewakili provinsi Nusa Tenggara Barat.

            Dari apa yang telah saya paparkan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa merupakan suatu yang hal wajar apabila pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat merasa kecewa dengan acara tersebut. Analogi nya, sepintar-pintar apapun anak orang, kita tetap selalu menginginkan anak kandung kita sendirilah yang berdiri di atas panggung tersebut meskipun ia tak sepintar Achintya Nilsen. Justru Nusa Tenggara Barat lebih bangga hanya masuk 34 besar, hanya sekadar nampang nama, namun yang berdiri di sana adalah putri asli daerah, daripada juara namun bukan putri kandung Nusa Tenggara Barat. Dan hal ini tentunya sangat saya mengerti.

            Namun apabila berusaha berpikiran positif, hal ini tak perlu untuk terlalu dikecewakan terlalu panjang. Niat Achintya sudah sangat mulia, ia dengan sangat tulus ingin mempromosikan provinsi Nusa Tenggara Barat yang saat ini sedang naik daun agar kelak bisa lebih maju dan di kenal dunia. Meskipun tak bisa bangga dengan sepenuh hati, namun setidaknya kita sebagai masyarakat Nusa Tenggara Barat perlu tersenyum karena ada orang lain yang sangat peduli dengan daerah ini dan dengan setulus hati ingin membangun daerah tercinta ini. Semoga provinsi Nusa Tenggara Barat bisa lebih maju dan dikenal oleh kancah internasional. Lantas, jika memang benar Achintya Holten Nilsen bukan putri kandung Nusa Tenggara Barat, masih perlukah kita bangga kepadanya? Itu urusan anda, anda adalah pengemudi mobil anda sendiri. Anda adalah pengendali bagi mobil anda sendiri. Jawabannya ada pada anda sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s