Menengok Kembali Kematian Itu….

Selamat Jalan saudara. Ternyata nomor urut tiket kematianmu lebih dahulu dibandingkan diriku. Selamat jalan sahabat, teruslah berjalan lurus, karena malaikat penjaga surga sudah membuka gerbang surga menyambutmu. Tolong sampaikan juga salamku kepada malaikat maut, tanyakan, nomor urut berpakah tiket kematianku? agar aku bisa bersiap-siap menyambutnya”

***

Pagi itu….

Alarm yang telah ku setting sedemikian rupa ternyata tak membangunkanku dari tidurku yang begitu lelap. Entah kenapa, padahal aku sudah mengaturnya agar bisa bangun dengan on time. Tapi apalah, ternyata rasa ngantuk ku semalam menyebabkanku tak berdaya melawan arus rasa ngantukku yang begitu deras menghanyutkanku kedalam mimpi yang sungguh hingga terbangunpun aku tak ingat dan pahami sama sekali.

kuburan
see you again….

Kusadari, aku memang sempat terbangun pada saat kedua telinga ini mendengarkan kumandang adzan Sholat Subuh. Namun sayang, panggilan suci itu tak menyebabkan kedua telingaku menerima responnya denga refleks, sehingga aku pun terlena denga tidurku yang aku sendiri tak pahami sama sekali. Setan memang begitu pintar menutup kedua telingaku. Aku dikalahkannya dengan sangat mudah. Aku tak kuasa melawannya. Hingga akhirnya aku begitu saja pasrah menyerahkan diri kepadanya. Akupun dibawa kabur olehnya menuju mimpi yang tak jelas. Yang hingga kini masih menjadi teka-teki yang belum mampu aku pecahkan.

***

Selepas pagi, akhirnya akupun terbangun. Mentari belum tampak dari upuk Timur sana. Tumben… karena biasaya ketika aku bangun sang mentari sudah cengar-cengir dihadapanku. Aku sering terkejut olehnya, karena aku belum sholat Subuh. Terkadang aku dibuat kocar-kacir olehnya. Ia ibarat alarm alami. Membangunkan dikala waktunya. Namun terkadang , ia sering membuatku terkejut bukan kepalang. Mungkin itu salah satu cara tuhan untuk menegurku. Refleks saja aku memahami arti dari semua itu.

Setelah bangun dari paraduan tidurku yang begitu indah, ku langsung menggerakkan tanganku ke arah Handphoneku. Kulihat sekilas, Ia OFFLINE. Seperti biasa, setiap malam dikala sedang belajar, aku selalu melakukannya. Agar tak ada yang bisa mengganggu. Namun sayang, rupanya ada informasi penting yang terlewatkan pada malam itu. Yang akhirnya menjadi penyesalan yang tak akan pernah terbakar didalam memori buku telepon kepalaku.

***

Setelah aku resetting ke profil general, tak berselang menit, Handphoneku langsung berdering kencang. Sontak sedikit membuat terkejut. Ada whatsapp dan Short messages. Ku buka satu persatu dimulai dari whatsap, not so imprtant pikirku. Hanya balasan WA yang telat dibalas saja. Whatsapp nari negara sebeerang sana, yang kalau kulihat dari peta SD ku, ia berada diujung yang sangat jauh sana, Jerman. Lalu langsung saja kutekan tombol merah pada Handphoneku. Dan kemudian dilanjutkan ke short messageku. Ada 4 messages yang harus ku baca. Sekilas saja kulihat dari tampilanya, ada kata-kata”Innalillahiwainnailaihirajiun”…. Plekkkkkkkkk….. dada ini langsung berdegup kencang. Siapa kira-kira nama yang ada didalamnya. Langsung saja kubuka agar tak mengundang rasa penasaran yang semakin besar. Dan pleekkkkkk…… “ Lalu Humedi Akbar”……. Apaa?????

***

A thousand questions muncul bertubi-tubi didalam benakku, padahal itu masih pagi buta. Otakku masih tak cukup kuat untuk bepikir, tapi kupaksakan saja. Edi akuntansi ya? Edi poting ya? Edi terara ya? Edi SMANTRA ya? Benarkanhini semua? Aku masih berharap itu adalah mimpi. Karena waktu tidurku masih belum lama aku lepas.

Aku terperanjat… aku tersungkur…. Pikiranku langsung melayang. Seperti habis mengkonsumsi narkoba dan obat-obat sejenisnya. Aku sempoyongan. Gerakan tubuhku seperti diagram batang saham yang tak beraturan. Aku gemetar. Konsentrasi langsung hilang seketika. Pikiranku melayang kearah wajah Edi. Si Edi…. Teman ku sejak SMP hingga sekarang aku menginjak bangku kuliah. Aku sangat akrab dengannya disaat masa SMP. Kami sering main-main saling kejar-kejaran seperti anak kecil. Senyumnya yang manis dan lucu membuatku merasa sangat nyaman bermain dengannya. Ia sungguh lucu dan menyenangkan.

Selepas masa SMP. Kami semua bersama-sama melepas seragam SMP kami . Kami bersama-sama melangkahkan kaki kami menuju gerbang SMA. Aku dan Edi bersekolah satu atap. Bahkan pada saat itu kamipun berada dalam satu kelas. Kami bersama pada saat itu. Seperti biasa, permainan masa-masa SMP belum sirna sepenuhnya. Kami masih sering berlagak gaya anak SMP. Meskipun itu buruk, tapi aku menikmati masi itu. Dan itupun sampai sekarang masih menyisakan bekas yang tak akan pernah aku hapus dari memori ingatanku ini. Apalagi selepas kepergiannya yang begitu cepat, rasnya tak mungkin untuk aku hapus goresan berharga ini.

Namun terkadang ia memang sedikit bandel. Aku tahu betul dia, meskipun tak seutuhnya. Kebiasaan buruk yang tak ku sukai darinya adalah ia sering ngebut-ngebutan dijalan. Entahlah hingga sekarang aku tak tahu alasannya mengapa ia begitu menyukai kegiatan itu. Terkadang aku marah kepadanya.” Mau cari sensasi ya? Atau sudah bosen idup?”… dan tanggapannya seperti biasa. Aku pun diacuhkan olehnya. terkadang aku dongkol dengannya. Ia keras kepala….. Namun apapun dalilnya, kekesalanku kepadanya tak pernah lama. Ia pandai menghibur. Hiburannya sungguh lebih besar daripada kesalahnya. Ia sungguh luar biasa. Sahabat yang luar biasa. Akupun tak pernah bisa menyimpan goresan luka didalam hati, karena selepas itu, langsung saja dihapuskan olehnya dengan sangat cepat. Oh… luar biasa dirimu Bet.

           Namun kini… Ia telah tiada. Kata teman-temanku ia tabrakan. Aku lemas tak terkira. Tak bisa aku menahan perasaan ini. Begitu cepat tuhan memanggilnya. Ini seperti tak nyata. Ini seperti mimpi tidurku. Aku berharap ia masih dalam mimpi tidurku. Namun sayang, tetesan air hujan yang deras dari semalam menetes merambat kedalam jendela kamarku dan menyadarkanku tentang kejadian yang sesungguhnya terjadi.

Good bye Edi Bet. Doa kami akan selalu menyertaimu. Kami mencintaimu. Tuhan….. kami titip dia kepadamu. Tolong tempatkan ia di surgamu yang indah. Surga adalah tempat yang cocok untuk seorang sahabat yang dicintai oleh banyak orang. Kami mencintaimu Edi….. Semoga bayangan indahmu akan selalu mengintip kami diatas surga sana. Kami mencintaimu selamanya. Selamat jalan……….

***

Advertisements